| Received on Wed Sep 30 18:07:12 MET DST 1998
MARAKNYA SPANDUK FITNAHAN Oleh: Sulangkang Suwalu Hari-hari terakhir ini kota Jakarta dipenuhi spanduk-spanduk peringatan kemungkinan munculnya kembali komunisme di Indonesia. Spanduk putih rapi terpampang di mana-mana. Antara lain bertuliskan Negara Diambang Bahaya! Pemberontakan PKI ke 3.... September 1998. Spanduk itu dikeluarkan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), sebuah organisasi Islam yang selama ini dekat dengan organisasi Golkar. Tampaknya yang dimaksud isi
spanduk tersebut ialah Peristiwa September 1948 di Madiun; Peristiwa 30
September 1965 di Jakarta dan apa yang akan terjadi akhir September 1998
di Jakarta. Menurut visi pembikin spanduk itu peristiwa Madiun di bulan
September 1948 adalah pemberontakan PKI dan bukan provokasi Hatta untuk
melaksanakan usul Graham pembasmian kaum merah (Red Drive Proposal). Begitu
pula G30S itu adalah pemberontakan
SEPTEMBER 1948 Umumnya mediamassa yang terbit
di Yogyakarta menjelang akhir Agustus 1948 menyiarkan berita bahwa Konferensi
PKI di Yogyakarta pada 26-27 Agustus 1948 telah menerima Resolusi Jalan
Baru Untuk RI sebagai hasil koreksi besar Musso atas kesalahan PKI sejak
Revolusi Agustus 1945. Di Bidang organisasi diputuskan untuk memfusikan
PKI, Partai Sosialis dan Partai Buruh Indonesia menjadi PKI. Kongres Fusinya
direncanakan dari 1 sampai dengan 3 Oktober 1948. Sebelum Kongres Fusi,
supaya masing-masing partai yang akan fusi
Di samping mempersiapkan Kongres Fusi, PKI juga menyelenggarakan rapat-rapat umum untuk menjelaskan dan mempertanggungjawabkan kepada massa tentang kekeliruan PKI telah menerima persetujuan Linggajati dan Renville. PKI dinilai tidak konsekuen anti-imperialis. Juga menguraikan tentang kelemahan PKI yang tak membentuk Front Persatuan Nasional guna memenangkan perang melawan penjajah Belanda. Mungkin kah atau masuk akal kah PKI yang sedang gencar-gencarnya mempersiapkan Kongres Fusinya,akan menjegal rencana itu,dengan meletuskan peristiwa Madiun bulan Septeniber? Rasanya tak masuk akal, kecuali bagi orang yang berakal pendek. Menurut R Kreutzer melalui karyanya Sekelumit sejarah hal ihwal yang mendahului (voorspel) Peristiwa Madiun bahwa laporan sangat rahasia dari Kepolisian Umum Belanda tertanggal 1 April 1948 menyatakan telah berlangsung pertemuan rahasia antara Graham ( AS ) baik dengan Soekarno maupun Sukiman. Dimana oleh Graham telah direstui bahwa RI termasuk ke dalam lingkungan operasional Rencana Marshall dalam kawasan Asia Tenggara, apabila persetujuan Renville telah nyata diterima. Lalu pengaruh sayap kiri atas kebijaksanaan pemerintah RI dapat ditipiskan. Ini berarti blokade terhadap segala kegiatan golongan sayap kiri. Untuk menyesuaikan diri dengan
usul Graham, maka program kabinet Hatta terdiri atas 4 pasal yaitu:
Dalam kabinet Hatta ini, tak seorang pun dari sayap kiri menduduki jabatan tertenttu. Ini sesuai dengan syarat Graham agar kebijaksanaan pemerintah jangan bisa dipengaruhi kekuatan sayap kiri. PNI dan Masyumi duduk di dalamnya, meskipun sebelumnya menentang Renville guna menjatuhkan Kabinet Amir Syarifuddin. Mereka sekarang justru mendukung Renville setelah duduk dalan kabinet Hatta. Graham berpeluang untuk bertemu
dengan pemimpin-pemimpin Indonesia seperti dengan Soekarno, Hatta, Sukiman
dsb justru karena Graham adalah Ketua KTN ( Komisi Tiga Negara ), yang
terbentuk sesudah perang kolonial pertama ( 21 Juli 1947 ).
Dengan rasionalisasi Hatta maka jumlah 400 ribu anggota TNI pada awal 1948 yang menjadi kekuatan ABRI, menurut rasionalisasi hanya akan tinggal 57 ribu berupa prajurit reguler sebagai kekuatan inti TNI yang telah dimodernisasi. Pihak Laskar Rakyat yang jumlahnya ratusan ribu yang akan dirasionalisasi tentu saja menentang rencana itu. Untuk mematahkan perlawanan laskar-laskar rakyat itu, pemerintah Hatta mulai menyingkirkan makin banyak perwira-perwira yang pro PKI dari jabatan-jabatan kunci pasukan TNI. Malah Kolonel Sutarto, Komandan Panembahan Senopati ditembak secara gelap oleh pihak yang prorasionalisasi. Sutarto adalah penentang ide rasionalisasi. Bukan itu saja. Brigjen Polisi Asmaun dari Bojonegoro, seorang anggota Partai Sosialis, dilucuti oleh Brigade Polisi Umum Jatim. Pada 1-2 Sept 1940. Pimpinan PKI Solo ( Slamet Wijaya dan Pardio ) diculik, dan dibawa ke Markas Siliwangi di Tasikmadu. 7 September hampir semua perwira Tentara Laut dibawah komando Kolonel Yadau diculik dan mereka dipindahkan ke Srambatan (markas Siliwangi ). Pada 9 September, Suadi, penerus Sutarto sebagai Komandan Divisi Panembahan Senopati seizin Panglima Besar Sudirman mengadakan pelacakan yang cermat atas penculikan-penculikan itu. Baru saja pelacakan dimulai, kembali perwira-perwira yang bertugas itu diculik. Suharman hilang tanpa meninggalkan jejak. Letkol Sumarto diculik, dibawa ke basis mereka dekat Srambatan. Kemudian Suadi memberi ultimatum. Sebelum berlakunya batas ultimatum, Suadi mengirim sebagai utusan Mayor Laut Sutarno ke Srambatan untuk menerima jawaban.... tapi sewaktu Mayor Sutarno tiba di tempat ia langsung ditembak mati. Segera satuan TNI Panembahan
Senopati menyerang Srambatan dan pertempuran baru berhenti setelah ada
perintah dari Panglima Sudirman untuk meletakkan senjata.
Rupanya Sumarsono termakan
oleh provokasi kelompok bersenjata anti komunis. Sumarsono menyimpulkan
harus mendahului melucuti CPM, polisi negara dan Siliwangi, sebelum mereka
dilucuti. Pagi 18 September rencana Sumarsono dijalankan. Dalam beberapa
jam saja rencana itu dapat diselesaikan. Tanpa setetes darahpun tertumpah.
Memang, seorang kapten tentara Hatta tewas, karena peluru nyasar.
Pada 19 September malam Presiden Soekarno sudah mengumumkan perang terhadap PKI, yaitu: Pilih Soekarno-Hatta atau PKI Musso. Tak ada pilihan lain bagi Musso. Ia sambut tantangan Soekarno. Pada 20 September 1948 PM Hatta meminta kepada Sidang BP KNIP: Dengan ini kami majukan kepada Badan Pekerja KNIP suatu rancangan UU Pemberian kekuasaan penuh kepada Presiden dalam keadaan bahaya untuk tiga bulan ( mulai 15 September sampai dengan 15 Desember 1948). Salah satu alasan yang digunakan Hatta untuk meminta mandat penuh bagi Presiden tersebut ialah: tersiar berita entah benar entah tidak--bahwa Musso akan menjadi Presiden Republik rampasan itu dan Amir Syarifuddin Perdana Menterinya ( Kumpulan pidato Mohammad Hatta 1942-1949, hal 264 ). Alasan itu menunjukkan keraguan Hatta sendiri akan kebenaran alasan atau tuduhannya. Ia menggunakan kabar burung sebagai alasan untuk mendapat mandat penuh. Supaya usul Graham dapat terlaksana sebagaimana yang diharapkannya. Menurut R.Kreutzer bahan-bahan keterangan (informasi) yang baru tentang Peristiwa Madiun menjurus kepada suatu kesimpulan bahwa sudah terang dan nyata di Madiun tidak ada ada suatu perebutan kekuasaan (coup d 'etat ). Paling banyak orang dapat berbicara tentang penguasa kota (stadsgreep), bukan staatsgreep. Tidak ada rencana untuk menggulingkan pemerintahan Hatta. Yang ada cuma upaya PKI/FDR untak bersama kekuatan bersenjata dan tentara yang anti rasionalisasi mengubah iklim dan suasana, serta menghentikan serangan blok reaksioner dan kontra revolusioner bentukan Hatta, Nasution dan pimpinan Masyumi. Suatu fakta nyata adalah
bahwa pemerintah Hatta dengan mudah menangkap sejumlah besar pemimpin dan
anggota FDR/PKI di Yogyakarta, hal mana lebih meyakinkan tentang tidak
adanya rencana kudeta. Bahkan wakil-wakil yang duduk dalam Badan Pekerja
KNIP hadir dalam waktu sidang BP KN1P 20 September 1948. Orang yang merencanakan
coup d'etat pasti tidak akan bertingkah laku seperti itu, melainkan semua
akan menghilang.
SEPTEMBER 1965 Bagaimana dengan peristiwa
yang terjadi pada September 1965 di Jakarta?
Pada 30 September Brigjen
Supardjo dan Letkol Untung datang ke rumah Latief di Cawang. Mereka bilang:
Tolong sampaikan pada Pak Harto bahwa ada 7 jenderal yang akan dihadapkan
pada presiden oleh Cakrabirawa yang dipimpin oleh Resimen Cakrabirawa besok
pagi. Latief tidak bisa menyampaikan malam ini, karena ada pekerjaan lain.
Latief datang sekitar pukul
22.00 dan pamit pada pukul 23.00 WIB.
Mengenai Pertemuan Latief
dengan Soeharto di RSPAD 30 Septernber malam itu, Soeharto mencoba menyembunyikannya
dengan membikin tiga versi.
Pada 1978 Der Spiegel Jerman
menurunkan tulisan wawancara dengan Pak Harto. Disitu ia menyatakan: Latief
datang kepada saya untuk membunuh saya, tapi tidak bisa, karena waktu itu
banyak orang di sekitar saya. Ketiga dalam otobiografinya pada halaman
118 Pak Harto membantah pertemuan di RSPAD tsb, dengan menyebut hanya melihat
saja dari balik jendela. Jadi Pak Harto bohong dalam tiga versi. Seharusnya
begitu ia mendengar laporan dari saya, ia
Siang 1 Oktober 1965 itu
juga, Soeharto melalui Kolonel KKO Bambang Widjanarko memberikan 4 petunjuk
bagi Presiden Soekarno. Kolonel KKO Bambang Widjanarko berkunjung ke Kostrad
untuk meminta supaya jenderal Pranoto Reksosamudro yang diangkat rresiden
menjadi caretaker sementara Menpangad datang ke Halim menemui Presiden
Soekarno. Empat petunjuk yang disuruh sampaikannya lewat Bambang Widjanarko
tersebut, dapat dibaca dalam buku putih (G30S Pemberontakan PKI, hal 146-147
), sebagai berikut:
2. MayJen TNI Soeharto untuk sementara telah mengambil oper pimpinan TNI-AD berdasarkan perintah tetap Menpangad.( Peruntah Tetap Menpangad yang dimaksud ialah konsensus dalam AD, bila Pangad berhalangan otomatis Panglima Kostrad penggantinya). 3. Diharapkan agar perintah-perintah Presiden Soekarno selanjutnya disampaikan melalui Mayjen TNI Soeharto. (Petunjuk 3 ini berarti Mayjen Soeharto yang mengatur apa yang harus dikerjakan Presiden Soekarno, dan bukan sebaliknya, mesk ipun diselimuti dengan kata-kata diharapkan. Seharusnya Presiden Soekarno sebagai Pangti ABRI yang mengatur apa yang harus dilakukan Soeharto). 4. Mayjen TNI Soeharto memberi
petunjuk kepada Kolonel KKO Bambang Widjanarko agar berusaha membawa Presiden
Soekarno keluar dari Pangkalan Angkatan Udara Halim Perdana Kusumah, karena
pasukan yang berada dibawah komando Kostrad akan embersihkan pasukan-pasukan
pendukung G30S yang berada di PAU HP sebelum tengah malam 1 Oktober 1965.
(Petunjuk 4 ini berarti Soeharto memerintahkan Presiden Soekarno meninggalkan
Pangkalan Anggkatan Udara HP, sebelum tengah malam, karena Halim akan diserang.
Padahal
Jelas kiranya bahwa 4 petunjuk Soeharto bagi Presiden Soekarno yang disampaikan melalui Kolonel KKO Bambang Widjanarko adalah bukti yang paling hidup bahwa sejak 1 Oktober 1965 kekuasaan secara de facto sudah berada di tangan jenderal Soeharto. Ini merupakan langkah awal untuk memegang kekuasaan de jure. Mengenai hal ini, Mayjen (purn) Mursjid, Deputi I Panglima AD di masa jenderal Yani kepada Tajuk mengatakan, Saya tetap berpegang bahwa 1 Oktober kudetanya ( Soeharto-pen). Formalnya terjadi pada 11 Maret dengan Supersemar, yang dikoreksi oleh Bung Karno pada tanggal 13 Maret. Dengan kata lain, tanggal 1 Oktober merupakan langkah-langkah kearah tanggal 11 Maret itulah aibnya Soeharto ia ambil kekuasaan dengan paksa. Jadi, G3OS bukanlah pemberontakan
PKI, melainkan kudeta Soeharto yang dilakukan secara merayap, mulai dari
merebut kekuasaan secara de facto, kemudian baru secara de jure.
SEPTEMBER 1998? Bila September 1948 adalah provokasi Hatta untuk melaksanakan usul pembasmian kaum merah dari Graham(AS), dan September 1965 adalah kudeta Soeharto, maka September 1998 yang paling tahu ialah DDII ( Dewan Dakwah Islamiyah 1ndonesia) dengan spanduknya itu. Yang jelas selama September 1998 kampanye anti komunis mereka lancarkan dengan berbagai nada ancaman yang bersifat provokasi. Dimulai dengan spanduk Negara
Diambang Bahaya. Pemberontakan PKI ke-3 ... September 1998, sampai kepada
spanduk-spanduk yang menghujat Forkot. Di antaranya Forkot, Kader-Kader
PKI. Dalang Kerusuhan dan Penjarahan, Akibat Forkot Demonstrasi, Dolar
Naik, Harga Sembako Naik. Rakyat Tambah Menderita.
Spanduk-spanduk itu agaknya
berkaitan dengan makin maraknya aksi-aksi unjukrasa yang meminta agar Habibie
turun dari jabatannya sebagai Presiden. Pekan lalu ribuan mahasiswa yang
tergabung dalam Forkot kembali mendatangi gedung DPR. Gerakan Forkot ini
ternyata membuat gerah pendukung Habibie.
Dengan dipergunakan isu agama Islam untuk menanggapi aksi unjuk rasa yang diantaranya menuntut Presiden Habibie turun, maka Keluarga Besar Generasi Muda NU menyatakan keprihatinannya. Menurut mereka tidak ada satu kelompok yang berhak mengatasnamakan Islam sebagai satu-satunya kekuatan yang mewakili umat Islam untuk dihadapkan dengan kekuatan rakyat dan gerakan reformasi lainnya. Kami menolak menggunakan Islam sebagai alat untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan. Dalam masyarakat yang plural, mayoritas maupun minoritas berhak mendapat perlindungan dan rasa aman. Demikian bunyi pernyataan yang ditanda-tangani pimpinan PP Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Putra NU, Ikatan Putra-putri NU, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Tampaknya dengan spanduknya itu DDII tentu akan mempersiapkan sebuah provokasi seracam Gerakan 30 September sehingga bisa terjadi kerusuhan. Dan bila kerusuhan terjadi, maka segera dapat berteriak, nah itu Pemberontakan PKI. Maling berteriak maling. Karena bila tak sampai terjadi kerusuhan, tentu DDII akan diejek pihak lain yang bermain-main dengan spanduknya. Kemungkinan terjadinya provokasi
tersebut memang ada, mengingat seperti yang dikatakan Gus Dur bahwa Oktober
nanti akan ada tiga apel besar-besaran dari tiga kelompok. Pertama dari
kelompok yang mudah mencap orang lain sebagai PKI. Kedua dari AMNU yang
akan melakukan apel akbar dengan massa sekitar 100.000 orang di parkir
timur Senayan pada tanggal 11 Oktober. Ketiga kelompok yang ingin menegakkan
demokrasi di Indonesia
Kelompok pertama itulah yang mungkin memainkan peranan penting dalam melancarkan provokasi untuk kerusuhan, yaitu kelompok, yang kata Gus Dur yang mudah mencap orang lain sebagai PKI. KESIMPULAN Bertolak dari kenyataan bahwa Peristiwa September 1948 bukanlah pemberontakan PKI, melainkan provokasi Hatta untuk melaksanakan usul Graham (AS) Red Drive Proposal; Peristiwa September 1965 bukan lah pemberontakan PKI melainkan kudeta Soeharto dan apa yang akan terjadi September 1998 yang paling mengetahui dan menentukan ialah DDII dan bukan oleh PKI, maka isi spanduk tersebut jelas bersifat fitnah. Sebagai sebuah lembaga dakwah
Islam seharusnya mereka tidak berbuat fitnah. Sebab cukup jelas dikatakan
dalam Al Quran (A1 Baqarah ayat 217), Alfitnatu akbaru minal qotli (Fitnah
itu lebih besar dosanya daripada pembunuhan).
Seharusnya sebagai lembaga
dakwah Islam, DDII senantiasa akan ingat kepada surat A1 Maidah Ayat 8,yang
bahasa Indonesianya, Hai orang-orang yang beriman, hendak lah kamu
berdiri karena Allah, menjadi saksi dengan keadilan. Jangan lah kamu tertarik
karena kebencianmu kepada satu kaum, sehingga kamu tidak berlaku adil.
Berlaku adil lah, karena keadilan itu lebih dekat kepada taqwa dan takut
lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha
Memfitnah adalah suatu perbuatan
yang tidak adil!***
|
|
|