Date: Mon, 25 Aug 1997 09:25:57 -0400 (EDT)
From: ba16@cornell.edu (Ben Abel)
BILL LIDDLE TENTANG POLITIK PASKA PEMILU (1/6)
Tentang kemenangan Golkar, Ada sebuah struktur yang sangat besar
dan sangat menyeluruh yang sampai pada akar masyarakat. Struktur itu yang
menekan masyarakat untuk memilih Golkar.
Kecurangan itu memang masalah, tapi bukan masalah pokok. Yang lebih
penting, Kalau saya mengatakan bahwa pemilu di Indonesia tidak demokratis,
kita harus mulai dengan sistim kepartaian yang dipaksakan. Tentang meluasnya
perlawanan masyarakat, Bukan cuma Presiden Suharto tapi juga ABRI yang
tidak bisa menguasai secara penuh keadaan seperti ini.
Karena itu memang mereka harus mulai takut.
PEMILU-97
T: hasil akhir pemilu 97: Golkar 74%, PPP 23% dan PDI 3%. Menurut
Pak Bill, apa artinya angka-angka ini? Apakah memang ini menunjukkan
kemauan rakyat?
J: Saya jawab spontan saja, tanpa banyak persiapan. Saya kira, suatu
angka di mana Golkar mencapai 74% itu tidak bisa mencerminkan kemauan rakyat
secara sempurna.
Saya kira kita harus kembali ke tahun 1971 dan semua hal yang dilakukan
oleh pemerintah dan BRI dibelakang pemerintah pada waktu itu -- dan
pada setiap pemilu sesudah itu.
Pertama, adalah bahwa banyak manipulasi, banyak rekayasa yang terjadi
setiap pemilu, dan itulah yang menghasilkan 74% untuk Golkar tahun
ini. Itu pertama. Tapi kalau kita lihat suara yang diberikan kepada
PPP dan PDI, saya kira memang ada sesuatu yang menarik tahun ini.
Dan itu adalah dampak Megawati. Saya kira kita bisa lihat itu pada
kenaikan suara pada PPP dan penurunan suara pada PDI.
POLITIK BIROKRASI
T: Ini pertanyaan susulan, pak. Artikelnya baru saja kita dapat. Asian
Wall Street Journal Weekly 2 Juni lalu bilang bahwa, political analyst
point out that using parlementary vote as a referendum on the popularity
of Mr Soeharto and his governtment has several major flaw. Lalu disebutkan
sebabnya adalah karena Golkar itu partainya birokrasi, jadi semua pegawai
negeri dan keluarganya harus memilih Golkar.
Analisa ini sangat menekankan faktor birokrasi ini. Apa Pak Bill setuju?
J: Saya kira terlalu sempit mengatakan itu. Pada setiap pemilu bukan
saja para pegawai negeri itu diharuskan memilih Golkar. Tapi mereka juga
diharuskan untuk membujuk masyarakat di desa-desa dan di kampung-kampung
untuk memilih Golkar juga. Jadi ada sebuah struktur yang sangat besar dan
sangat menyeluruh yang sampai pada akar masyarakat. Struktur itu yang menekan
masyarakat untuk memilih Golkar.
T: Setelah protes di Madura, pencoblosan diulangi lagi. Jadi kecurangan
itu memang ada, diprotes, terbukti dan harus diakui. Bagaimana tanggapan
Pak Bill tentang kecurangan-kecurangan selama pemilu?
J: Mungkin saya terlalu jauh dari tempat untuk punya komentar yang berbobot.
Kalau saya menilai pemilu-pemilu sejak tahun 1971, memang ada kecurangan,
selalu.
Pemilu Orba pertama saya lihat sendiri dari desa di Kulonprogo pada tahun
1971.
Dari dekat saya melihat memang ada masalah. Tetapi pada setiap pemilu sesudahnya,
sejauh bisa saya amati, tidak banyak kecurangan. Tentu saja setiap pemilu
ada tekanan yang sangat kuat, yang sangat keras dari atas pada pegawai-pegawai
di bawah. Kalau pegawai-pegawai di bawah itu tidak memenuhi jatahnya, akibatnya
itu memang berat bagi mereka. Jadi pasti ada kecurangan.
Tapi saya tidak melihat kecurangan sebagai suatu masalah yang besar.
Tidak di situ.
Tentu saja saya berpendapat bahwa pemilu Orde Baru bukan pemilu yang
demokratis.
Tapi saya kira masalah yang pokok bukan di situ.
POLITIK KEPARTAIAN
T: Apa masalah pokoknya?
J: Kalau saya mengatakan bahwa pemilu di Indonesia tidak demokratis,
kita harus mulai dengan sistim kepartaian yang dipaksakan. Dua partai,
PDI dan PPP, adalah partai yang dibentuk atas kehendak pemerintah, bukan
atas kehendak anggota mereka, atau kehendak organisasi-organisasi
yang disatukan. Jadi sebaiknya kita mulai dari sana. Sesudah itu setiap
kali ada kongres partai, ya pemerintah yang menentukan siapa yang menjadi
pengurus partai.
Jadi ini bukan sistim kepartaian yang demokratis.
T: Akar masalahnya adalah sistim kepartaian Orba itu?
J: Bukan pemilunya sendiri yang bermasalah. Tetapi seluruh sistim yang
mengharuskan para pemilih memilih di antara tiga partai itu, tentu saja
dengan jauh lebih banyak fasilitas yang diberikan kepada Golkar dari pada
dua partai lainnya. Nah, misalnya dengan konsep massa mengambang itu Golkar
selalu mendapatkan fasilitas sampai ke desa-desa, tapi dua partai tidak.
MELUASNYA PERLAWANAN
T: Korban yang meninggal sampai hari ini sekitar 250, jauh lebih besar
dibandingkan pemilu-92 yang korbannya 13 orang. Apa artinya ini buat Pak
Bill?
J: Ini juga sangat sulit untuk memberikan jawaban yang dapat diandalkan.
Saya memang melihat gejala pada pemilu ini, yang tidak ada pada pemilu-pemilu
sebelumnya, yaitu semacam intensitas orang yang bersedia melawan pemerintah
atau berbuat sesuka hati mereka. Jadi meskipun arak-arakan itu dilarang,
umpamanya, para pemuda yang bergabung dengan dua partai itu, khususnya
dengan PPP, mereka masih mau, masih bersedia turun ke jalan. Meskipun mereka
harus melawan polisi dan ABRI. Dan itu kan merupakan gejala yang agak baru
dan sulit sekali dimengerti.
T: Gejala agak baru, artinya?
J: Kalau dulu korban itu sebagian besar disebabkan oleh intensitas kampanye
itu seperti arak-arakan, pemuda yang naik sepeda motor tanpa disiplin.
Atau pertikaian antara Golkar dan PPP. Hal-hal seperti itu diantara
kontestan, dan dari ABRI atau polisi dengan kontestan meningkat dalam pemilu
ini. Dan saya kira alasannya adalah lebih banyak rakyat yang bersedia melawan
pemerintah.
T: Mengapa?
J: Nah, itu yang sulit bagi saya untuk menjawab. Ada orang yang
mengatakan bahwa khususnya pada awalnya kejadian itu banyak disebabkan
oleh para pemuda yang sebenarnya tidak begitu berpolitik. Ya mereka cuma
ingin berhura-hura, tapi sesudah itu menjadi lebih politis sifatnya. Saya
tidak ada di sana, jadi sulit sekali menilai bagaimana konflik antara polisi
dengan pemuda partai, atau antara para pengikut PPP dan pengikut Golkar.
Maaf ya, ini memang bukan jawaban yang baik.
T: Apakah bukan karena ketakutan itu sudah hilang?
J: Ya, memang ada juga yang mengatakan bahwa ketakutan hilang. Dan memang
kesan saya juga ketakutan itu hilang. Meskipun pemerintah dan ABRI mencoba
menakut-nakuti masyarakat lebih daripada sebelumnya. Seakan-akan ada spiral
kekerasan, yang lebih tinggi suhunya dibandingkan dengan 5 tahun lalu,
atau kalau dibandingkan dengan pemilu-pemilu sebelumnya.
T: Ini pandangan yang agak lain. Sistim politik Orde Baru itu
kan dibangun atas ketakutan, atas pembunuhan massal yang ratusan ribu orang
itu.
J: Ya.
T: Orang tidak berani melawan rejim selama 30 tahun karena mereka takut
betul-betul. Tapi sekarang dua pertiga penduduk Indonesia sudah tidak
tahu apa yang terjadi tahun 65. Mereka lahir setelah pembunuhan massal
itu.
Kalau ketakutan hilang, bukankah sistim politiknya juga harus berubah?
J: Itu ide yang baru. Saya harus pikir dulu bagaimana pendapat saya
mengenai hal ini. Kalau kita kembali ke pemilu-71, yang saya lihat di desa
saya di Kulon Progo adalah bahwa orang takut pada pemerintah dan ABRI sebab
masih dekat waktunya dengan pembunuhan tahun 66. Tapi kita bisa mengatakan
juga bahwa tahun 92 atau 87 atau 82 itu perasaan takut sudah jauh berkurang
ketimbang tahun 71. Pendapat saya, seakan-akan perasaan ketakutan itu,
yang ada hubungan dengan G30S, sudah lama hilang. Bukan sesuatu yang baru
pada pemilu tahun ini.
T: Jadi sebelum pemilu ini ketakutannya pada siapa kalau bukan terhadap
pembunuhan itu dan kekerasan ABRI sesudahnya?
J: Maksud saya tadi banyak anggota masyarakat yang takut pada pemerintah
dan ABRI oleh karena mereka masih ingat apa yang terjadi pada tahun 66-67.
Sesudah itu perasaan takut itu sudah berkurang pada pemilu berikutnya.
Waktu pemilu-77, sudah berkurang, seingat saya. Jadi agak sulit membuat
analisa tentang pemilu 97 yang mengatakan seakan-akan baru sekarang masyarakat
tidak takut lagi pada pemerintah. Itu yang saya maksudkan.
T: Tapi intensitas perlawanannya lebih besar dan lebih meluas sekarang?
Itu yang kita lihat selama kampanye lalu. Gimana memahaminya?
J: Ya memang saya akui sejauh yang bisa saya amati dari sini. Memang
seakan-akan kesediaan masyarakat untuk melawan pemerintah hari ini, dibandingkan
dengan sebelumnya, itu jauh lebih besar. Mungkin salah satu faktor adalah
kejadian 27 Juli tahun lalu. Bukan cuma PRD, tapi anggota PDI atau anggota
PNI dari sayap Megawati yang merasa sangat kecewa, sangat marah kepada
pemerintah sesudah kejadian 27 Juli itu. Sangat sulit bagi saya untuk
menganalisa ini, tapi mungkin kita bisa mengatakan bahwa perlawanan masyarakat
mulai dari situ. Pertama kekerasan dilakukan oleh pemerintah. Lalu dilawan
oleh anggota partai yang menjadi marah, dan sesudah itu mereka tidak takut
lagi kepada pemerintah.
T: Peristiwa 27 Juli itu cuma di Jakarta. Tapi perlawanan sekarang itu
sampai ke desa-desa. Dan bukan cuma di Jawa tetapi juga di Sumatra dan
Kalimantan. Apakah karena kemarahan sudah sampai pada suatu titik yang
tidak bisa takut lagi atau bagaimana?
J: Saya mengatakan bahwa suasana ketakutan yang ada hubungannya dengan
G30S sudah lama tidak ada lagi. Jadi jangan dikaitkan dengan itu. Analisa
saya tentang pemilu 71 adalah bahwa masih banyak penekanan, banyak kekerasan,
yang langsung dari pegawai -- dan dibelakangnya ABRI -- terhadap masyarakat.
Masyarakat pada tahun 71 itu tidak tahu apa yang diharapkan, diinginkan
dari mereka, dan juga mereka masih merasakan suasana G30S itu. Tapi sesudah
itu kesan saya masyarakat sudah mulai mengerti bahwa mereka harus memilih
Golkar. Mereka diharuskan oleh pemerintah untuk memilih Golkar. Jadi hubungan
antara kekerasan dan pilihan itu sudah menjadi sangat longgar mulai 77.
Ini bukan lagi masalah ketakutan, ini sudah menjadi kebiasaan didalam
Orde Baru. Dan itu yang dilanjutkan sampai sekarang ini. Termasuk pemilu
sekarang ini dengan 74% itu kan? Itu masih berarti bahwa banyak orang --
bukan cuma semua pegawai negeri itu, tetapi juga banyak rakyat
biasa -- yang memilih Golkar. Dan saya kira mereka memilih Golkar sebagian
besar bukan karena takut, dalam pengertian langsung takut. Tetapi sebab
mereka merasa, ya begitulah kuajiban mereka di dalam Orde Baru. Memang
kuajiban itu bukan kata yang bagus, ya. Tapi itu yang diharapkan dari mereka.
T: The Economist tanggal 7 Juni antara lain menyimpulkan bahwa meluasnya
perlawanan dalam pemilu 97 ini should serve as a warning to President Soeharto
that he is no longer fully in control of events. Setuju?
J: Ya, begitu juga kesan saya. Dan kita harus lihat dalam konteks yang
lebih luas dari pemilu. Kita kembali lagi ke Peristiwa 27 Juli dan sesudah
itu ada Situbondo, Tasikmalaya dan Pontianak. Yang terjadi di tempat-tempat
itu adalah hal-hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Apalagi terjadinya
hampir bersamaan. Di seluruh Indonesia, termasuk di Aceh, di Timtim, di
Irian, hampir sekaligus terjadi perlawanan terhadap pemerintah. Saya kira
itu berarti bahwa bukan cuma Presiden Suharto tapi juga ABRI yang tidak
bisa menguasai secara penuh keadaan seperti ini. Karena itu memang mereka
harus mulai takut. Dan ada buktinya dengan adanya pembentukan posko-posko
itu sebelum pemilu. Saya melihat pembentukan posko pada waktu itu
ada hubungan dengan gejala ini. Sebab saya kan selama ini mempunyai analisa
bahwa Orde Baru itu jauh lebih kuat daripada lawannya. Kita lihat siapa
lawannya dalam masyarakat Indonesia? Hampir tidak ada! Tetapi kalau ada
perlawanan yang tidak berencana seperti ini, seperti yang terjadi di Situbondo,
dan itu terjadi sekaligus di banyak tempat, ABRI tidak bisa mengatasi percikan-percikan
api sebanyak itu
(bersambung-2/6). |