KEN ANGROK - BRANDAL YANG MENJADI RAJA (2)
Fri, 31 Dec 1999 13:12:57 -0700 (MST)
Hersri Setiawan
Surat Negri Kincir - Sebuah Tinjauan
KEN ANGROK - BRANDAL YANG MENJADI RAJA
Untuk Henk Maier
(II)
AROK - DEDES
(Pramoedya Ananta Toer - Hastha Mitra 1999)
PARARATON karangan berbentuk gancaran, disusun dalam akhir abad ke-15.
Di dalamnya dirangkum cerita-cerita dan kronik kejadian-kejadian sejarah
yang penting. Di atas sudah disebut, nama „Pararaton“ sama seperti Bustan
as-Salatin, artinya kitab tentang para raja. Tapi yang dimaksud ialah raja-raja
dari kerajaan Singasari dan kerajaan Majapahit, sebagai penerus kerajaan
yang dibangun oleh raja bertangan besi Ken Angrok itu.
Lebih menyempit lagi tokoh sentral Pararaton ialah Ken Angrok, pendiri
dinasti raja-raja Singasari dan Majapahit, sehingga kisah tentang kehidupannya
segera dituturkan sejak lembar pertama kitab. Hampir separoh isinya bercerita
tentang Ken Angrok, yang merupakan campuran antara khayal dan kenyataan.
Dari sudut sejarah semua sejarawan menyebut, bahwa mutu kesejarahan Negarakertagama
(syair Prapanca, 1365) lebih andal ketimbang kidung Pararaton.
Syahdan.
Runtuhlah kerajaan Kediri, dan bangunlah kerajaan Singasari. Oleh Ken
Angrok. Ia anak Ken Endok, petani desa di tepi Brantas di kawasan Tumapel,
di utara kota Malang sekarang. Karena kemiskinan, tapi sangat mungkin juga
karena lahir tak berbapa, sejak selagi masih bayi ia dibuang ibunya.
Dengan harapan agar bayi itu ditemu seseorang, dan akan diasuh serta dibesarkannya.
Harapan itu memang terjadi. Ia ditemu seseorang pencuri. Sehingga „Bocah
Tiban“ ini pun tumbuh dan menjadi besar sebagai pencuri dan penyamun. Tapi,
sekalipun pencuri, Bocah ini memang cerdik dan panjang akal. Tumapel
ketika itu di bawah kekuasaan seorang adipati, Tunggul Ametung, yang tunduk
di bawah kekuasaan Raja Kertajaya di Kediri (1191-1222). Berita tentang
kejahatan pencuri ini tersebar juga di wilayah Kediri. Maka diperintahnya
Tunggul Ametung agar menangkap pencuri itu.
Suatu ketika ia dikejar orang Tumapel beramai-ramai hendak ditangkap.
Tiba di pinggir kali perbatasan ia terpaksa berhenti. Sejurus termangu.
Tiba-tiba saja ia mendapat akal. Di pinggir kali itu ada sebatang
pohon siwalan. Ia segera memanjat pohon itu sampai ke ujung. Duduk di salah
satu pelepah daun. Ketika orang-orang tiba di situ, segera mereka mengepung
pohon tal sambil berseru-seru menyuruh si Brandal turun. Salah seorang
dari mereka segera memanjat pohon itu dengan tangkas. Sementara itu si
Brandal tampak mengepit dua pelepah daun tal di kedua belah tangannya.
Selagi orang masih sibuk bertanya-tanya di hati masing-masing tentang apa
yang akan terjadi, si Brandal dengan bersayap daun tal telah melayang terbang
ke daratan seberang sana sungai. Orang-orang itu gagal menangkap
si Pencuri. Dengan hati kesal tapi juga rasa kagum mereka kembali ke desa.
Tanah seberang sungai itu wilayah kerajaan lain, yang tak mungkin mereka
masuki beramai-ramai. Lagi pula arus kali itu pun tidak bersahabat. Lolos
dari pengejaran, si Brandal bersembunyi beberapa lama.
Sementara itu dewa-dewa di Suralaya berunding, mencari jalan bagaimana
bisa menyelamatkan si Brandal. Di persidangan para dewa ini ternyata Brandal
ini justru menjadi rebutan ketiga-tiga dewa Trimurti. Semuanya mengaku
sebagai yang berhak atas pemuda brandal yang berani dan panjang akal itu.
Dewa Brahma dan Dewa Syiwa saling mengaku sebagai ayahnya. Sedangkan
Dewa Wisnu mengaku, bahwa pada tubuh Brandal itulah ia menemukan tempat
awatara atau titisannya yang terbaru. Namun begitu kelak, jika si
Brandal sudah tampil sebagai raja Ken Angrok pembangun dinasti raja-raja
Singasari, ternyata ia sendiri lebih cenderung pada Syiwa. Sehingga oleh
karena itu untuk nama dinasti atau wangsa yang dibangunnya pun, Angrok
memilih nama Girindrawangsaja - „keluarga yang lahir dari Girindra“. Girindra
ialah nama lain dari Syiwa. Entah sejak kapan sebutan Angrok diberikan
pada tokoh ini. Barangkali sejak para dewa selesai bersidang untuk menyelamatkan
Angrok dari pengejaran itu. Keputusannya, bahwa Wisnu ditugasi agar mengirim
seorang Brahmana bernama Lohgawe untuk pergi ke Tanah Jawa. Adapun tugas
Lohgawe agar memerintahkan Angrok berhenti menyamun, dan mengantarnya menghamba
pada Tunggul Ametung. Ketika Angrok sudah dibawanya menghadap, Sang Adipati
tidak mengenal, bahwa dia inilah tokoh penyamun dan pemerkosa yang menjadi
pergunjingan Tumapel dan Kediri itu.
Singkat cerita Ken Angrok diterima sebagai hamba prajurit kawal. Tugasnya
sehari-hari menjadi penjaga pintu gerbang istana kadipaten. Setiap kali,
jika Tunggul Ametung bersama permaisurinya, Ken Dedes, liwat keluar-masuk
gerbang istana, Ken Angrok mencuri pandang pada wajah sang putri. Ia mengagumi
kecantikannya, dan diam-diam jatuh cinta kepadanya. Suatu hari, seperti
hari-hari sediakala, ia sedang duduk berjaga di pintu gerbang. Ketika Ken
Dedes turun dari kereta, kaki sebelah sudah di atas injakan kereta dan
kaki yang lain masih di lantai kereta, tersingkaplah sedikit kain yang
dipakainya. Barang satu jurus saja. Tapi cukup bagi mata si Angrok, mata
Pencuri, untuk menangkap suatu pemandangan yang aneh. Di balik kain itu,
dan bersumber pada pangkal selangkang, mata Angrok menangkap nyala yang
sangat menyilaukan!
Malam itu ia kembali ke Lohgawe. Menceritakan apa yang dilihatnya,
dan menanyakan apa takbir maknanya. Didengarnya keterangan sang Brahmana,
bapak angkatnya yang arif itu, dan dicernanya di dalam pikirannya. Katanya,
nyala itu ialah sinarnya sakti. Dan yang dinamakan sakti, yaitu kekuatan
atau kekuasaan di atas kodrat, yang merupakan sumber pancaran kejayaan
dan keagungan ... (Kajian ilmiah tentang daya adikodrati yang memancar
dari aurat perempuan itu, antara lain, pernah dibuat oleh Prof.Dr. Prijono).
Angrok kembali ke istana dengan tekad bulat: Merebut Ken Dedes dari Tunggul
Ametung, dan menyingkirkan Adipati ini dari tahtanya.
***
Pergilah Angrok pada salah seorang pandai besi terkenal, yang tinggal
di desa Gandring. Pandai besi ini disuruhnya membikin sebilah keris, dan
harus selesai secepat-cepatnya. Akhirnya waktu lima bulan disepakati
kedua belah pihak. (Ensiklopedi Indonesia, Ichtiar Baru - Van Hoeve
1981, menyebut Gandring berasal dari desa Lulumbang Jawa Timur. Walaupun
begitu belum berarti bahwa Gandring adalah nama pandai besi itu. Bisa juga
baik Gandring maupun Lulumbang kedua-duanya nama desa).
Sesudah lima bulan, sesuai dengan kesepakatan bersama, Angrok datang
untuk mengambil keris pesanannya itu. Tapi ketika ia datang, keris ternyata
belum selesai benar dan belum berhulu. Angrok menjadi marah, dan ditikamnya
Empu Gandring dengan keris bikinannya sendiri. Sebelum nafas terakhir putus
diembuskan, Empu itu masih sempat mengucapkan kutuk ramalannya: Bahwa tujuh
orang raja berturut-turut akan mati di ujung kerisnya bikinannya itu!
Angrok, si mantan pencuri besar, sungguh seorang ahli siasat yang licin
tapi juga licik. Untuk meraih cita-citanya menyingkirkan Tunggul Ametung,
keris Gandring dipinjamkannya kepada sesama kawan prajurit kawal. Kebo
Ijo, namanya. Beberapa lamanya keris bagus itu sengaja dibiarkannya
menjadi hiasan pinggang Kebo Ijo. Sehingga setiap prajurit Tumapel tahu,
dan menganggap keris Gandring itu milik Kebo Ijo. Sesudah pendapat
umum terbentuk demikian, pada suatu malam Angrok mencuri keris itu, dan
segera dipakainya untuk membunuh Tunggul Ametung. Keris tetap ditinggalkan
tertancap di jantung Sang Adipati yang malang. Tapi lebih malang lagi Kebo
Ijo. Ia segera ditangkap dan dijatuhi hukuman kisas. (Pada akhir
jaman Hindia Belanda dulu, di dinding Sekolah Rakyat di desaku, aku melihat
lukisan yang menggambarkan peristiwa hukuman kisas Kebo Ijo. Anehnya di
salah satu pinggir alun-alun tempat hukuman di lakukan ada seperangkat
kecil gamelan dengan penabuhnya, sementara itu si algojo dengan keris telanjang
siap di depan Kebo Ijo). Kebo Ijo ditangkap dan dihukum mati. Sedangkan
sang aktor intelektualis perbuatan makar ini, bukan saja bebas dari getah
kejadian! Ia bahkan satu-satunya yang berhasil merebut segala nikmat daripadanya.
(Aneh, bukan? Kata pepatah Perancis sejarah tidak akan pernah berulang.
Tapi mengapa Letkol Untung (Kebo Ijo) dan PKI (Gandring) ditumpas, sementara
itu Jendral Suharto (Arok) yang panen raya?)
Bahwa Angrok adalah sang aktor intelektualis. Tapi Ken Dedes sendiri
pun - permaisurinya - baru pada tahun 1207 tahu dengan tepat, siapa sebenarnya
dalang di balik drama berdarah itu.
Ken Angrok berhasil merebut nikmat. Kekuasaan Tumapel jatuh di tangannya,
dan Ken Dedes jatuh dalam pelukannya. Ketika itu permaisuri Tumapel
ini sudah sembilan bulan. Bayi buah harapan Tunggul Ametung, sebagai penerus
pemegang tahta Tumapel.
Ken Angrok segera bekerja cepat. Daerah kerajaan Janggala, di timur
Gunung Kawi, diserbu dan direbutnya. Janggala ialah separoh bagian
dari wilayah kerajaan Airlangga dahulu, di samping Panjalu, yang meliputi
kawasan sepanjang pesisir utara dari Surabaya ke Pasuruan. Juga daerah-daerah
di sebelah timur kawasan Janggala menjadi sasaran ekspansi Angrok ke timur.
Ketika itu ketidakpuasan terhadap Kediri memang sedang merajalela di Janggala.
Para brahmana sedang bertentangan tajam dengan raja Kediri, Kertajaya.
Angrok yang tahu keadaan ini, dengan cerdik memanfaatkannya. Maka banyak
para brahmana yang melarikan diri dari Kediri, mencari suaka ke Tumapel.
Pertentangan Ken Angrok dengan Kertajaya semakin meruncing, sehingga perang
Tumapel - Kediri tak terhindarkan. Pada pertempuran di Ganter (1222)
Kertajaya dikalahkan. Ken Angrok lalu menggantikan Kertajaya, raja terakhir
dari keturunan Airlangga, dan menobatkan diri sebagai raja Sri Rangga(h)
Rajasa. Ia lalu membangun kratonnya di Kutaraja, yang kemudian terkenal
sebagai Singasari.
Kejadian sejarah yang selanjutnya dituturkan babad, ialah rangkaian
peristiwa-peristiwa pembunuhan seperti yang telah diramal Empu Gandring.
Dalam hubungan ini yang kiranya perlu dikemukakan ialah, bagaimana sepak
terjang Arok sebagai Rangga Rajasa dalam memimpin negeri, sesudah perang-perang
penaklukan ke timur „selesai“. Sebab hanya dengan begitu kita akan bisa
melihat dengan lebih tepat, siapakah Angrok atau Arok sejatinya. Apakah
ia seorang Pembangun, ataukah seorang Pengguncang.
Di bawah ini D.G.E. Hall, dalam A History of South-Esat Asia (ed. ke-3
1968, cet. ulang 1970 [dua kali], 1975, 1976), menulis sedikit tentang
kurun waktu Arok dan dinastinya, antara lain sebagai berikut:
„Selanjutnya fakta semasa pemerintahannya tak banyak diceritakan dalam
Pararaton sampai ia meninggal tahun 1227. Dan di dalam kisah tentangnya
itu terdapat sangat banyak legenda, sehingga tidak bisa dibedakan lagi
mana yang fakta dan mana yang fiksi. Rajasa sendiri kemudian dibunuh Anusapati,
anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Sesudah Anusapati memerintah sekitar
dua puluh tahun, ia pun mati dibunuh oleh saudara tiri sendiri, Tohjaya.
Ia, anak Ken Arok - Ken Umang ini, ganti naik tahta (1248). Tapi masih
dalam tahun yang sama, Tohjaya pun mati dibunuh pengiringnya, dan tahta
diduduki anak Anusapati, Ranggawuni, yang kemudian bergelar Jayawisnuwardana
(1248-68).
„Kisah sekitar tahun-tahun pertama Singasari sangat sedikit yang diceritakan.
Kecuali tentang rangkaian pembunuhan berdarah, yang diikuti dengan maraknya
raja yang satu disusul raja yang lain itu saja. Walaupun begitu ilmu purbakala
menyingkap dua perkembangan yang sangat menarik dari kurun waktu ini. Dalam
arsitektur dan seni, unsur-unsur pribumi Jawa sangat berkembang. Di bidang
agama simbiosis antara Siwa dan Budha menjadi semakin padu. Walaupun ciri-ciri
Hindu atau Budha lahiriah di dalam seni pahat tetap kental, namun kesejatian
maknanya harus dicari di dalam folklor dan legenda pribumi. Semua ciri-ciri
itu mendedahkan kekuatan-kekuatan adiluhung dan adikodrati yang menjadi
pujaan rakyat. Ketika Jayawisnuwardana meninggal, abunya dibagi dua dan
disimpan di dua candi. Di Candi Mleri ia dipuja sebagai titisan Siwa, dan
di Candi Jago sebagai Bodhisatwa Amogapasya. Teras dan lorong Candi Jago
dipenuhi dengan relief yang melukiskan cerita-cerita jataka dari Tantri
Jawa Kuno.
Proses unifikasi keagamaan itu disempurnakan oleh raja Singasari terakhir,
Kertanegara, yang pada 1268 menggantikan ayahnya, yaitu dengan menjalankan
pemujaan Siwa-Budha.“ Demikianlah D.G.E. Hall.
Sebenarnya ada „raja Jawa“ yang, sengaja kutawarkan sebagai bahan perbandingan,
mungkin lebih tepat mendapat julukan„Sang Pembangun“. Tidak, padaku tidak
terlintas sedikit pun untuk mengajukan nama Suharto! Walaupun ia, Raja
Besar Jawa Raya ini, selama lebih tiga puluh tahun kekuasaannya telah mendapat
gelar „Bapak Pembangunan“. Raja yang kutawarkan itu ialah Airlangga,
yang dinobatkan oleh para brahmana menjadi raja (1019-42). Ini beda antara
Airlangga dengan Angrok. Airlangga disusul di pelarian, agar kembali menjadi
raja. Sedang Angrok, seperti namanya sudah menunjukkan, naik panggung sejarah
dengan jalan kup melalui pembantaian. Sama seperti kisah bagaimana Suharto
menjadi maharaja!
Dalam tahun-tahun awal pemerintahannya Airlangga, dalam hal ini sama
seperti Angrok, memperteguh kekuasaannya dengan perang penaklukan ke arah
timur. Akhirnya kerajaan-kerajaan di Jawa Timur kembali bisa dipersatukannya.
Pembangunan dilakukan sehingga perdagangan berkembang, Jawa Timur menjadi
makmur, Ujung Galuh dan Tuban menjadi pelabuhan-pelabuhan dagang yang penting.
Ketika tanggul Sungai Brantas rusak, sehingga banyak daerah menderita
akibat genangan air, Airlangga membangun bendungan di dekat Waringin Pitu.
Arus Brantas menjadi berhasil dikendalikan karenanya, sehingga pelabuhan
Ujung Galuh menjadi semakin ramai. Pelabuhan Ujung Galuh tidak hanya berdagang
dengan „Timur Besar“, tapi juga menjadi tempat berlabuh para pedagang barat:
Aceh, Tamil, Singhala, Malabar, Cham, Mon, dan Khmer.
(Berita tentang usaha pembangunan Airlangga di atas, walhasil, berbeda
bagaikan bumi dan langit dengan usaha pembangunan Maharaja Suharto dalam
kisah Kedung Ombo). Di istana Airlangga tinggal seorang pujangga,
Kanwa namanya. Karyanya, „Arjunawiwaha“, boleh dibilang sebagai hasil karya
sastra Jawa yang pertama. Melalui Arjunawiwaha ini, juga dari Prasasti
Airlangga, kita pun bisa melihat dan merasakan, bahwa wayang yang merupakan
hasil kebudayaan India itu telah mendapat bentuk dan sifatnya yang Jawa.
Di samping kakawin Arjunawiwaha, dari jaman Erlangga juga lahir kisah Calon
Arang si janda dari desa Girah - yang juga sudah ditulis ulang oleh Pramoedya
Ananta Toer.
Setelah meninggal (1049) sebagai pertapa yang disebut sebagai Batara
Guru (salah satu gelar Syiwa), Airlangga dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan.
Di sini raja yang penting dalam sejarah Indonesia ini, dilukiskan dalam
arca sebagai Wisnu mengendarai Garuda yang sangat bagus. Garuda yang dilukiskan
sangat garang, dan Wisnu pengendaranya sangat tenang, menjadi paduan keselarasan
yang indah. Ini barangkali juga mencerminkan suasana umum kerajaan Jawa
Timur semasa pemerintahan Airlangga itu.
Tidak aneh jika suasana selaras demikian tidak ada di jaman Arok. Juga
tidak aneh kalau Arok hanya mewarisi kita dengan Pararaton, yang lebih
sarat dengan dongeng ketimbang data kejadian. Dua unsur perkembangan menarik
yang disebut D.G.E. Hall di atas, tentu tidak bisa terselenggara selama
lima tahun pemerintahan Arok. Kabut dendam dan khizit, pembunuhan dan tahta,
masih menggelantung berat di langit Singasari ketika itu.
Maka Ken Angrok, menurut hematku, lebih absah sebagai Sang Pengguncang.
Ia seorang tokoh brandal, yang sanggup melakukan segala tindak kekerasan
dan perkosaan terhadap apa dan siapa saja, selain terhadap anak dan cucu
sendiri. Persis seperti gambaran pelukis Djakapekik: Celeng! Lalu,
siapa tokoh raja Jawa yang pantas disebut Sang Pembangun? Bukan, bukan
Soeharto yang meninggali kita dengan „pararatonnya“, melalui tangan G.
Dwipayana dan Ramadan K.H., „Soeharto - Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya“.
Raja Jawa Sang Pembangun, itulah Airlangga!
***(Bersambung)
|