| (Soeharto terhadap ABRI menjelang SU MPR)
Bagian 2 dari 2 tulisan Pertanyaan yang dalam hal ini sangat mendesak untuk diajukan adalah,
kalau Harmoko menjabat Ketua DPR/MPR mampu kah ia mengamankan Sidang Umum
MPR 1998 yang menyangkut tiga perkara tadi? Dengan kata lain, mampu kah
Harmoko membendung tampilnya Ibrahim Saleh yang lain, membendung seorang
Kassospol (siapapun dia nanti) yang, seperti Harsudiono Hartas dulu, tiba-tiba
mencalonkan tokoh pilihan ABRI sebagai Wakil Presiden?
Di sini lah menariknya: kalau dulu ketika mengangkat Harmoko sebagai
Ketua Umum DPP Golkar Soeharto ingin menggebuk ABRI, maka kini justru karena
khawatir terhadap ABRI, Harmoko lah yang dikorbankan. Padahal ia telah
berjasa meningkatkan jumlah kursi Golkar dalam DPR. Dan di sini pula lah
makna sebenarnya kenapa Harmoko harus turun dari jabatan Menteri Penerangan
menjadi Menteri Urusan Khusus dengan tugas memberikan perbekalan kepada
para calon anggota DPR. Tugas yang tidak jelas itu, apalagi karena konon
ia tidak berkantor dan tidak berstaf, juga mencerminkan betapa tidak jelasnya
(untuk tidak mengatakan betapa suramnya) masa depan politik
Harmoko.
Juga perlu dicatat bahwa Harmoko pernah kelihatan begitu dekat dengan
Habibie ketika berlangsung Munas Golkar yang mengangkatnya sebagai
ketua umum. Selain itu, Harmoko juga membela Habibie, tentu saja atas perintah
(atau petunjuk) Soeharto, ketika ia membredel Tempo, Editor dan Detik pada
bulan Juni 1994.
Bukan lah kebetulan kalau yang diangkat menggantikan Harmoko sebagai Menteri Penerangan adalah mantan KSAD Hartono. Terlepas dari prospek masa depan jabatan Hartono (konon ia sedang diperam untuk jabatan Wakil Presiden), sekali lagi, ini tetap dalam rangka menenangkan ABRI, atau tepatnya mengalihkan perhatian ABRI supaya tidak terus berniat merongrong kekuasaan Soeharto. Yang juga perlu dilihat dari naiknya Hartono sebagai Menpen ini adalah imbangan antara jumlah menteri ICMI dengan jumlah menteri ABRI. Kalau dengan dicopotnya Billy Joedono jumlah menteri ICMI berkurang satu, maka dengan naiknya Hartono jumlah menteri ABRI lah yang bertambah satu, walau pun, harus diakui bahwa Hartono baru saja pensiun, ia bukan seorang perwira ABRI aktif. Tapi, sebagai seorang mantan KSAD, setidak-tidaknya kalangan ABRI masih bisa mengidentifikasikan diri mereka dalam Hartono. Menariknya dalam soal pertikaian Habibie dengan harian The Jakarta Post, Menteri penerangan Hartono berpihak kepada koran itu dengan menyatakan bahwa The Jakarta Post dimaafkan. Mei 1997 jelas berbeda dengan Juni 1994 ketika Harmoko masih menjabat Menteri Penerangan dan ketika Habibie masih merupakan anak emas Soeharto. Dengan kata lain, selamatnya The Jakarta Post sebenarnya lebih disebabkan oleh tatanan politik Indonesia menjelang Sidang Umum MPR, di mana Habibie dan ICMI-nya sudah tidak berpengaruh lagi, ketimbang, misalnya, seperti apa yang disumbarkan oleh Adnan Buyung Nasution, pengacara IPTN, perusahaan Habibie. Buyung menegaskan sebagai seorang demokrat, ia berhasil mendesak Habibie supaya tidak menggunakan kekuasaan, tetapi memilih jalan hukum saja. Bahkan konon, menurut pengakuannya, Buyung akan mundur sebagai pengacara IPTN kalau Habibie sampai membredel koran berbahasa Inggris itu. Jelas ini omong kosong karena memang tidak masuk akal. Untuk masa kini perlu dipertanyakan, kekuasaan mana pula yang masih dimiliki Habibie? Langkah Membatasi Kekalahan Dalam kerangka berpikir memanjakan ABRI itu, maka bisa dipastikan bahwa
tidak lama lagi Syarwan Hamid akan ditunjuk menjadi Ketua Fraksi ABRI dalam
DPR, baru setelah itu ia akan diangkat menjadi Ketua DPR/MPR. Untuk jabatan
ini, Presiden Soeharto jelas tidak mempercayai orang lain kecuali Syarwan
Hamid.
Seperti sudah diuraikan, di mata Presiden Soeharto, DPR merupakan sarang di mana perwira-perwira kritis ABRI merongrongi kekuasannya. Ini dimulai oleh Ibrahim Saleh yang berhasil memaksakan mufakat lonjong atas pengangkatan Sudharmono sebagai Wakil Presiden pada tahun 1988. Menyusul Ibrahim Saleh, malah muncul tokoh-tokoh kritis lain dari Fraksi ABRI, seperti Syamsudin dan almarhumah Rukmini yang menyerukan keterbukaan. Untung keterbukaan ini bisa dihentikan oleh Harmoko ketika Habibie mengaku mendapat pemberitaan tidak menguntungkan soal pembelian bekas kapal Jerman Timur. Kemudian masih ada Sembiring Meliala yang memprotes pengangkatan Harmoko sebagai Ketua Umum DPP Golkar dan sebelum pemilu lalu, Theo Syafei masih sempat berseru bahwa menjadi Golput itu tidak melanggar hukum. Untung ada mekanisme recall, sehingga perwira-perwira kritis itu kini sudah berhasil disingkirkan dari Fraksi ABRI. Yang penting sekarang, terutama menjelang Sidang Umum Maret tahun depan,
adalah membersihkan Fraksi ABRI dari orangorang kritis itu. Dan satu-satunya
tokoh yang bisa menjalankannya tidak lain adalah Syarwan Hamid sendiri.
Apalagi karena Syarwan sudah berpengalaman melitsus para calon anggota
legislatif.
Tapi, seperti yang telah diuraikan, dan seperti terbukti pada tahun 1993, beresnya Fraksi ABRI dan seluruh anggota DPR/MPR lainnya, belum merupakan jaminan bahwa ABRI secara keseluruhan tidak akan berbuat macam-macam ketika berlangsung Sidang Umum MPR. Ini masalah tersulit ke dua yang dihadapi oleh Presiden Soeharto. Bagaimana harus mengatasinya? Pada minggu ke dua bulan Juli, tepatnya hari Rabu 9 Juli, diumumkan
bahwa Syarwan Hamid menjadi Fraksi ABRI dalam DPR bersama 5 Pangdam lain,
yaitu Pangdam III/Siliwangi Mayjen Tayo Tarmadi, Pangdam IX/Udayana Mayjen
R.A. Rivai, Pangdam VI Tanjungpura Mayjen Namoeri Anom, Pangdam II/Bukit
Barisan Mayjen Sedaryanto dan Pangdam V Brawijaya Mayjen Imam Utomo.
Tetapi bagaimana kalau anggota ABRI lainnya memutuskan untuk memindahkan operasinya ke tempat lain, yang sebelumnya sama sekali tidak pernah terbayangkan? Ibaratnya tempat menampung air yang sudah sering bocor, ditambal di satu tempat bisa bocor di tempat lain. Inilah masalah besar yang dihadapi Presiden Soeharto. Langkah-langkah lain yang sudah ditempuh Presiden Soeharto untuk menertibkan ABRI, selain berbaik-baik terhadap ABRI dengan menggebuki siapa saja yang tidak disukai ABRI, tidak lain adalah berbagai mutasi perwira ABRI yang berlangsung begitu Hartono dicopot dari jabatan KSAD. Tentu saja, seperti ramai diberitakan media massa, yang terpenting dalam mutasi itu adalah naiknya orang-orang yang pernah menjabat sebagai ajudan. Dua ajudan terpenting telah sampai pada pucuk pimpinan Angkatan Darat, itulah Wiranto sebagai KSAD dan Subagyo Hari Siswoyo sebagai Wakasad. Ajudan tak pelak lagi adalah trayek utama bagi para calon pemimpin ABRI. Supaya tidak menimbulkan iri di antara perwira lain, maka ajudan nampaknya memang dipilih dari para lulusan terbaik Akademi Militer. Memang sejak jaman Belanda dulu Akademi Militer selalu punya tradisi untuk, dalam masa liburan, memondokkan kadet-kadet terbaik mereka pada perwira-perwira tinggi. Dengan begitu langkah mengangkat para bekas ajudan ini bisa dikatakan tidak terlalu menimbulkan perasaan iri di kalangan perwira lainnya yang tidak terpilih. Yang juga menarik adalah pengganti Wiranto sebagai Pangkostrad, Sugiyono, sebe-lumnya menjabat Komandan Paspampres. Di sini terlihat muncul semacam "pelebaran jalur" menuju pucuk pimpinan ABRI. Tidak lagi harus ajudan, tetapi juga pasukan pengaman presiden. Tetapi bukankah para anggota paspampres itu juga secara fisik dekat dengan Presiden Soeharto, sehingga mereka dianggap paham apa kehendak sang Panglima Tertinggi. Orang memang gampang tergoda untuk berkesimpulan bahwa langkah ini merupakan semacam kompromi atau tepatnya langkah memanjakan ABRI. Langkah menunjuk kalangan yang pernah menjadi ajudan atau kalangan yang pernah memimpin Paspampres itu sebenarnya diambil karena sebagai orang yang sudah lebih dari 30 tahun berada di luar ABRI, Soeharto tidak punya pegangan lagi dalam mengenali dan mengerti perwira-perwira itu. Ajudan dan sejenisnya adalah orang yang paling dekat dengannya, walaupun paling lama cuma tiga tahun. Di sini nampaknya ia berharap orang- orang yang secara fisik pernah dekat dengannya itu bisa memahami kehendaknya. Jelas nampak bahwa Presiden Soeharto tengah mengerjakan sesuatu yang
tidak mungkin. Soeharto, begitu makin hari makin jelas, nampak tengah berusaha
melawan alam. Adalah tidak mungkin perbedaan usia yang hampir 30 tahun
antara dia dan bawahannya itu bisa dijembatani dengan faktor kedekatan
fisik ini.
Tapi sekali lagi, langkah-langkah yang belakangan ditempuh masih belum merupakan jaminan bahwa Wiranto atau Subagyo misalnya akan tetap setia kepada Panglima Tertinggi mereka. Secara bergurau seorang perwira pernah mengatakan, dari dulu yang melantik para lulusan Akmil itu orang yang sama juga, sementara anak buahnya sudah sering kali berganti. Perwira ini ada benarnya. Kalau Wiranto, Subagyo atau Sugiyono memikirkan masa depan mereka sendiri, jadi tidak usah susah-susah dan repot-repot memikirkan masa depan bangsa, pasti mereka juga berpikir apa artinya kesetiaan bagi masa depan mereka? Sebenarnya yang juga menonjol dari mutasi belakangan, dan ini dimulai
pada mutasi tahun-tahun 90an, adalah makin pendeknya masa dinas seorang
panglima.
Nah, dalam rangka memberi kesempatan rata kepada semua perwira untuk
bisa sampai pada jabatan pimpinan maka, demikian para pakar Cornell University
ini, waktu jabatan diperpendek. Sebelum sampai pada kesimpulan ini,
para pakar ABRI di Cornell University itu mendakwa bahwa Presiden Soeharto
merasa tidak aman kalau seorang perwira sampai lama-lama duduk dalam sebuah
jabatan.
Tulisan ini sebaiknya diakhiri dengan sebuah pertanyaan. Kalau menjelang Sidang Umum MPR ini Presiden Soeharto nampak begitu memanjakan ABRI, maka ini mendesak orang untuk bertanya-tanya apa sebenarnya yang akan dikerjakan Soeharto pada saat Sidang Umum berlangsung? Akan kah Soeharto kemudian berbuat sesuatu yang mengejutkan ABRI, yang tidak menyenangkan ABRI? Hongkong, Tsim Sha Tsui, Awal Juli 1997 CATATAN KAKI: 1. Penempatan lima Pangdam ini di satu pihak memang bisa diartikan sebagai
langkah mengambil kepastian di tengah situasi yang begitu tidak pasti,
tetapi di lain pihak, hal ini juga bisa berarti bahwa Presiden Soeharto
sendiri tidak yakin pada kemampuan Syarwan Hamid. Untuk itulah perlu dipasang
lima Pangdam lain.
|
|
|