| Teknik Mengakali Armada Bekas
Teknologi kapal perang eks Jerman Timur dianggap kuno, tak sesuai dengan kondisi perairan Nusantara. Para teknisi bekerja keras memodifikasi. Namanya saja kapal rongsokan. Maka, jangan kaget jika kondisi deknya mirip tempat sampah. Kardus dan plastik bekas berserakan. Dibutuhkan waktu berhari-hari untuk membersihkan barang buangan itu agar kapal sedap dipandang. "Sungguh mengharukan," ujar salah seorang anggota tim dari Jakarta saat pertama kali "menjenguk" armada kapal perang bekas di dok Peneemunde, Wolgast, Jerman Timur, pada 1992 lalu. Salah satu jenis kapal, condor, bahkan hampir saja di-scrapping, dipotong-potong untuk dijadikan besi tua. Badan kapal rusak berat, berkarat. Mesin mati. Sewaktu meninjau, Kepala Staf Angkatan Laut (saat itu) Laksamana Tanto Koeswanto sempat bergurau, memperingatkan anak buahnya agar jangan sampai tergores besi kapal yang berkarat. "Awas, nanti kau kena tetanus," ujar Tanto, berseloroh. Padahal, kapal-kapal ini bakal menggantikan 42 kapal perang TNI Angkatan Laut (dari 98 armada) yang sudah uzur. Badan kapal lalu dipermak, diperbaiki, dan disesuaikan dengan kondisi "lokal". Semula, memang kapal dirancang untuk beroperasi di kawasan Baltik yang dingin dan berudara kering. Maka, alat penjejuk ruangan (AC) tidak diperlukan. Yang tersedia justru penghangat. Sedangkan di perairan Indonesia yang beriklim tropis, AC menjadi keharusan. Apalagi, ada dapur yang siap menyajikan masakan selera Nusantara yang pedas-pedas. Gudang persediaan makanan juga diperbesar agar awak kapal tak kelaparan selama operasi. Daya jelajah kapal juga terbatas. Seorang perwira menengah Angkatan Laut, anggota satgas perbaikan, menjelaskan bahwa kapal itu sebenarnya tidak cocok dengan kondisi di perairan Nusantara yang punya 17 ribu pulau. Karena, kapal-kapal eks Jerman Timur itu cuma tahan melaut tiga sampai lima hari--disesuaikan untuk melawan NATO di Laut Baltik. Idealnya, kapal sanggup berlayar satu sampai dua minggu, tanpa buang sauh. Akibatnya, sementara ini kapal tipe parchim dioperasikan semampunya: tiga hari berlayar dengan sistem lego jangkar. Kapal tidak bergerak dan baru mengejar kalau ada ancaman. Tangki bahan bakar dan mesin ikut pula dirombak. Teknisi di dok Peenewerft menyulap sejumlah tangki ballast--yang berisi air untuk menegakkan dan menyeimbangkan kapal--menjadi tangki bahan bakar tambahan sehingga cukup untuk jarak jelajah jauh. Urusan mesin? Gampang. Itu dapat diganti dengan motor pokok Caterpillar--seharga US$ 500 ribu--sehingga kapal seperti baru kembali. Dengan mesin ini, daya jelajah bisa digenjot dari dua hari menjadi tujuh hari. Kapal bisa ngebut dengan kecepatan 22 knot. Motor ini bisa menghemat bahan bakar separuh dari rata-rata 33 ribu liter saban harinya. Sayang, tak tersedia dana untuk membeli mesin andalan itu. Akhirnya,
turun mesin saja sudah cukup. Selama tiga tahun "menganggur", kapal belum
pernah overhaul. Maka, jangan heran bila mendengar pengakuan para komandan
kapal di Armada Kawasan Barat (Armabar) Tanjungpriok, Jakarta. Mereka tidak
berani memacu kapal dalam kecepatan maksimum, khawatir mesinnya ngadat.
Untuk jenis condor, bikinan tahun 1970-an, mereka cuma berani tancap gas
sampai 10 knot dari kecepatan maksimum 14 knot. "Itu pun pelan-pelan, tidak
bisa langsung," kata Mayor Laut (P) Edi S., Komandan KRI Teluk Rote, kepada
TEMPO.
Alat komunikasi juga bikin masalah. Mayor Angkatan Laut (P) Budi Utomo,
yang pernah mengomandani KRI Rempang, punya cerita lucu. Setelah enam bulan
kapal tiba di Indonesia, enam peti cetak biru kapal pun akhirnya diterima.
Namun, kemudian mereka bengong: seluruhnya tertulis dalam bahasa Rusia.
Walhasil, jurus "awang-awang" pun dipakai. Mereka berusaha sebisanya "membaca"
cuma dari gambar dan skema. Suatu saat, ketika mencoba memperbaiki radio
dan morse kapal, para awak kapal bingung lagi. Soalnya, kalau panel tutsnya
ditekan, yang keluar aksara Rusia. Kini, untung saja, radio, morse dan
buku petunjuknya sudah diganti baru. Tak ada lagi yang memakai transistor
tabung khas armada Blok Timur.
Namun, menurut mantan KSAL Arief Koesharjadi, sekarang radar sudah diganti
dengan Racal Deca, radar tercanggih di kelasnya. Ada meriam MR 025, senjata
ampuh kaliber 30 dan 57 milimeter antiserangan udara, torpedo, dan roket
bom udara. Parchim dan frosch bahkan dilengkapi dengan 5.000 ton amunisi--meski
dipreteli, tapi bisa dibawa ke Tanah Air. Ini cukup untuk lima tahun, termasuk
1.550 biji peluru kendali SAM V Strella yang sangat canggih.
Tak hanya itu hebatnya. Selain mutu pelat bajanya oke, kapal blok timur dikenal unggul dalam kecepatan. Jenis kapal pendarat landing ship tank kelas frosch bisa berlari 18 knot, termasuk yang tercepat di dunia. Si pemburu kapal selam bermesin diesel dua buah ini bisa melaju 25 knot. Artinya, dua kali lebih cepat dari kapal selam tak bertenaga nuklir, yang rata-rata berenang dengan kecepatan 10 knot saat di pemukaan dan 17 knot saat menyelam. Menurut Janes’s Fighting Ship 1993-1994, AL punya parchim tiga biji, dengan tiga diesel yang bisa ngebut 28 knot. Persoalan terakhir menyangkut suku cadang. Untuk sekadar mengubah urutan nomornya dari model Pakta Warsawa menjadi standar "Barat" alias NATO, yang selama ini dijadikan acuan AL, itu bukan soal. Tapi, kenyatannya, banyak onderdil yang susah didapat. Akibatnya, beberapa jenis parchim yang rusak terpaksa diperbaiki nun jauh di sana, di Kiev, Ukraina, karena pabriknya di Jerman Timur sudah tutup. Sialnya, cuma di pabrik di Kiev itulah perbaikan bisa dilakukan. Itu tak menjadi soal bagi Laksamana Madya (Purn.) Abu Hartono, mantan ketua Fraksi ABRI di DPR yang pernah bereaksi keras atas menggelembungnya anggaran proyek kapal ini. "Ibarat mobil, setelah jalan sekian kilometer harus masuk bengkel, dan itu bukan berarti karena rusak," kata Abu. Ia malah memuji: meski butuh biaya perawatan tambahan, toh kapal bisa beroperasi dengan baik untuk mencari reruntuhan pesawat, kegiatan SAR, patroli, dan mengangkut beras.
|
|