| Monday 25 May 1998 22:30 UTC
KENAPA PRABOWO DICOPOT DARI JABATAN PANGKOSTRAD
Siapakah dalang berbagai peristiwa yang hampir membuat Indonesia menjadi
kacau dan mengapa Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto mendadak sontak
dicopot dari jabatan itu? Sebuah rangkuman olahan redaksi di Hilversum:
Pergantian Pangkostrad secara mendadak Jum'at sore pekan lalu,
menimbulkan tanda tanya besar pada masyarakat, khususnya para pengamat
militer. "Apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam tubuh ABRI?" Demikian
banyak kalangan bertanya. Meski Menhankam Pangab Jenderal Wiranto
menyatakan bahwa pergantian Pangkostrad merupakan hal yang biasa dalam
tubuh ABRI, tetapi karena pergantian itu begitu cepat, yaitu hanya
dua
bulan setelah Prabowo memangku jabatannya, maka banyak kalangan tetap
tidak yakin dengan jawaban Wiranto.
Apa lagi jika dilihat situasi dan kondisi Indonesia saat ini, khususnya
situasi Jakarta yang belum lagi pulih dari beberapa peristiwa besar,
maka jelas dibutuhkan seorang panglima yang dalam mengkomandokan
pasukan, dan di atas kertas figur Prabowo memang memang pantas untuk
itu. Tak pelak lagi, peristiwa penggantian Pangkostrad yang begitu
cepat
itu menyebabkan makin maraknya spekulasi.
Beberapa kalangan mengkaitan pencopotan Prabowo dengan kejadian Jum'at
siang di Gedung DPR/MPR. Waktu itu muncul ribuan orang yang disinyalir
merupakan gabungan massa KISDI dengan Pemuda Pancasila. Kehadiran mereka
di medan demonstasi mahasiswa itu nyaris menimbulkan perang saudara.
Untunglah massa mahasiswa tidak terpancing dan terprovokasi oleh
kalangan yang menyebut diri "massa pendudukung Habibie" itu.
Di lain pihak beberapa pengamat militer lebih melihat ke belakang lagi,
yaitu sejumlah peristiwa yang nyaris menjebloskan Indonesia dalam
suasana kacau. Berbagai kejadian itu dinilai menyebabkan pergantian
Pangkostrad Jum'at pekan lalu. Menurut kalangan ini, berbagai kasus
penculikan aktivis seperti Pius Lustrilanang, Desmond Mahesa dan
Haryanto Taslam, kemudian kasus pembunuhan di Universitas Trisakti
sampai kerusuhan dan penjarahan, jelas terlihat bahwa semuanya berkaitan
satu sama lain. Tidak tertutup kemungkinan, peristiwa-peristiwa itu
merupakan satu paket yang memang bertujuan untuk menimbulkan kekacauan.
Jika kekacauan ini sampai terjadi, maka diharapkan, sebagai Presiden,
Soeharto akan membentuk suatu lembaga yang menyerupai Kopkamtib dengan
salah seorang perwira Tinggi ABRI yang diangkat sebagai pemimpinnya
untuk memulihkan siatuasi. Tak lama kemudian, perwira tinggi ini
menyodorkan semacam "supersemar kedua" kepada Presiden Soeharto.
Tetapi nampaknya Soehartopun sudah membaca dan mengetahui niat maupun
strategi tersebut. Malahan, jatuhnya Soeharto lebih disebabkan oleh
tekanan massa demonstran mahasiswa yang menduduki Gedung DPR/MPR. Ini
jelas bahwa Soeharto tidak perlu menandatangani semacam surat perintah
yang berisi bahwa ia melimpahkan kekuasaannya kepada Habibie.
Kembali sekarang pada kejadian Jum'at 22 Mei lalu. Dikabarkan Prabowo
merasa sangat tertipu akibat pencopotannya itu. Konon, waktu itu Prabowo
mendapat panggilan supaya segera datang ke Istana. Tetapi di tengah
jalan kembali ia ditelpon, dengan pesan supaya tidak ke Istana Presiden,
tetapi ke Mabes ABRI saja.
Betapa terkejut Prabowo ketika melihat bahwa di Mabes itu banyak perwira
ABRI, termasuk Mayjen Johny Lumintang. Pada saat itu Prabowo langsung
diminta menandatangani serah terima jabatan Pangkostrad kepada Johny
Lumintang. Meski sangat terkejut, Prabowo akhirnya bersedia juga
menandatangani dokumen serah terima itu, terutama karena ia tahu bahwa
penggantinya, Johny Lumintang, adalah orang yang dekat dengannya juga.
Seusai serah terima tersebut, tersiar kabar santer bahwa dua SSK pasukan
Kopassus mengepung Istana Merdeka.Tetapi pengepungan ini tidak lebih
dari seperempat jam, karena pasukan Kopassus berhasil dipukul mundur
oleh sejumlah pasukan Kostrad lain dari Malang dan Semarang. Setelah
itu, Jum'at diri hari sekelompok massa mencoba mengacaukan wilayah
kota
dengan membuat kerusuhan, mereka sempat menjarah kompleks pertokoan
eletronik Harco di Mangga Dua dan Petojo.
Sementara itu, setelah kini terbukti bahwa dalam 24 jam, jabatan
Pangkostrad sempat diserahkan terimakan sampai dua kali, dikabarkan
Prabowo sangat tertipu. Kini jelas terbukti, karena Johny Lumintang
adalah sahabatnya, maka Prabowo bersedia menyerahkan jabatan itu.
Padahal justru inilah umpan Wiranto. Alhasil, belum lagi sehari penuh
memenang jabatan Pangkostrad, Johny Lumintangpun dicopot dan digantikan
oleh Mayjen Djamari Chaniago, yang merupakan orang kepercayaan Wiranto.
Demikianlah rangkuman pembicaraan dengan beberapa pengamat militer,
baik
di Indonesia maupun di luar negeri.
Prabowo yang mendapat jabatan baru sebagai kepala Seskoad di Bandung,
menurut sebuah sumber di Mabes ABRI, sejak Sabtu lalu telah dikucilkan.
Tetapi, pada hari Minggunya ternyata ia menghilang tanpa jejak. Malah
dikabarkan ia membawa sekitar dua SSK dari satuan Kopasus, dan inilah
yang menyebabkan mulai Senin kemarin apel di Kopassus bertambah menjadi
empat kali sehari. Sebuah sumber di Sekneg yang ditanya mengenai hal
ini
mengemukakn bahwa memang benar Prabowo sekarang didampingi pasukan
yang
berjumlah 500 orang.
Terlepas dari benar tidaknya berita ini, yang jelas kini tubuh ABRI
diliputi suasana tegang. Selain itu, kasus tersebut juga berhasil
meredakan tuntutan mahasiswa, bahkan mengalihkan perhatian masyarakat
pada tuntutan mahasiswa untuk segela menyelenggarakan Sidang Istimewa
MPR, guna meminta pertanggung jawaban Soeharto. Sekian rangkuman
berbagai pendapat ini.
-----------------------------------
Copyright Radio Nederland Wereldomroep.
|