|
|
|
| Wawancara Der Spiegel dengan Presiden Gus Dur
‘Hidup Soeharto Tak Lama Lagi’(Dalam bahasa Jerman) Reporter: Ananda Ismail detikcom - Jakarta, Majalah mingguan Jerman Der Spiegel dalam edisi
24 Januari 2000 menurunkan wawancara eksklusif dengan presiden Gus Dur.
Presiden Gus Dur bertutur tentang banyak hal, termasuk nasib mantan presiden
Soeharto. "Soeharto hidup tak lama lagi," tukas Gus Dur.
Berikut petikan lengkap wawancaranya :
Wahid : Kecemasan pemerintah Amerika tersebut dapat saya mengerti.
Der Spiegel : Bahwasanya pada pekan yang lalu juga di pulau turis Lombok, dekat Bali, gereja-gereja mulai dibakari, adalah suatu hal yang tidak menenangkan. Sebagaimana terjadi ketika berpisahnya Timor Timur, tampaknya api akan menjadi meluas. Apa akan terjadi keruntuhan Indonesia ? Wahid : Tidak, yang kami alami adalah hanya tantangan dari beberapa orang-orang yang berhasrat ingin memerintah, tapi tak kami ijinkan, karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu. Der Spiegel : Sedemikian banyaknya pemberontakan dan kerusuhan-kerusuhan berdarah yang terjadi, tampaknya militer Indonesialah yang bertanggungjawab ? Wahid : Tentu saja di belakangnya ada jendral-jendral. Hal itu tak pernah saya sangkal, tetapi mereka bukan militer dalam arti institusi. Der Spiegel : Bukankah dalang-dalang tersebut bukan hanya membahayakan stabilitas Indonesia, tapi juga membahayakan seluruh kawasan ? Wahid : Telah saya katakan kepada Panglima TNI agar memecat seorang perwira-tinggi militer dan empat lainnya perwira-perwira resimen, dan juga ada dua orang mantan jenderal yang telah saya batasi. Der Spiegel : Militer dan milisi hanyalah sebagian dari masalah-masalah.
Wahid : Banyaknya pelaku kerusuhan hanya terbatas jumlahnya. Misalnya di Ambon, di Kepulauan Maluku, umat Kristen dan Islam pada umumnya hidup harmonis bersama. Mereka diadu domba oleh provokator-provokator. Selang beberapa lama, hal tersebut diketahui juga oleh orang banyak. Der Spiegel : Berarti Anda tidak menganggap adanya bentrokan-bentrokan
antar kultur ?
Der Spiegel : Saat ini, di banyak desa-desa di pulau Jawa terdapat tempat-tempat merekrut para relawan yang dipancing dengan slogan-slogan yang menyerukan pergi berjihad ke Maluku. Apakah perkembangan yang demikian itu tidak berbahaya untuk masa depan Indonesia ? Wahid: Seandainya di sana benar-benar relawan direkrut, itu hanya dengan menggunakan propaganda kotor. Kami menginformasikan kepada semua orang melalui berbagai saluran, bahwa situasi pada saat ini tidak kritis. Sesungguhnyalah bahwa sebagian besar kaum Kristen dan Islam di Ambon telah bersama-sama merayakan Hari Natal dan Hari Raya Idul Fitri, berakhirnya bulan puasa Ramadhan. Der Spiegel : Dalam pada itu, hanya dalam waktu setahun saja sudah lebih dari 2000 orang tewas, apakah itu karena meningkatnya fundamentalisme ? Wahid : Memang sangat disesalkan bahwa tidak selalu dapat kami hindarkan
jatuhnya korban-korban. Kaum radikal tersebut mengganas kadang-kadang di
sini, lantas di sana, dan kami tak bisa mengetahui di mana berikutnya.
Namun, Anda boleh percaya akan kami bereskan tak lama lagi. Ini semua hanya
geleparan-geleparan terakhir, saya tidak perlu khawatir.
Der Spiegel : Indonesia sedang dalam perjalanan menuju era baru yang demokratis. Bagaimana bentuk rencana Anda tentang masa depan Indonesia ? Wahid : Planning untuk itu tentu tidak berasal dari saya saja. Ditetapkan sesuai dengan kebutuhan untuk mempertahankan demokrasi. Poin yang lebih penting adalah menjamin penegakan hukum. Selanjutnya, tanggungjawab pemerintah terhadap rakyat harus jelas sejelas-jelasnya. Bagi setiap penduduk harus dijamin kesamaan, tidak dibedakan agama, kebudayaan, kekhususan dan keyakinan berdasar etnis ataupun politisnya. Ditambah pula dengan hak untuk mengeluarkan pendapat. Der Spiegel : Justru nilai-nilai tersebut tadilah selama ini tidak baik penampilannya ? Wahid : Sayalah satu-satunya pemimpin Muslim yang menolak seruan hukuman-mati oleh Ayatollah Khomeini terhadap Salman Rushdie. Rushdie berhak mempublikasikan ide-ide dan literaturnya, meskipun buku-buku dia tak saya sukai. Ketika pernyataan tersebut saya kemukakan di depan umum, saya tidak pernah lagi diundang oleh kedutaan Iran, namun itu saya anggap tak masalah. Kami negeri besar, nasion besar, kami tidak mengijinkan siapapun juga untuk mengkomando kami. Der Spiegel : Apakah Anda tidak takut betapa perubahan tiba-tiba ke arah demokratisasi berakibat runtuhnya kesatuan Indonesia, sebagaimana terjadi di Uni Sovyet ? Wahid : Contohnya Rusia sekarang, Uni Sovyet telah memaksa manusia-manusia
hidup di dalam satu negara, di luar kehendak mereka. Berbeda dengan
Indonesia. Di Indonesia terdapat kebutuhan yang nyata untuk hidup di dalam
satu nasion, sebagai satu bangsa, dengan suatu falsafah kenegaraan bersama.
Pendiri negeri ini, Sukarno, telah dengan tepat mengetahuinya.
Der Spiegel : Banyak orang mengharapkan bahwa Anda memerintahkan membuka proses terhadap klan Suharto atas tuduhan kejahatan ekonomi dan korupsi. Jika tidak, demikian kabarnya, Anda akan cepat kehilangan kepercayaan ? Wahid: Kedua-duanya mantan presiden, Habibie dan Suharto, seharusnya tidak akan digugat oleh pemerintah kami yang baru dipilih secara bebas ini. Tapi ini sekali-kali tidak berlaku terhadap keluarga-keluarga mereka. Der Spiegel : Jadi Anda tak akan menuntut maupun menghukum Suharto, meski konon kabarnya dia telah berhasil menyisihkan bermilyar-milyar. Wahid : Tentu saja dia harus dihadapkan ke pengadilan. Telah saya instruksikan kepada Jaksa Agung. Tapi setelah dia dinyatakan bersalah, akan saya beri pengampunan. Untuk itu kami berhak kuasa. Tetapi hanya Suharto dan Habibie yang akan saya beri amnesti, klan mereka sama sekali tidak. Der Spiegel : Itu malah tidak konsekuen ? Wahid : Sebagai nasion yang masih muda, kami seharusnya menunjukkan respek terhadap kepala negara - kepala negara yang terdahulu. Dalam hal yang menyangkut Suharto, masalahnya hanya tinggal persoalan biologis saja, dia sudah tak akan lama hidup. Der Spiegel : Apa usaha Anda agar uang yang diambil itu bisa mengalir kembali untuk Indonesia ? Wahid : Anda ambillah contoh dengan Filipina dan Iran. Di sana terhadap bekas kepala negaranya juga dituduhkan hal yang serupa. Apa yang terjadi ? Apakah uang itu kembali ? Tidak. Saya berpendapat bahwa lebih baik berunding dengan keluarga-keluarganya Habibie dan Suharto. Itu adalah satu-satunya chance yang realistis untuk berhasilnya pengembalian uang tersebut. Proses-proses pengadilan tak akan menghasilkan apa-apa, hanya akan menguntungkan bank-bank internasional. Mereka akan memindah-mindahkan uang itu ke sana ke mari, lantas dibelanjakan, di-investasikan. Gila. Der Spiegel : Pada era Soeharto telah terjadi tak terhitung banyaknya pelanggaran-pelanggaran HAM, juga di saat pemerintahan Habibie di Timor Timur. Beranikan Anda membawa petinggi-petinggi militer yang bersangkutan ke pengadilan ? Wahid : Anda tak usah kuatir. Itu akan terjadi. Der Spiegel : Juga mantan Panglima TNI dan sekarang Menteri urusan Politik dan Keamanan, Jendral Wiranto, tangan kanannya kedua pendahulu-pendahulu Anda ? Wahid : Tidak. Jika Komisi HAM memutuskan bahwa Wiranto bersalah atas kejadian-kejadian di Timor Timur itu, dan dia sendiri bersedia bertanggungjawab, maka saya akan meminta agar dia mengundurkan diri, tapi tak akan dihukum. Ini tak berlaku untuk yang lain-lainnya. Saya berprinsip bahwa kami menghormati institusi-institusi, sedangkan individu-individu boleh dihukum. Wiranto melambangkan institusi militer. Der Spiegel : Hampir semua negara-negara di kawasan ini tampaknya sudah terbebas dari krisis Asia baru-baru ini, hanya Indonesia saja yang masih terus dalam keadaan merangkak. Usaha apa yang harus dilaksanakan untuk menggalakkan kembali perekonomian Indonesia ? Wahid : Pemerintah-pemerintah lainnya di Asia ini sungguh-sungguh berusaha untuk kebaikan negeri dan masyarakat mereka. Sebaliknya penguasa-penguasa kami yang lalu, cuma punya satu perhatian yaitu menumpuk kekayaan pribadi. Mereka membuat kesalahan-kesalahan di bidang ekonomi, di mana-mana tersebar luas KKN. Der Spiegel : Sampai saat ini apa-apa saja yang telah diperbaiki oleh pemerintahan Anda ? Wahid : Kami harus menegakkan kembali hal-hal yang dasar. Kami harus
mewajibkan berlakunya prinsip-prinsip persaingan, pasaran bebas, perdagangan
internasional yang bebas. Kami menghendaki diperbaikinya standar hidup
bagi segenap penduduk, paling tidak agar mayoritas orang yang bekerja memperoleh
pendapatan yang layak.
Der Spiegel : Indonesia kaya akan bahan-bahan tambang, misalnya emas dan minyak bumi, tapi membutuhkan modal dari luar negeri. Apa yang harus dilakukan? Wahid : Kami menawarkan pelbagai keringanan-keringanan. Itulah sebabnya
mengapa barusan ini Perdana Menteri Singapura Goh Chok Tong, dalam kunjungan
kenegaraan, berjanji bahwa orang-orang dari negerinya akan pertama-tama
masuk sebagai investor-investor di Indonesia.
Der Spiegel : Anda dikritik, dikatakan terlalu banyak melakukan perjalanan ke luar negeri, bukannya mengurus perekonomian di dalam negeri ? Wahid : Buat apa Menteri Perekonomian yang tidak mengurus investasi-investasi ? Saya mengadakan kunjungan-kunjungan kenegaraan itu karena saya menjelaskan bahwa kami mengharapkan dukungan terhadap integritas teritorial negeri kami, dan juga memberi semangat kepada para investor di luar negeri agar masuk ke Indonesia. Mengkritik usaha demikian itu adalah menunjukkan sikap yang tidak pedulian. Der Spiegel : Juga orang meragukan bahwa Wakil Presiden Anda, Megawati Sukarnoputri tak akan mampu memerintah di saat-saat Anda sedang tidak ada. Bahkan pernah Anda sendiri menyebutnya sebagai „Nol politis" ? Wahid : Tentu saja dia mampu melaksanakan jabatan itu ! Dia memiliki kepribadian yang tenang, di Kabinet dia hanya berbicara jika saya minta. Selanjutnya masalahnya dia tangani dengan cara yang mengagumkan. Dia mengarahkan diskusi ke temanya, dan kadang-kadang memperingatkan saya jika saya lalai. Problemnya adalah dia diam karena berpikir dalam, sedangkan wartawan-wartawan kami tidak sabaran. Namun rakyat, mereka mencintai Megawati. Der Spiegel : Indonesia telah memperoleh kredit sebesar 40 milyar dari IMF untuk bantuan pembangunan. Bagaimana dengan persyaratan-persyaratan yang dikaitkan ? Wahid : Persyaratan-persyaratan untuk pasaran bebas dan persaingan yang fair harus kami jamin tanpa ditunda-tunda, selain itu diminta penghentian subsidi dari pemerintah. Namun, jika kami tiba-tiba tidak diperbolehkan menopang harga-harga beras dan minyak makan, maka itu seolah berarti langsung bunuh diri. Hal ini sudah saya terangkan kepada IMF, mereka memberikan batas waktu selama tiga tahun untuk masa transisi. Der Spiegel : Ide Anda tentang Zona Perdagangan Bebas di Pulau Batam, pada mulanya tidak disetujui oleh IMF ? Wahid : Zona seperti itu bukanlah untuk menantang Singapura, melainkan juga untuk dimanfaatkan oleh negara tetangga tersebut. Hanya di Batam saja kami bisa mengijinkan 90.000 kemungkinan-kemungkinan investasi bagi pengusaha-pengusaha Singapura. Dan itu berarti lebih dari setengah juta lowongan kerja untuk orang-orang Indonesia. Der Spiegel : Apakah yang Anda harapkan dari perjalanan ke Eropa sebentar lagi ? Wahid : Sangat sederhana saja, lebih banyak investasi dan lebih banyak
bantuan untuk pembangunan.
Wahid : Tentu saja. Pada tahun 1970, saya tinggal di kota Köln
selama tiga bulan, di Jülicher Straße. Saya keras dipengaruhi
oleh kesusasteraan Jerman. Telah saya baca bukunya Heinrich Böll:„Gruppenbild
mit Dame", Hermann Hess: „Siddharta" dan tak terlupakan: karya-karyanya
Günter Grass.
Der Spiegel : Apa saja yang Anda pernah lakukan di Köln ? Wahid : Menunggu diterima masuk ke Universitas Jerman. Tapi saya empat kali tidak lulus ujian masuk, lantas saya memutuskan untuk berangkat meninggalkan Jerman. Der Spiegel : Selain kesusasteraan Jerman, apa lagi yang menarik perhatian Anda ? Wahid : Musik klasik. Barangkali di seluruh Asia Tenggara ini, sayalah pemilik kumpulan terbesar dari Simfoni Kesembilannya Beethoven, 23 atau 24 rekaman. Der Spiegel : Anda sekarang sudah hampir 100 hari dalam jabatan. Ketika sebelum Anda menduduki jabatan ini, pernah Anda berkata, bahwa Anda sebenarnya lebih senang mengumpulkan lelucon-lelucon yang terbaik dari seluruh dunia. Apakah Anda masih bisa diajak berkelakar ? Wahid : Tentu saja. Der Spiegel : Sekarang ini apa lelucon yang Anda paling sukai ? Wahid : Tiga orang spion-spion atom - satu orang Jepang, satu orang
Perancis dan satu orang Amerika - sebelum menjalani hukuman mati diijinkan
menyebut satu permintaan terakhir. „Saya melakukan itu untuk Perancis",
kata si orang Perancis, „maka dari itu saya minta diputarkan lagu Marseillaise".
Der Spiegel : Mr.President, kami mengucapkan terimakasih atas pembicaraan
ini.
|