Kekejaman & kekerasan struktural di era Soeharto(5/9)
Received on Wed Aug 12 09:32:22 MET DST 1998
Suara INDEPENDEN, No 11/III/September 1997
TOPIK UTAMA
Dr. Hermawan Sulistyo, penulis "The Forgotten Years":
"TAK ADA KONSEP SERAGAM DALAM PEMBUNUHAN MASSAL '65"
Ia tolak anggapan, bahwa pembunuhan massal tahun 1965-1966 di Jawa Timur
dilakukan secara sistematis oleh tentara saja. Dalam "The Forgotten Years",
desertasi yang baru diselesaikannya di Arizona State, Amerika Serikat,
ia kemukakan sejumlah faktor penyebab yang saling tumpang-tindih. Yang
ingin ia katakan, persoalan itu tidaklah sesederhana konflik antara tentara
dengan PKI. Sebab, "tentara yang ada di Jawa Timur itu tentara yang semuanya
PKI." Kiranya harus diakui bahwa tragedi itu, dalam banyak hal disebabkan
pertentangan sesama masyarakat sendiri. Benar bahwa di Jawa Tengah, pembantaian
itu sepenuhnya adalah operasi militer, tapi di Bali dan Jawa Timur, sungguh
berbeda. Khusus Jawa Timur, konflik sosial-politik yang terjadi sudah berkepanjangan.
"Selama satu dekade penuh, orang bertarung tiap hari, wajar saja kalau
bunuh-bunuhan," ujar mantan dosen Unas yang perlu 13 tahun mengumpulkan
data untuk desertasinya. G30S baginya, hanya menjadi satu faktor pemicu
pembantaian itu. Ia juga menjelaskan mengapa PKI sebagai partai besar bisa
dengan mudah kalah. Ikuti selengkapnya, wawancaranya dengan Suara INDEPENDEN:
-----------------------------
* Apa yang membedakan hasil penelitian Anda tentang pembunuhan massal
'65 dengan yang selama ini diyakini secara umum?
** Selama ini, hanya ada dua versi mengenai pembunuhan-pembunuhan massal
'65. Pertama, versi mereka yang menang; bahwa PKI itu jahat. Oleh
karena itu pembunuhan-pembunuhan itu dibenarkan. Bahkan, dipuji sebagai
langkah penyelamatan bangsa. Kedua,versi sebaliknya; bahwa pembunuhan
adalah tindakan sistematik yang dilakukan oleh negara yang diwakili tentara
pada kelompok yang memiliki hak hukum sah, yaitu PKI. Nah, kita tidak punya
versi alternatif selain dari dua ini. Karena dalam proses pembentukan ingatan
kolektif bangsa ini, kita dibiasakan menerima tanpa ada pertanyaan lagi.
Padahal, fakta sejarah itu ditafsirkan untuk kepentingan masing-masing.
Ternyata, tidak sesederhana itu.
Misalnya, tentang asumsi bahwa semua tentara adalah lawan PKI. Kasus
yang saya temukan di Jawa Timur, ternyata, tentara yang ada semuanya PKI.
Pada Pemilu tahun 1955, di beberapa batalyon, PKI menang. Tentara kan banyak
yang bersimpati pada PKI.
* Apa lagi yang Anda temukan?
** Bahwa tak ada satu konsep yang seragam, atau cetak biru, yang bisa
dikenakan secara nasional pada pembunuhan massal '65. Studi di Jawa Tengah
menunjukkan, (pembantaian itu dilakukan melalui) operasi militer, penuh.
Tentara masuk, lalu perang lawan orang yang kalah. Di Bali,
operasi militer ditambah konflik lokal. Di Jawa Timur, mayoritas disebabkan
oleh konflik sosial-politik berkepanjangan, yang sudah bertahun-tahun.
Satu dekade penuh, orang bertarung tiap hari. Wajar saja kalau bunuh-bunuhan.
Ketanpa-adaan blue print ini yang membedakan kasus di Indonesia dengan
genosida di Kamboja.
* Di Jawa Timur, kelompok mana yang saling konflik dan apa penyebabnya?
** Antara buruh-buruh yang afiliasinya PKI dengan petani-petani yang
afiliasinya NU.
Sebabnya: perbedaan afiliasi politik yang tumpah-tindih dengan orientasi
kultural, dan dengan kepentingan ekonomi. Tumpang-tindih lagi dengan lifestyle.
Ini terasa sekali, karena seluruh kawasan perkebunan di sana punya ciri-ciri
wilayah perambahan, frontier area. Misalnya, pabrik-pabrik gula dan kantong-kantong
persentuhan industri dan agraria. Suatu wilayah baru yang terbuka, yang
biasanya diasosiasikan dengan sifat-sifat sekuler.
Ini wilayah yang secara kultural, potensial konfrontatif.
Satu lagi sebab penting: retorika politik di tingkat nasional, diterjemahkan
secara harafiah oleh massa politik. Di berbagai koran partai, Harian Rakyat
milik PKI, koran NU dan koran-koran daerah, ditulis ketua partai menyebut
"ganyang". "Ganyang" itu diterjemahkan harafiah di tingkat bawah, berarti
"bunuh". Dan pembunuhan itu terjadi hampir tiap minggu. Bukan pasca '65
saja. Dari tahun lima puluhan, sudah ada. Semua pelaku yang saya wawancarai
bilang, "Biasa saja kalau mati dua puluh, tiga puluh..."
* Adakah konflik agama juga menjadi sebab?
** Sama sekali bukan. Karena PKI-nya banyak orang Islam juga. Para korban,
banyak yang sebelum dibunuh, minta shalat dulu. Habis sembahyang disembelih.
* Bagaimana dengan pertentangan kelas?
** Saya melihat, ada kesalahan PKI dalam menganalisis massa pedesaan.
Konsep Marxisme itu kan pertentangan kelas. Dengan kacamata yang tajam,
dan gampang dilihat, ada konflik kelas antara petani dan tuan tanah, dan
sebagainya. Itu diambil mentah-mentah. Kemudian dijadikan dasar strategi
kampanye nasional. Nah, studi saya menunjukkan, yang terjadi sebaliknya.
Ketika kampanye dimulai, terutama dengan adanya UUPA (Undang-undang Pokok
Agraria) tahun 1960 dan UUPBH (Undang-undang Pokok Bagi Hasil) tahun yang
sama, yang terjadi konflik pada lapisan yang sama. Antara buruh pabrik
gula dan kelas petani yang orientasinya pesantren. Sama-sama bukan pemilik
modal. Dan terjadinya, bukan antara buruh yang
unskilled, tapi buruh kelas menengah yang paling aktif. Serikat Buruh
Gula yang berorientasi ke PKI, semua aktifisnya di level menengah. Buruh
semi-skilled, setengah berkeahlian. Lawan mereka adalah petani-petani kelas
menengah.
* Konflik itu bisa demikian tajam, apakah mereka saling merugikan?
** Ada beberapa kasus. Misalnya, dengan UUPA, ada pembagian tanah.
Padahal, kepemilikan tanah itu, sulit dibedakan antara kepemilikan
pribadi kyai dengan kepemilikan pesantren sebagai institusi. Itu, salah
satu faktor yang membuat marah para kyai.
* Apakah mereka juga tertindas secara ekonomi?
** Kalau berbicara tentang deprivasi ekonomi -teori yang menganggap
sumber utama konflik semacam itu adalah ketertindasan ekonomi dan alienasi
ekonomi-, studi saya menemukan yang sebaliknya. Makin miskin, makin mereka
tidak ikut. Yang ikut, justru mereka yang secara ekonomi relatif survive,
kelas menengahnya.
* Siapa yang paling banyak jadi korban?
** Yang berafiliasi dengan PKI. Umumnya kalau aktif, tidak bawa bendera
PKI. Tapi, onderbouw-nya. Misalnya, Serikat Buruh Gula dan Pemuda Rakyat.
Buruh ini ada juga yang bukan anggota PKI. Tapi, karena secara organisatoris
di bawah naungan PKI, jadi korban juga.
* Mengapa PKI paling banyak jadi korban?
** PKI, meskipun secara nasional disiapkan menjadi partai pelopor yang
militan, dalam prakteknya tidak siap bertarung. Mereka tidak pernah dilatih
tentara, bergerilya atau erang-perangan. Apalagi dipersenjatai. Jadi, ketika
konflik memuncak, mereka tidak siap.
* Yang paling banyak mengeksekusi?
** Istilah saya vigilante group, kelompok kewaspadaan - dalam tanda
petik. Bukan juga Ansor. Kyai Mahrus dari NU, salah satu yang paling berpengaruh
di Kediri, sempat bilang, "Jangan diteruskan bunuh-bunuhan ini." Tapi,
perintahnya nggak diikuti. Vigilante group ini, pemuda-pemuda yang sebelumnya
sudah bertarung. Mereka gabungan dari macam-macam kelompok. Operasinya
pun jangan dibayangkan sistematis. Kadang-kadang, 3 orang pergi nangkep
10 orang. Diikat dan dibunuh. Senjatanya seadanya saja. Pentungan, clurit,
pacul...
* Daerah mana saja yang Anda teliti?
** Sekitar Kabupaten Jombang dan Kediri, yang tertinggi intensitasnya.
Perhitungan saya di Jombang, korbannya sekitar 5000-an. Kediri, 13.000-an.
Saya dapatkan dari jumlah desanya, sekitar 300-an. Tiap desa, aktifis PKI-nya
25 sampai 40. Jadi, satu kabupaten bisa dapat angka antara 8000 sampai
13.000. Dan, bila daerah yang intensitas konfliknya tertinggi saja jumlah
korbannya seperti itu, saya kira secara nasional, jumlahnya sekitar 400.000.
Mereka bilang, maksimal membunuh 40 orang, "Itu sudah kami habisi."
* Peristiwa 30 September apakah juga memicu?
** Betul, sebagai faktor pemicu. Karena peristiwa di Jakarta itu, mengubah
keseimbangan lokal, dan membuat orang melakukan serangan mendadak, pre-emptive
strike. Penjelasannya begini: Sebelum 30 September ada keseimbangan nasional
yang diciptakan Bung Karno (keseimbangan
antara Angkatan Darat dengan PKI-red.). Setelah peristiwa itu, terjadi
kevakuman hingga 5 Oktober. Usai penguburan jenderal-jenderal itu, terjadi
titik balik. Di level nasional, keseimbangan mulai bergeser ke "kanan"
(tentara). PKI yang di level bawah tak disiapkan untuk bertarung, hanya
menunggu. Nah, saat itulah, lawan-lawannya melakukan serangan lebih dulu.
Di Kediri, tanggal 13 Oktober. Tapi, konflik ini sama sekali bukan baru.
Musuhnya pun musuh lama. Ibarat kita sedang berantem, tiba-tiba dihentikan
karena ada kejadian di luar ring. Semua menunggu. Begitu terjadi perubahan
keseimbangan di pusat, PKI digebug duluan. Karena menunggu, ya tidak siap.
Habis. Kata pengurus PKI itu, "Lho kami ini 'nunggu, dan nggak ada
perintah. Kalau kami diperintah berantem ya berantem."
* Lawan-lawan PKI di situ merasa menang secara moril, begitu tahu perubahan
keseimbangan di pusat?
** Nggak juga. Ketika pertama, NU, Masyumi dan sebagainya menyerang,
mereka sendiri juga tidak yakin menang. Karena melihat kekuatan PKI sebelumnya.
Kodimnya saja takut. Tentaranya kan juga banyak yang PKI.
Batalyon Ronggolawe dan Madiun itu, PKI-nya menang (dalam pemilu 1955).
Tentara waktu itu berpolitik, punya afiliasi politik.
* Apa hikmah kejadian ini untuk konteks sekarang?
** Bahwa penyelesaian politik dengan kekerasan itu harganya mahal sekali.
Lalu, meskipun bentuknya luka-luka, ini adalah bagian dari sejarah kita.
Bicara tentang 400.000 korban, artinya kita bicara juga tentang jutaan
orang yang membuat ada korban. Bila sudah jutaan orang, itu bukan sekedar
persoalan pemerintah dengan masyarakat. Tak sesederhana state versus society.
Ini persoalan bangsa yang lebih kompleks, luka-luka bangsa yang dalam sekali,
dan belum selesai.
Peristiwa ini sampai ke tingkat tertentu, harus tetap dibuka dan dipelajari.
Kalau tidak kita tak akan pernah belajar. Dengan mudah, orang bisa dicap
PKI. PKI kan partai sah waktu itu. Hanya saja, mereka kalah dalam percaturan
politik. Seandainya PKI menang, sejarah yang sekarang akan lain.
Replies: siar@mole.gn.apc.org
<bersambung
|