Datum: Sun, 2 Jan 2000 11:25:02 +0700
Hersri Setiawan:
Surat Negri Kincir - Sebuah Tinjauan
KEN ANGROK - BRANDAL YANG MENJADI RAJA
Untuk Henk Maier
(III - Habis)
AROK - DEDES
(Pramoedya Ananta Toer - Hastha Mitra 1999)
DALAM risalahku „Dunia Yang Belum Sudah“ (1994), pada bab tentang Seni
dan Hiburan di Penjara Orba, pernah kuberitakan tentang bagaimana orang-orang
tahanan dan tapol „berkesenian“ dan menghibur diri di dalam penjara atau
tempat penahanan mereka. „Pergelaran seni“ atau hiburan itu tidak perlu
menunggu kesempatan sampai bisa diselenggarakan di satu ruangan bersama.
Mereka, para tawanan dan tapol seniman dan „suka hibur“ (istilah ini aku
pinjam dari alm. Jacques Leclerc) serta pendengar mereka, sudah biasa „berpentas“
selagi masih berada di sel-sel masing yang terkunci sekalipun.
Acara pergelaran seni atau hiburan demikian biasanya diadakan pada petang
hari, sesudah siang hari besukan atau menjelang hari liburan esok hari
berikut. Acara seni atau hiburan yang dihidangkan tentu saja hanya bentuk
acara yang bisa dibangun dengan alat suara, dan dengan demikian hanya bisa
dinikmati dengan telinga. Misalnya, mendongeng, mendalang, dan bermain
musik. Alat-alat peraga yang dipakai ialah, pertama-tama dan terutama,
mulut dan selanjutnya benda-benda apa saja yang ada di dalam sel: sendok,
piring, cangkir, jeruji sel, sepotong kayu atau sapu lidi, ember plastik,
karet kolor celana untuk dipakai senar.
Acara pergelaran musik dan pedalangan tidak perlu disebut di sini,
karena akan terlalu jauh dari kerangka tulisan ini, yang bermaksud bicara
tentang roman karya Pramoedya Ananta Toer yang paling baru: Arok - Dedes.
Jadi, yang perlu disebut sehubungan dengan pembicaraan sekarang, yaitu
bahwa hiburan atau seni cerita termasuk acara yang disukai tapol, sejak
mereka masih di tempat-tempat tahanan operasional, kemudian dipindah ke
RTC Salemba, Tangerang dan Bukitduri, dan akhirnya di pulau pengasingan
Buru.
Perbendaharaan bahan cerita tukang-tukang tutur ini sangat banyak dan
beragam. Dari Sampek Engtai sampai Sam Kok, dari Sakerah sampai Trunajaya,
dari Romeo dan Yulia sampai Si Bungkuk Notre Dame, dari Ngulandara sampai
Tapé Ayu ... dll dst., bahkan tidak sedikit cerita-cerita karangan
tukang-tukang tutur itu sendiri. (Lebih lanjut baca „Dunia Yang Belum Sudah“
tersebut di atas; dan ikhtisarnya, melalui penerjemahan Keith Foulcher,
pernah juga disiarkan majalah „Indonesia“ Universitas Cornell). Karena
itu lahirnya karya-karya Pramoedya di Buru, yang berarti menambah khazanah
mereka dengan cerita-cerita bermutu, mendapat sambutan yang luar biasa
di kalangan sesama tapol.
Di Buru kesempatan bercerita tidak terlalu banyak, dan berlangsung di
tempat-tempat kerja tertentu saja. Yaitu pada siang hari sambil bekerja
di ladang atau sawah, sehingga dengan sendirinya hanya didengar tapol terbatas
yang bekerja ketika itu. Jika keadaan tidak sedang dalam konsinyes berat,
kesempatan mendengar dongeng tutur juga terjadi pada petang hari di barak,
yaitu antara waktu apel petang (sekitar pukul 18:00) sampai apel terakhir
(sekitar pukul 21:00). Terkadang juga pada sore hari, sepulang kerja Unit
sampai menjelang waktu apel petang, ketika sambil bekerja korve barak,
seperti mengupas kacang, mipil jagung, menganyam welit dsb.
Tentu timbul pertanyaan, bagaimana karya-karya Pramoedya bisa masuk
dalam repertoar juru cerita? Dan kemudian didengar sampai ke tengah sesama
tapol di seluruh unit, yang tak kurang dari delapan belas banyaknya itu?
Sejak Letkol Samsi MS menjadi Komandan Inrehab Buru, 1974, terjadi
banyak perubahan penting dalam kebijakan menangani masalah tapol di Buru.
Tentu saja semuanya demi efisiensi yang, bagi tapol, tak lain berarti pengisapan
keringat dan pemerasan tenaga setuntas-tuntasnya. Perubahan itu, misalnya,
di unit-unit tidak diberlakukan sistem kerja harian tapi borongan; cara
apel militer yang baris-berbaris diganti dengan apel budak (yang dinamai
apel sapi); tapol dengan „keahlian“ khusus juga dikelompokkan khusus.
Sejak waktu itu timbul kelompok tapol pengrajin, tukang kayu, pelukis,
pemusik, dalang dan karawitan dan lain-lain. Gagasan Ibnu BA, seorang
tapol Unit I, yang disampaikan pada Staf Mako untuk membentuk kelompok
tapol pengarang gagal diwujudkan. Tapi Pramoedya yang sudah „tertangkap
basah“ sebagai tukang cerita, dan „diciduk“ dari Unit III serta dipindah
ke Unit I (tinggal di loteng gedung kesenian), tak mungkin lagi dikembalikan
ke Unit asalnya, yaitu Unit III. Dari Dan Tefaat Letkol Samsi MS
ia mendapat tugas menulis. Setiap akhir minggu ia harus melaporkan
hasil karyanya pada Komandan. Pramoedya lalu
bermain „dua buku“. Buku yang satu untuk laporan mingguan ke penguasa,
buku yang lain „disimpan“ sendiri untuk laporan ke masyarakat bebas kelak
jika waktu sudah memungkinkan.
Demikianlah yang terjadi.
Ia lalu mengetik „buku yang lain“ itu berangkap-rangkap, sebanyak mesin
tulis tua itu mampu memukulkan huruf-hurufnya. Biasanya sekitar rangkap
tujuh. Naskah-naskah hasil ketikan rangkap itu, sesudah sekitar lima puluhan
halaman (pernah juga baru tiga puluh lima!) - tentu saja selain naskah
aslinya - dibagi ke unit-unit tertentu. Selama batas waktu tertentu, naskah-naskah
itu beredar di Unit, untuk pada saatnya tertentu harus kembali pada Pramoedya,
dengan disertai komentar yang terkumpul.
Dengan demikian di unit-unit tertentu itu pun, naskah tersebut akan
diserahkan ke seseorang kawan tertentu, yang pada gilirannya kawan ini
akan memberikan kepada beberapa orang kawan tertentu pula. Juga dalam jatah
waktu yang tertentu, agar dibaca secara bergilir. Di antara orang-orang
yang pernah dipercaya ikut membaca naskah itulah, umumnya dengan kehendak
sendiri, menceritakannya pada „yang banyak di bawah“. Entah ketika pada
saat ia sedang bersama banyak kawan mencabut bibit di sawah, memipil jagung
di gudang bama, atau melakukan pekerjaan korve barak.
Seorang di antara „yang banyak di bawah“ itu, di Unit kami - Unit XV
Indrapura - adalah seorang tapol bernama Badawi. Aku kenal Bung Badawi
sejak masa jauh sebelum „Peristiwa“, karena kami berdua sebagai sesama„orang
Lekra“ Cabang Yogya. Begitu juga sebagai sesama „orang Bakoksi“ (Badan
Kontak Organisasi-Organisasi Ketoprak Seluruh Indonesia), kami sama-sama
pengurus pusat. Selain itu Bung Badawi termasuk salah seorang anggota pengurus
Ketoprak „Krida Mardi“, yaitu sebagai Kabag Organisasi. Dengan begitu„keluar“
ia memang tunduk pada para Ketua: Rukiman, Sasmito dan Sudjadi; tapi sebagai
Kabag Organisasi yang sejatinya berarti sekretaris fraksi partai (PKI),„kedalam“
dialah tokoh yang serba paling di dalam organisasi mereka.
Perasaan sebagai „orang yang paling“ itulah, barangkali yang menjadi
dasar. Yaitu, mengapa ia berani menolak versi Pramoedya tentang lakon Arok,
dan penolakan itu dinyatakannya dengan bahasa keras pula..
„Kalau cerita Ken Arok jadi begini, bagaimana saya bisa memainkannya
di panggung ketoprak?“ Suaranya berapi-api dengan wajah geram di depanku
- mungkin karena menganggap aku dan Pramoedya sebagai „sesama Orang Pusat“.
Maka karenanya kedua-duanya harus dibikin tahu „suara bawah“. Tapi, mungkin
juga justru karena, pada satu pihak, merasa dekat dengan aku sebagai „orang
Yogya“ dan „orang Bakoksi“, dan pada pihak lain memang tidak pernah ada
hubungan kepentingan dengan Pramoedya.
„Tanpa kutuk Gandring tujuh turunan, di mana letak lakonnya?“ Katanya
lagi dengan suara sengit dan wajah bersungut.
Aku diam. Bukan untuk membuat pembelaan terhadap Bung Pram - orang
sekuat itu tak perlu pembelaan siapa pun! - tapi mencari kata-kata penjinak
badai yang mengguncang-guncang dada Badawi. Belum lagi sepatah kata kutemukan,
tiba-tiba saja ia sudah meraung lagi menggebyah uyah:
„Sastrawan juga harus ikut tanggung jawab melestarikan pakem, bukan
malah merusak semau-maunya begini!“ Karena ia sudah main gebyah uyah terhadap
semua sastrawan begitu, aku pun menjadi tak segan pamer autoritas di hadapannya.
„Bung tidak usah gusar dong!“ Kataku ketus. „Bung Pram ini tidak menulis
skenario untuk ketoprak. Dia menulis roman sejarah! Naskah ini merupakan
penafsiran Bung Pram tentang tutur babad di dalam bentuk roman. Jadi, untuk
lakon di panggung ketoprak, silakan Bung Badawi berjalan di atas lakon
yang selama ini Bung anggap sebagai baku ...“ (Tentang Badawi, lebih lanjut
baca Buletin YSBI no.2/1999).
Diskusi lalu putus di situ. Belum selesai. Sebenarnya bahkan masih menjadi
tunggakan yang mengganjal sampai sekarang. Aku tidak tahu mengapa harus
putus sebelum selesai begitu! Apakah karena faktor „Wong Yogya“, yang kalau
tidak menyembah ia disembah? Apakah karena faktor „Wong Jawa“ yang baru
kenal demokrasi di bibir? Apakah karena keangkuhan, merasa sebagai sama-sama
pemimpin! Apalagi jika yang satu berbangga-bangga sebagai pemimpin golongan
yang serba paling, sedangkan yang lain justru berbangga-bangga karena tidak
mau berpaling-paling.
Tapi selain alasan batin perseorangan yang sukar ditebak demikian,
mungkin juga karena faktor bahan diskusi itu sendiri. Yaitu urusan pemahaman
babad atau sejarah.
Babad atau sejarah seolah-olah memang bukan bidang ilmu yang berpatok
dan berpagar, yang dipasang dan dikukuhkan serta dijaga oleh para „tukang-tukangnya“
yang disebut sejarawan. Butir-butir babad atau sejarah berhamburan
bagai bijih-bijih tambang dalam hamparan Dunia Kehidupan, karena sejatinya
babad atau sejarah ialah hamparan dunia kehidupan sendiri! Luas tak terbatas
dan terbuka, ibarat hamparan cakrawala angkasa dengan butir-butir benda
langit berhamburan.
Luas tak terbatas dan terbuka bagi siapa saja. Tak perlu „karcis“ untuk
memasuki ruang babad atau sejarah ini. Si Butahuruf yang tak pernah „makan
sekolahan“, dan si Pakar dengan seribu ijazah di tangan, boleh bersama-sama
masuk dan adu bicara di sana. Kalau orang mau belajar tentang berdemokrasi,
barangkali boleh ia berguru pada bidang ilmu yang bernama „Sejarah“ ini.
Demikianlah.
Maka Badawi yang sekedar kenal pa-bengkong (ungkapan Jawa untuk „alif
bengkok“) memang tak perlu „minder“ bersaing suara dengan Pramoedya yang
berpotensi (ketika itu) Doktor Sejarah. Apalagi Badawi memang tidak
bicara tentang sejarah, tapi tentang babad! Walaupun batas antara babad
dan sejarah - sejarah paling mutakhir sekalipun! - karena manipulasi-manipulasi
politik, acap kali sangat tipis belaka. Tambahan lagi dalam berbicara tentang
babad itu pun, Badawi melihatnya dari sudut panggung ketoprak.
Gugatannya yang terucap dalam kalimat „tanpa kutuk Gandring, di mana
letak lakonnya“, kucerna di kepalaku dan berubah menjadi satu pertanyaan
yang mendasar. Kukatakan „mendasar“, karena yang dipertanyakan Badawi pada
hakikatnya bukan sebatas bidang panggung ketoprak saja. Masalah sejati
yang ingin dia pertanyakan ialah, tentang bagaimana atau di dalam apa nilai
atau bobot seni harus dicari dan ditemukan.
Andaikata tidak sedang dalam kegusaran, dan juga sudah terbiasa merumuskan
pikirannya dalam kata-kata, barangkali yang hendak dikemukakan Badawi sekedar
serangkaian kalimat pertanyaan begini:
Bukankah nilai atau bobot seni justru terselubung di dalam keindahan
fantasi? Tapi mengapa kekuatan kutuk Keris Gandring ditakar ulang oleh
Pramoedya dengan penakar kiat politik dan kekuatan lahiriah semata?
Mengapa keris hanya dilihat secara lahiriah, sebagai senjata pembunuh?
Padahal keris ialah buah budaya Jawa, dan inti budaya Jawa ialah keseimbangan?
Mengapa keris tidak dilihat sebagai lambang gagasan kemanunggalan, seperti
halnya kayon atau gunungan?
Bagiku sendiri Pramoedya dalam karyanya „Arok-Dedes“ ini, memang telah
mengajukan satu „tafsir sejarah“ yang berani dan cemerlang. Tafsir sejarah!
Terlepas dari pendekatan seni. Kemudian atas dasar tafsir sejarahnya
yang brilyan itu, legenda Arok - Dedes lalu menjadi bahan mentah yang sama
sekali baru. Di sini pendekatan seni mulai bekerja, dan bahan mentah yang
sama sekali baru itu disusunnya dalam alur yang mencengkam, serta diucapkannya
dalam bahasa lakon yang meyakinkan.
Begitulah yang lahir dari kreativitas Pramoedya.
Kekuatan kutuk Keris Gandring tidak ada lagi, karena telah diberinya
bentuk baru: Pabrik Senjata! Barangsiapa memiliki Keris Gandring, dialah
memiliki Pabrik Senjata. Dan barangsiapa memiliki Pabrik Senjata, dia akan
memiliki kekuasaan yang tak tertandingi. Apakah ini bukan satu gagasan
yang lahir dari premis dasar, bahwa kekuasaan lahir dari laras senjata?
Ada contoh seorang penulis lain - walau dia tergolong penulis „belum
punya nama“ - yang dalam hal ini bisa disejajarkan. Penulis kumaksud ialah
Suparna Sastra Diredja dalam novelnya „M.M.C.“, kependekan dari „Merapi
Merbabu Complex“, yang belum pernah terbit. Aku yakin kedua tokoh ini tidak
atau belum pernah sempat saling kenal pribadi. Dan aku juga yakin, Suparna
alm. (men.1997) belum pernah sempat membaca karya Pramoedya „Arok - Dedes“
ini.
„MMC“ juga bertolak dari dasar pemikiran seperti halnya „Arok - Dedes“.
Dengan menguasai Gandring, Arok merebut Tumapel dan kemudian Kediri. Gerakan
MMC (1949-54) membangun basis kekuatannya di daerah MMC karena, selain
oleh berbagai-bagai faktor lain, di situ ada pabrik pembikinan senjata
yang telah dikuasai rakyat. (Tentang MMM, baca lebih lanjut „Sedjarah Tentara
Nasional Indonesia Komando Daerah Militer VII Diponegoro (Djawa Tengah)“;
Sedjarah Militer Kodam VII/Diponegoro t.t.: 326-45).
„Arok - Dedes“ ialah sebuah kisah dalam bentuk roman sejarah. Juga„M.M.C“,
Suparna Sastra Diredja sendiri menamakannya sebagai novel sejarah. Kedua-duanya
bukan sekedar roman atau novel dengan sejarah sebagai latar belakang, seperti
misalnya „Bende Mataram“ karangan Herman Pratikto, yang berlatar belakang
sejarah Perang Jawa (1825-30).
Satu perkara lagi ingin kukemukakan.
Roman ini di bawah judul „Arok - Dedes“.
Arok sebagai tokoh pemuja dan pengejar pendirian „kekuasaan terletak
di laras senjata“ sudah terbaca. Tapi di manakah Pramoedya menempatkan
Ken Dedes? Ken Dedes ialah Yang Harum. Dia, yang oleh sejarah belakangan
hari, dimuliakan sebagai inkarnasi dan dipuja dalam patung Prajnyaparamita.
Siapakah Prajnyaparamita?
Kata Sanskerta ini berarti „kesempurnaan“ atau „kebijaksanaan“. Dalam
Budha Mahayana ialah tokoh Dewi, sebagai personifikasi pustaka Prajnyaparamita,
ajaran serta kebijakan yang terkandung di dalamnya. Sebagai penjelmaan
budi luhur, ia adalah Sakti Maha Budha atau Ibunda semua Budha; dalam arti,
bahwa kesedaran yang sempurna itu terbit dari prajnyaparamita atau sempurnanya
kebijaksanaan.
Itulah sejatinya Dewi Prajnyaparamita alias Ken Dedes.
Jika menilik kembali jalannya babad, tanpa Ken Dedes pastilah Ken Arok
tidak akan mungkin tampil di atas panggung sejarah sebagai cikal bakal
dinasti Singasari dan Majapahit. Bisa saja namanya akan tetap dicatat oleh
sejarah. Tetapi dicatat sebagai „tokoh hitam“ yang gentayangan mengacau
ketenteraman masyarakat.
Dalam karya-karya sebelumnya, Pramoedya Ananta Toer selalu cenderung
mendudukkan perempuan di atas semua; misalnya Kartini, si Midah, Ontosoroh,
Calon Arang. Tapi kali ini Dedes, setelah dilucuti dari gelar kehormatannya
oleh Pramoedya, ia tidak diberi ruang barang sedikit. Bahkan sebagai iga
sempalan yang „surga nunut neraka ikut“ pun tidak! Mengapa bisa terjadi?
Tentu saja hanya Pramoedya pribadi bisa memberikan alasannya. Tapi
ijinkan aku menduga-duga dan berharap.
Pertama, Pramoedya tidak ingin gambaran Ken Arok menjadi pudar dan
bahkan tenggelam di bawah bayangan Ken Dedes. Kedua, Ken Dedes akan diangkat
sebagai tokoh kisah tersendiri di kelak kemudian hari. Mari kita tunggu
bersama-sama!***
|