| Penggambaran Gerwani Sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan
(Fitnah dan Fakta Penghancuran Organisasi Perempuan Terkemuka)
Oleh: Stanley
Melihat mangsanya datang, anggota PR dan Gerwani yang sudah
diindoktrinasi dengan kebencian dan kedengkian berteriak-teriak
histeris. Sambil menari-nari, mengelilingi para pahlawan revolusi
itu,
anggota-anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat, BTI, SOBSI dan lain-lain
menyanyikan lagu-lagu revolusioner ciptaan komponis-komponis Lekra,
antara lain lagu-lagu „Ganyang Kabir", „Ganyang 3 Setan Kota" ciptaan
Soebroto K Atmodjo dan lagu pop yang sedang menjadi top hit pada waktu
itu, „Genjer-Genjer".
Untuk memanaskan suasana, banyak di antara anggota PR dan Gerwani itu
bahkan menari … tanpa busana. Itulah apa yang mereka namakan „pesta
harum bunga". Pesta harum bunga seperti ini memang sudah beberapa malam
mereka lakukan dalam rangka mengakhiri masa latihan. Pada saat-saat
itu
batas-batas moral dianggap tidak ada lagi. Hubungan seks secara liar
di
antara para anggota PR dan Gerwani memang sengaja dibiarkan oleh
pimpinan latihan kemiliteran, untuk memberi semangat. Seorang dokter
bersama dokter Ceropeboka telah memberikan suntikan-suntikan yang
diduga berisi obat perangsang.
Anggota-anggota PR, Gerwani dan anggota-anggota ormas PKI lainnya yang
sudah kemasukan setan itu kemudian diperintahkan untuk menyiksa para
tawanan tersebut, sebelum diselesaikan. Nyonya Jamilah yang baru
berumur 17 tahu itu mengisahkan bahwa mula-mula sukarelawan-sukarelawan
memukuli para korban yang berteriak-teriak kesakitan. Kemudian disusul
sukarelawati-sukarelawati Gerwani dan PR beraksi. Mereka yang sudah
kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya itu menusuk-nusukkan pisau ke
tubuh para korban. Bahkan para korban yang sudah tak berpakaian itu
dipotong kemaluannya dengan silet dan dimasukkan ke mulut. Ada 100
orang lebih sukarelawati yang melakukan penyiksaan di luar batas
kemanusiaan itu sebelum para korban diseret ke tepi sebuah sumur tua.
Berita yang dimuat Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha yang kemudian
dikutip berbagai suratkabar, dengan sejumlah tambahan seperti
mata
dicungkil dan lain-lain, tersebut betul-betul membuat pembaca mual,
marah, sekaligus bergidik. Tak ada yang bisa membayangkan bahwa
ada
manusia yang bisa berbuat kejam di luar batas kemanusiaan seperti itu.
Banyak di antara mereka yang membayangkan para perempuan pelaku
kekejaman itu bukan manusia. Mereka lebih mirip sebagai setan perempuan
yang jahat, kuntilanak (sundel bolong). Apalagi belakangan, ditambah
dengan pemberitaan tentang meninggalnya Ade Irma Nasution akibat
berondongan peluru para pembunuh yang menyasar pimpinan Angkatan Darat,
Jendral AH Nasution.
Mayjen Soeharto, menanggapi berita tersebut dengan menyatakan,
„Jelaslah bagi kita yang menyaksikan dengan mata kepala, betapa
kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab
dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September."
Antara Fakta dan Fiksi
Yang jadi pertanyaan, betulkah cerita itu sebuah fakta? Apa bukan
sekadar fiksi „ajaib" dari sebuah imajinasi yang hebat? Yang jelas,
dari sisi jurnalistik, berita tersebut bukan hanya meragukan, tapi
sulit untuk dipertanggungjawabkan.
Sejumlah kalangan menyatakan cerita tersebut lebih merupakan sebuah
fiksi yang sengaja dihadirkan untuk memberi nuansa teror, sekaligus
melegalisasi terror yang lebih kejam terhadap mereka yang dituduh
bertanggungjawab atas pembunuhan para „Pahlawan Revolusi". Dalam hal
ini, sejumlah kalangan mensinyalir, agen intelijen Amerika (CIA)
terlibat.
Kampanye atas kekejaman itu bukan saja dibuat atas dasar kebohongan
dan cerita rekaan semata, tapi memang sengaja dirancang untuk menyulut
kemarahan umum terhadap kaum komunis dan sekaligus menyiapkan panggung
pembunuhan besar-besaran dengan alasan „dendam rakyat".
Gelombang pembunuhan massal yang ‘konon" merupakan aksi balas dendam
„rakyat" terhadap kelompok komunis yang terjadi pada 1965-1967 sendiri
sebetulnya lebih merupakan sebuah hasil manipulasi kebenaran. Sebab,
faktanya operasi ini dilakukan oleh pasukan elit Angkatan Darat yang
melakukan gelombang „pergerakan" dari arah Jawa Barat ke Bali. Pasukan
yang dipimpin langsung oleh Sarwo Edhi ini dalam melakukan operasinya
dengan mengerahkan para pemuda setempat. Ada banyak kesaksian
yang
menceritakan bagaimana operasi pembersihan ini dilakukan secara brutal,
tanpa mengindahkan hukum dan penghormatan hak asasi, dan lebih
merupakan aksi balas dendam yang tak jelas juntrungannya.
Fiksi soal kekejaman yang dijadikan fakta itu bertahan puluhan tahun
lamanya dan dikutip berulang-ulang oleh para wartawan dan kalangan
sejarawan. Fakta dan fiksi jelas dua hal yang berbeda. Fakta
asli
sebetulnya bisa diungkap melalui publikasi hasil otopsi tim medis
terhadap jenasah 6 jendral dan seorang perwira yang dikubur di Lubang
Buaya di kawasan Halim. Namun fakta ini sepertinya secara sengaja
disembunyikan rapat-rapat. Baru pada 1987, seorang indolog dari
Universitas Cornell, Ben Anderson, mengungkapnya dan menimbulkan
kehebohan.
Dari hasil visum tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr Roebiono
Kertapati didapati bahwa cerita soal penyayatan kelamin oleh anggota
Gerwani merupakan isapan jempol belaka. Kelamin semua jenasah utuh.
Malah ada sebuah jenasah yang kelaminnya belum disunat. Diduga karena
almarhum memang beragama Kristen. Tentang bola mata yang copot, hal
itu
dikarenakan saat dicemplungkan ke sumur posisinya adalah kepala terlebih
dulu.
Tim dokter yang memeriksa keadaan jenasah merasa ketakutan dengan
adanya tekanan lewat pemberitaan tentang penyayatan penis para jendral
yang sama sekali tak terbukti. Mereka mengaku menemui kesulitan dengan
penyusunan laporan akhir otopsi, sebab berita yang dilansir media massa
dan kemudian berkembang di masyarakat sudah terlanjur misleading.
Fitnah Gerwani dan Lubang Buaya
Menurut Sakia, yang menurut saya berhasil melacak dan merekonstruksi
seluruh bangunan fiksi atas kekejaman perempuan anggota Gerwani di
Lubang Buaya, ada unsur ideologis, yaitu terjadinya sebuah amuk
ideologis. Di mana para perempuan pelakunya adalah kelompok komunis
yang murtad. Mereka, yang konon, dengan bertelanjang menari-nari dan
memotong-motong zakar para jendral itu sudah keluar dari model
stereotip perempuan Indonesia yang normal, „yang baik dan benar".
Namun demikian, dalam penelusurannya, Saskia menyimpulkan bahwa sebagai
organisasi Gerwani tidak terlibat dalam Putsch. Memang benar pada
saat-saat itu Gerwani sudah sangat dekat dengan PKI, hingga ada
garis
komando langsung antara pimpinan PKI dan perseorangan anggota Gerwani,
khususnya melalui para anggota PKI di dalam Gerwani. Keberadaan
sejumlah anggota Gerwani di Kompleks Halim (Lubang Buaya) saat itu
lebih dikarenakan adanya latihah para sukarelawan untuk mempersiapkan
peningkatan konfrontasi dengan negara „boneka" Inggris, Malaysia.
Mereka adalah bagian dari 21 juta sukarelawan terdaftar di seluruh
Indonesia yang memenuhi „panggilan Dwikora" sebagaimana dikeluarkan
Presiden Soekarno. Sebagian dari mereka lebih banyak mengurusi
dapur
umum.
Gerwani sendiri mempunyai tempat latihan di Cipete Jakarta Selatan.
Di
sana sekitar 50 pemudi dilatih, dalam rangka program pendidikan resmi
yang diselenggarakan Front Nasional, yaitu Pendidikan Kader Revolusi
(Pekarev). Juga sejumlah organisasi perempuan lain mempunyai
tempat
latihan masing-masing.
Tempat latihan Lubang Buaya itu sendiri baru diadakan mulai musim
kemarau 1965. Mayor Udara Suyono memberikan latihan bagi pemuda-pemudi
sukarelawan kampanye Malaysia itu. Sekurang-kurangnya mulai Juli 1965
para anggota PKI, Pemuda Rakyat, SOBSI, BTI, Gerwani telah mengikuti
latihan di sana secara bergelombang. Tempat latihan tersebut tidak
hanya digunakan untuk sukarelawan dari keluarga Komunis, karena sesudah
1 Oktober juga para pemuda NU diharapkan akan datang dan mengikuti
latihan di tempat itu.
Selain sejumlah perempuan anggota Gerwani, juga perempuan dan pemudi
dari organisasi lain berada di Halim. Mereka itu para sukarelawati
dan
para istri prajurit dari Divisi Cakrabirawa, ada yang anggota biasa
Gerwani dan ada pula yang bukan anggota sama sekali. Sedangkan
sukarelawati tersebut terdiri dari para pemudi remaja berumur 13 sampai
16 tahun, yang telah dilatih kemiliteran dalam rangka kampanye Dwikora.
Pada malam 30 September sekitar 70 perempuan, sebagian besar
pemudi-pemudi dari Pemuda Rakyat, selebihnya dari SOBSI dan BTI serta
beberapa lagi dari Gerwani, termasuk juga beberapa istri prajurit
Cakrabirawa dikumpulkan di Lubang Buaya. Apa yang mereka lakukan?
Berikut saya kutip pengakuan salah seorang istri Cakrabirawa yang
pernah hadir di sana sebagaimana diucapkan pada Saskia,
Beberapa hari sebelum kup saya dijemput untuk melakukan pekerjaan
ekstra di Halim. Ia tidak berterus terang, apa pekerjaan itu. Tapi
seperti biasa, saya mengikutinya saja. Begitu sampai di sana, saya
diminta menjahit pita warna-warni pada pakaian-pakaian seragam, sebagai
pembeda antara kawan dan lawan. Pekerjaan itu banyak sekali, sehingga
kami mengerjakannya sampai larut malam. Karena itu pada pagi hari 1
Oktober saya tidur nyenyak sekali, sampai kami terbangun oleh bunyi
tembakan-tembakan. Di luar masih gelap, dan kami semua menjadi
ketakutan. Kami lari ke lapangan, di sana kami melihat beberapa tentara
menggiring jendral-jendral culikan mereka. Suasananya ramai sekali.
Karena mereka terus-menerus meneriakkan „kabir" pada jendral-jendral
itu. Kata yang biasa saja sebenarnya, karena kami sudah selalu
mengucapkannya. Jendral-jendral itu dipukuli, dan akhirnya mereka
ditembak mati, dan dimasukkan ke dalam sumur. Begitu marah para tentara
itu, sehingga peluru dihamburkan ke tubuh korban, walau pun mereka
sudah mati. Kemudian, dengan ketakutan, baru kami pun pergi ke sumur.
Belakangan mereka menyiarkan cerita-cerita tentang tari-tarian,
perbuatan seks yang tidak normal, memotong kemaluan. Semuanya itu sama
sekali bohong. Jendral-jendral itu sangat ketakutan, sehingga berdiri
saja mereka tidak bisa! Tapi pemudi-pemudi sukarelawan itu juga
ketakutan. Mereka bersembunyi berdesak-desakan di sudut!
Saya tidak tahu harus berbuat apa, sesudah tentara-tentara itu pergi.
Akhirnya beberapa di antara kami pergi ke kantor Gerwani, ada lagi
yang
lari pulang dan menyembunyikan seragam mereka. Saya juga melarikan
diri, tapi beberapa minggu kemudian tertangkap, dan disiksa luar biasa.
Lima kali mereka terpaksa membawa saya ke rumah sakit. Dua tahun
sesudah itu sebagian tubuh saya menjadi lumpuh. Tapi saya tidak membuka
mulut untuk mereka. Tidak satu nama pun saya sebut di depan mereka.
Sesudah mereka menyiksa saya yang pertama kali, saya minta mereka
lipstik, bedak dan sikat gigi. Kalau mereka tidak memberinya, saya
bilang, saya tidak mau melihat mereka lagi. Beberapa wanita dan
gadis-gadis tahanan itu mengatakan pengakuan apa saja yang mereka
minta. Saya tidak. Itu sebabnya saya tidak pernah dibawa ke pengadilan.
Karena kalau dibawa ke pengadilan, semua kebohongan mereka akan
terbantah. Tapi gadis-gadis itu memang disiksa luar biasa. Empat di
antaranya mereka perkosa. Semuanya disabeti, botol dimasukkan ke liang
vagina dengan kekerasan. Umumnya kami ditahan empat belas tahun tanpa
pernah diadili.
Pengakuan menarik lainnya diberikan seorang mantan anggota Gerwani pada
Saskia,
Pertama-tama kami mendengar bahwa telah terjadi sesuatu, melalui siaran
radio kira-kira jam 11 pagi tanggal 1 Oktober. Saya menjadi sangat
takut. Kami diharuskan tinggal menjaga kantor, tapi di jalan banyak
tentara lalu lalang. Dan dari kejauhan terdengar suara-suara tembakan.
Saya bermaksud pergi dari kantor. Lama-lama kami mendengar sesuatu
yang
mengerikan telah terjadi. Tapi baru mulai tanggal 10 Oktober pemerintah
melakukan pembersihan terhadap kami. Gerombolan pemuda merampok
rumah-rumah, menggelandang orang-orang Gerwani dan PKI dari rumah
mereka, menyiksa mereka, dan membunuhi mereka. Melalui radio
kisah-kisah mengerikan tentang penyiksaan seksual [terhadap
jendral-jendral] disiar-siarkan. Koran-koran sarat dengan fitnah,
khususnya koran Angkatan Darat Berita Yudha, Api dan koran-koran Islam.
Bagaimana mungkin cerita-cerita ini dianggap benar?
Sebelum masuk Gerwani saya belajar hukum. ... Ketika teman-teman saya
dulu, sekarang sudah menjadi ahli-ahli hukum terkenal, mengunjungi
saya
di penjara, mereka bertanya: „Bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan
pemudi-pemudi dan para jendral itu di Lubang Buaya?" Saya menjawab:
„Kalian kan pernah belajar hukum? Kalau sekiranya mereka dapat
membuktikannya, apa kalian pikir mereka akan menyia-nyiakan kesempatan
untuk membawa gadis-gadis itu ke muka pengadilan? Alangkah bagusnya
propaganda mereka itu!"
Kebingungan memang melanda orang-orang yang dengan cepat sekali
disudutkan sebagai „orang yang terlibat" atau „pelaku" Peristiwa Lubang
Buaya. Mereka yang pada tahun-tahun 1965 merasa dekat dengan ide
Manipol Presiden Soekarno tiba-tiba menjumpai dirinya sebagai seorang
komunis „sejati". Sebuah predikat yang sekonyong-konyong berarti
sebagai manusia anti-Tuhan, berbahaya, pembunuh, keji dan sebaginya.
Banyak di antara mereka yang membayangkan bakal terulangnya kembali
sejarah „pemutar-balikan" fakta Peristiwa Madiun 1948.
Sementara itu, pihak Angkatan Darat dengan bersusah payah akhirnya
berhasil menyusun seluruh mozaik fiksi yang hendak dibangun.
Saksi-saksi „dikutip", dan foto-foto dicetak di koran-koran. Siaran
tv
dan radio sengaja disusun guna mengungkapkan kengerian yang konon
terjadi di Lubang Buaya. Namun, para saksi mata menyatakan semuanya
itu
adalah hasil rekayasa.
Seorang sukarelawati yang hadir di Lubang Buaya bercerita,„Ketika itu
umur saya enam belas tahun, dan saya anggota Pemuda Rakyat. Saya pernah
ikut latihan di Cipete, dan berkali-kali mengikuti latihan Dwikora.
Sehingga waktu diminta untuk ikut ke Lubang Buaya, tentu saja saya
berangkat. Saya melihat bagaimana tentara-tentara itu membunuh
jendral-jendral, dan kemudian saya lari pulang. Pagi-pagi jam sembilan
saya ditangkap, dan ditahan dua minggu. Saya dipukuli dan diinterogasi.
Mereka memaksa kami membuka pakaian, dan menari-nari telanjang di depan
mereka, sementara yang lain mengambil foto kami. Lalu foto-foto itu
disiarkan. Tak lama kemudian saya ditangkap lagi, dan dilepas lagi.
Seluruhnya saya pernah lima kali ditangkap dan dilepas, sebelum
akhirnya mereka putuskan untuk memenjarakan saya. Itu waktu permulaan
November 1965. Dan saya dilepas bulan Desember 1982."
Seperti halnya sukarelawati lainnya, gadis tersebut disiksa luar biasa
selama di penjara Bukit Duri bersama-sama dengan gadis-gadis sesamanya.
Sejumlah anggota Gerwani yang sudah lebih tua berusaha melindungi
anak-anak itu. Tapi akibatnya, mereka lalu dipindah ke tempat lain,
di
sana diinterogasi dan dikembalikan ke Bukit Duri sesudah dipukuli dan
luka-luka memar.
Beberapa orang yang juga mempunyai kesaksian tentang para gadis tahanan
yang ditelanjangi, diambil potret mereka, dan kemudian disiarkan
seakan-akan diambil di Lubang Buaya. Tapi bukan begitu saja cara mereka
menyusun dan menyiarkan kabar bohong. Berbagai cerita lain disiarkan,
sejumlah kesaksian lain pun dipalsukan. Hanya sesudah tahanan-tahanan
Gerwani itu dibebaskan, mereka yang masih hidup bisa mengumpulkan
berbagai cerita yang didengar dari sesama perempuan tahanan. Dari
semuanya itu bisa diketahui, bagaimana pihak militer menyusun
„kesaksian" yang mereka gunakan untuk mendukung kampanye teror mereka.
Cerita fiksi kekejaman Gerwani kian lengkap ketika pihak militer
mendengar ada 3 perempuan dewasa ikut di Lubang Buaya, yaitu Saina,
Emmy dan Atikah. Agen intelijen dan militer segera melakukan
pengejaran. Kebetulan di kawasan Halim, sebagaimana umumnya pangkalan
militer, ada banyak tempat pelacuran. Di tempat tersebut, ada
dua
orang yang bernama Saina dan Emmy. Dua perempuan ini ditangkap dan
disiksa hebat. Para pelacur ini tidak segera dibebaskan. Sementara
itu
Atikah pun tidak pernah tertangkap, ia mengganti namanya dengan
Jamilah. Tapi Angkatan Darat tahu, Atikah alias Jamilah ini berasal
dari daerah Senen. Pengejaran intensif mulai dilakukan di sana, sampai
mereka berhasil menangkap dua perempuan, seorang Atikah dan seorang
Jamilah. Keduanya disiksa hebat. „Jamilah", „Saina", dan „Emmy"
ternyata menjadi sangat berjasa buat tentara dalam membangun plot fiksi
kekejaman anggota Gerwani.
Pelacur Emmy dibebaskan dari blok tahanan kriminil Bukit Duri pada
Agustus 1965. Hukuman itu sendiri dijalaninya atas dasar tuduhan
melacur. Sesudah dibebaskan ia segera kembali ke pekerjaannya di Halim.
Pada Oktober 1965 ia kembali lagi dimasukkan ke Bukit Duri, tetapi
kali
ini di blok tahanan politik. Ia buta huruf dan belum pernah mendengar
apa pun tentang Gerwani. Ia disiksa hebat. Tapi akhirnya kepadanya
dijanjikan akan dibebaskan dan diberi uang sebanyak satu juta dua ratus
ribu rupiah, yang baginya terdengar mustahil, jika ia mau
menandatangani sebuah surat pernyataan. Ia tidak tahu tentang apa
pernyataaan itu, tetapi ia merasa lega karena penyiksaan berhenti,
dan
surat itu pun ditandatanganinya.
Ternyata surat itu berupa pernyataan, bahwa dirinya sebagai Ketua
Gerwani cabang Jakarta dan telah ikut ambil bagian dalam penyiksaan
kelamin terhadap para jendral di Lubang Buaya. Mereka memberinya uang
dua ratus rupiah, dan sisanya konon akan mereka bayar pada saatnya
di
kemudian hari. Sebanyak dua juta rupiah uang itu, masih mereka utang
kepadanya. Ia baru dibebaskan pada 1979. Di penjara ia diajar membaca
dan menulis oleh para tahanan Gerwani, dan juga diberi penjelasan tentang
Gerwani.
Fakta penyiksaan dalam rangka membangun „fiksi" kekejaman itu, menurut
sejumlah kalangan, dilakukan dengan cara yang tak kalah kejamnya.
Gagang pecut ditusuk-tusukkan ke dalam lubang vagina perempuan yang
dipaksa mengaku dirinya sebagai anggota Gerwani yang kejam. Bahkan
tali
pengikat kerbau diikatkan di lehernya. Ia kemudian ditarik berjalan
telanjang di depan para tahanan laki-laki. Seorang narasumber
menceritakan tentang tahanan muda-mudi yang dipaksa bersetubuh,
sementara itu arus listrik disengatkan ke alat kelamin mereka.
Pola Kampanye Kekejaman Gerwani
Petunjuk pertama tentang cara-cara pemanipulasian dengan baik dan tajam
diungkap Saskia. akan dimanipulasikannya pedalaman iman
keislaman
orang Jawa, muncul pada 11 Oktober melalui sebuah artikel pendek dalam
AB yang diawali dengan kata-kata „hantu-hantu di siang bolong". Kata
yang dipakai untuk menyebut hantu itu ialah kuntilanak, roh perempuan
yang mati pada saat persalinan, dan menjelma sebagai perempuan cantik
yang berlubang pada punggungnya. Ruh yang sangat menakutkan ini
bergentayangan pada malam hari.
Artikel Angkatan Bersenjata itu menuliskan, „seperti diberitakan, bahwa
orang-orang kalap (yaitu kerasukan ruh jahat) dari Pemuda Rakyat dan
Gerwani, organisasi-organisasi payung PKI-Aidit, dengan giat melakukan
perbuatan-perbuatan teror. Perempuan-perempuan tak dikenal mendatangi
rumah-rumah para Pahlawan kita, dengan memakai mukena seakan-akan
mereka orang-orang Muslim. Gerak-gerik mereka menimbulkan kecurigaan,
karena jelas mereka itu orang-orang Gerwani. Untungnya rencana jahat
mereka itu telah terbongkar, sebelum sempat melakukan perbuatan jahat
terhadap keluarga para Pahlawan Revolusi. Kita harus waspada."
Tak kalah sadisnya, „cerita" tentang Letnan Tendean diungkap Angkatan
Bersenjata dengan lebih gila lagi. „… cerita ini membuktikan tentang
kebinatangan Gestapu ... Sesudah tertangkap ia disiksa dengan sangat
kejam, karena para penculik itu mengira ia Jendral Nasution. Ia
kemudian diserahkan kepada sukarelawan-sukarelawan Gerwani. lalu dengan
tangan dan kaki terikat, Tendean menjadi permainan cabul setan-setan
perempuan Gerwani, yang perbuatan mereka merendahkan martabat wanita
Indonesia."
Koran yang tak kalah „hebatnya" yang perlu disebut adalah Api Pancasila
(kerap disebut Api saja). Koran ini mengobarkan api kebencian ke
masyarakat dengan cara melemparkan kebingungan. „Bagaimana kita harus
menceritakan pada anak-anak perempuan kita?" tanya Api, khususnya
sesudah memberitakan „cerita" yang sama tersebut di atas. Sehari
sebelumnya, Api juga menyiarkan tuntutan Aisyah tentang pelarangan
Gerwani, karena keterlibatannya dalam Gestapu yang mengakibatkan
„ternodainya martabat wanita Indonesia".
Angkatan Bersenjata menambah bobot fiksi menyeramkan tentang Gerwani
dengan menyatakan bahwa „sukarelawan-sukarelawan Gerwani telah
bermain-main dengan para jendral, dengan menggosok-gosokkan kemaluan
mereka ke kemaluan sendiri".
Berita Yudha Minggu tanggal yang sama memberitakan bahwa tubuh-tubuh
para jendral itu telah dirusak: „mata dicungkil, dan sementara itu
ada
yang dipotong kemaluan mereka. Koran lain juga membuat
kampanye yang
sama. Dikabarkan bahwa Dewan Gereja Indonesia (DGI) menyatakan perasaan
kesedihannya yang mendalam, karena „sungguh hampir tidak bisa
dipercaya, bahwa orang-orang tertentu di negara kita yang ber-Pancasila
bisa melakukan perbuatan-perbuatan, seperti perkosaan, yang di luar
batas-batas kemanusiaan".
Harian Duta Masyarakat milik NU lain lagi. Harian ini memuat sebuah
karangan pendek berjudul „Gerwani Bermoral Bejat", yang mengulangi
tuduhan AB, yaitu bahwa orang-orang Gerwani bermain-main kemaluan para
jendral, sambil memperlihatkan kemaluan mereka sendiri.„ ... Bahkan,
menurut sumber yang dapat dipercaya, orang-orang Gerwani menari-nari
telanjang di depan korban-korban mereka, tingkah laku mereka
mengingatkan kita pada upacara kanibalisme yang dilakukan suku-suku
primitif berabad-abad yang lalu. Marilah kita serahkan pada kaum wanita
untuk mengadili moral kewanitaan orang-orang Gerwani, yang bermoral
bejat lebih buruk dari binatang," tulis Duta Masyarakat.
Semua pemberitaan itu sepertinya memang dibuat untuk menyiapkan sebuah
aksi balas dendam yang masif. Pada 12 Oktober semua kantor Gerwani
dibakar para demonstran sambil meneriakkan „bubarkan PKI!" dan „hidup
Bung Karno!" Belakangan Angkatan Bersenjata memberitakan, bahwa
dari
penggeledahan di semua kantor Gerwani diperoleh sejumlah dokumen
Gerwani, yang „membuktikan" bahwa Gerwani telah merencanakan untuk
„melakukan tindakan teror menyabot perekonomian, perdagangan dan produksi".
Sebagai hasil pencarian „bukti" tentang kekejaman dan kebejatan moral,
serta perbuatan-perbuatan tak kenal peri kemanusiaan yang mereka
nyatakan itu, Angkatan Darat memperlihatkan sebuah peti berisi enam
puluh clurit, yang dikatakannya sebagai kepunyaan Pemuda Rakyat.
Dikatakan, berdasar pengakuan seorang tersangka (yang tentunya didapat
dari hasil penyiksaan), bahwa clurit tersebut akan digunakan untuk
mencungkili mata „mereka yang harus dibunuh".
Foto dan berita seperti itu dikuatkannya lagi berbagai bentuk
jurnalisme, misalnya sebuah kartun politik dalam Angkatan Bersenjata
yang menyampaikan „suara rakyat" dengan menuliskan antara lain, „Siapa
akan mengira bahwa latihan-latihan di Lubang Buaya itu akan
menghasilkan buaya-buaya dan bukan Srikandi-Srikandi sejati, yang akan
berjuang bahu membahu dengan kaum laki-laki untuk Revolusi kita? ...
Pemudi-pemudi kita dewasa ini harus diajar agar menjadi revolusioner
yang cakap, berani, beradab dan rendah hati dan selalu menjaga
sopan-santun istimewa kewanitaan mereka." (AB 16 Oktober 1965)
Nada kampanye menjadi semakin garang. Gerwani harus dibubarkan, dan
„penjahat-penjahatnya" digantung di depan umum! „Mereka itu pelacur!"
Tercatat ada empat semboyan pokok dipakai dalam kampanye saat itu:
„Ganyang PKI!", „Gantung Aidit!", „Aidit Setan Dajal!", dan „Gerwani
Lonte!"
Hujatan atas „pri-kebinatangan" Gerwani kian lengkap ketika janda salah
seorang jendral yang terbunuh mengatakan, „Tidakkah Gerwani telah
mengkhianati keluarga, bangsa, rakyat Indonesia dan Revolusi Indonesia?"
Yang lebih hebat lagi adalah berita fiksi yang dijadikan fakta.
Misalnya, di Karang Asem di Jawa Tengah, sumber-sumber ABRI melaporkan
97 orang telah dibunuh orang Komunis. „Menurut sebuah keterangan yang
disebarkan kepada Rakyat Karang Asem, dengan bantuan Pemuda Rakyat
dan
Gerwani para pengacau PKI menyerukan kata-kata suci „Allahu Akbar",
lalu melempar debu ke mata penduduk desa. Tapi cara-cara licik dan
primitif ini akhirnya terbuka kedoknya, karena gerombolan PKI itu
menggunakan cara-cara yang sangat mudah dikenali: mereka tidak
berpakaian selembar pun."
Tak ayal, akibat semua fiksi yang difaktakan itu kemudian terjadilah
aksi balas dendam. Aksi pembersihan dalam arti sebenarnya yang disertai
„upacara pencucian" kemudian dilakukan masyarakat dengan dukungan penuh
pasukan pimpinan Sarwo Edhie. Kebanyakan dari mereka di ambil oleh
barisan pemuda pada malam hari. Mereka dibawa dengan kedua jempol
mereka terikat ke belakang. Dengan iringan obor, mereka digiring ke
pinggir sungai dan dieksekusi secara bergantian oleh angggota sejumlah
ormas pemuda yang telah menunggu di tempat itu. Banyak di antara mayat
mereka ditemukan penduduk dalam keadaan mengambang pada keesokan
harinya. Celakanya lagi, foto-foto para korban yang kemudian diedarkan
pihak Angkatan Darat itu sengaja disebut sebagai foto„para korban"
keganasan PKI.
Fakta Atas Pengakuan Fiktif
Dalam bulan November berbagai koran memberitakan konperensi pers
pertama, di mana para tahanan „memberikan kesaksian" tentang pengalaman
mereka. Harian Angkatan Bersenjata 3 November 1965 memuat potret
dua
gadis remaja yang tampak ketakutan, dengan pernyataan seorang anggota
Pemuda Rakyat laki-laki yang menyebut bahwa ia melihat„tiga puluh
orang Gerwani berteriak-teriak, menyiksa, dan bermain-main dengan
Jendral Yani yang sudah dalam keadaan pingsan".
Hari berikutnya Berita Yudha memuat sebuah cerita tentang sejumlah
anggota Gerwani yang cantik, yang mendapat perintah untuk menjual diri.
Berita itu mengatakan: „Dokumen-dokumen membuktikan adanya gerombolan
„Kucing Hitam" yang mendapat tugas membakar rumah orang-orang
non-Komunis, juga hutan-hutan, dan merusak berbagai instalasi vital.
Bekerja sama dengan mereka adalah gerombolan yang disebut„Kancing
Hitam", yang terdiri dari orang-orang Gerwani berparas cantik yang
telah melacurkan diri dan mendekati pemimpin-pemimpin partai lain untuk
membujuk mereka agar mendukung program PKI".
Tiga hari kemudian koran yang sama melukiskan tokoh baru „Pak Harto"
(Jendral Soeharto) sebagai orang yang sederhana, berbudi, yang hobinya
memancing dan berburu.
Semua koran menyiarkan sebuah „pengakuan jujur" dari seorang perempuan
lima belas tahun, hamil tiga bulan, bernama Jamilah, yang bernama
julukan „Srikandi Lubang Buaya". Diberitakan bahwa baik dirinya maupun
suaminya anggota Pemuda Rakyat Tanjung Priok. Pada tanggal 29 September
ia dijemput salah seorang pimpinan PKI untuk mengikuti latihan di Cililitan.
Hari itu dan hari berikutnya kami latihan ... dan kira-kira jam tiga
malam kami dibangunkan ... diperintahkan untuk mengganyang kabir dan
Nekolim. Ada sekitar 500 orang berkumpul di sana, 100 orang di
antaranya wanita. Kepada anggota-anggota Gerwani, termasuk Jamilah,
dibagikan pisau-pisau lipat dan silet ... Dari jauh kami melihat
seseorang gemuk pendek datang; ia memakai piama berpotongan Ganefo.
Kedua tangannya diikat dengan kain merah. Juga matanya ditutup dengan
kain merah. Dan Ton pimpinan kami memberi perintah supaya kami memukul
orang itu, lalu mulailah dengan pisau lipat itu mereka menikam
kemaluannya. Yang pertama kali, menurut penglihatan kami, memukul dan
menikam kemaluan orang itu ketua Gerwani Tanjung Priok yang bernama
S.,
dan Ny. Sas. Lalu teman-temannya mengikuti ... kemudian kami juga ikut
menyiksa orang itu. Kami semuanya 100 orang yang melakukan perbuatan
itu ... Lalu orang itu diseret ke sebuah sumur oleh seorang laki-laki
berseragam ... tapi ia masih belum mati. Lalu seorang berseragam
memerintahkan Gerwani supaya meneruskan. Dan orang-orang Gerwani
meneruskan seperti yang sudah, menikam dan memicis kemaluannya dan
seluruh tubuhnya sampai ia mati.
Kata-kata yang tepat sama setidaknya terbaca dalam empat pemberitaan
tentang cerita tersebut; yaitu Angkatan Bersenjata 5 November, Duta
Masyarakat dan Sinar Harapan 6 November, dan Berita Yudha 7 November
1965. Dua suratkabar memasang potret Jamilah, yang juga sama. Ini
memberi kesan kuat, bahwa kepada pers dibagikan teks dan potret yang
sudah disiapkan. Sumber berita yang diumumkan ialah ABRI, yang
tampaknya tidak dapat cukup mempercayai „pengakuan jujur" Jamilah untuk
berbicara sendiri kepada pers. Berita ini sangat bernada menghasut,
dan
menjadi tersebar luas di kalangan masyarakat. Sesudah diumumkannya
cerita ini termasuk sebagai slogan para mahasiswa dan kelompok
demonstran lainnya ialah „Gerwani Cabo", „Gantung Gerwani", dan
„Ganyang Gerwani".
Sementara itu Kesatuan Aksi telah membentuk apa yang mereka namakan
Badan Koordinasi Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu Pusat; dan Seksi
Wanitanya dibentuk pada 5 November 1965. Dalam Seksi Wanita ini
termasuk Muslimat NU, Wanita Marhaen, Gerwapsii, Aisyiah, Wanita Perti,
Wanita Katolik, PII dan HMI (BY 8 November 1965). Mereka
mengorganisasi satu demonstrasi massa yang diikuti 25 ormas, khususnya
para pelajar dan mahasiswa. Mereka diterima oleh Mayjen Soeharto dan
Brigjen Djuhartono. Sebuah resolusi yang telah disiapkan seksi ini
dibacakan Ny. Arudji Kartawinata. Resolusi „mengutuk perbuatan
Gerwani, yang telah menjatuhkan derajat kaum wanita, dan mendesak
kepada Presiden agar segera menyatakan pelarangannya terhadap PKI,
Gerwani, dan ormas-ormasnya yang lain, demi menyelamatkan generasi
muda
dari pengaruh dekaden dan kekejaman yang dilakukan organisasi itu".
Kepada 30.000 massa perempuan yang hadir Mayjen Soeharto mengatakan,
bahwa tanpa kaum wanita keselamatan bangsa tidak dapat dijamin. Tapi
ia
memperingatkan agar kaum wanita jangan meniru perbuatan orang-orang
Gerwani, yang telah meninggalkan kepribadian kita yang istimewa, karena
mereka telah merusak kepribadian kaum wanita Indonesia ... dan karena
kaum wanita sebagai ibu mempunyai peranan khusus untuk pendidikan
anak-anak, generasi muda kita harus diselamatkan agar tidak ikut
terjerumus ke dalam penyelewengan moral kaum kontra revolusioner;
mereka harus dididik agar menjadi patriot-patriot Indonesia yang taat
kepada Tuhan.
Jelas bahwa Soeharto bermaksud mengatakan, bahwa orang-orang Gerwani
telah menggoyahkan sendi-sendi bangsa Indonesia, dengan tidak
bertingkah-laku sebagaimana layaknya kaum perempuan. Juga ia ingin
menegaskan agar kaum perempuan menjadi „ibu yang baik", dan dengan
demikian memulihkan stabilitas bangsa Indonesia yang bersandar pada
tabiat kaum perempuan sebagaimana layaknya. Tetapi Soeharto tidak
menyebut dengan jelas, bagaimana perbuatan orang-orang Gerwani yang
dikatakannya sebagai tak layak itu.
Kesatuan Aksi semakin meningkatkan kegiatannya. Sebuah rapat umum
diadakan di Lapangan Banteng Jakarta, yang dikabarkan dihadiri 1,5
juta
pengunjung. Tema rapat umum ini kesetiaan pada Presiden Sukarno dan
kebijakan-kebijakannya, menuntut pelarangan PKI dan ormas-ormasnya,
dan
menuntut agar mereka yang terlibat dalam Gestapu dibawa ke pengadilan
(BY 10 November 1965). Potret demonstrasi yang disiarkan memperlihatkan
sebuah spanduk dengan kata-kata „Gerwani haram di Indonesia". Kata
„haram" yang digunakan berarti terlarang menurut agama Islam.
Dongengan tentang tuduhan Gerwani menggunakan pisau lipat dan silet
menjadi begitu tersiar luas, sehingga timbul kelakar tentang organisasi
yang „super" mengerikan itu. Berita Yudha (10/11/65) menulis sebuah
berita sebagai berikut, „Seorang anak muda sedang menunggu bis di
Harmoni, dan mencolek temannya: „hei, lihat ... gadis di sana itu.
Cakep, ye!?" Temannya memandang melotot, lalu sahutnya:„hus,
lihat
dulu „nyong, siapa tahu dia bawa silet!"
Gencarnya pemberitaan cerita-cerita tentang perbuatan„durjana", yang
konon telah diperbuat oleh orang-orang Komunis „kafir" itu, telah
menimbulkan psikosis ketakutan. Menurut pers tabloid, masyarakat secara
psikologis dibikin siap untuk membunuh atau orang lain siapa saja,
yang
dianggap tergolong orang PKI atau salah satu ormasnya.
Para pemimpin agama kemudian mulai memicu aksi pembunuhan massal.
Seruan perang sabil ini selanjutnya didengung-dengungkan banyak
pemimpin Muslim, yang memberikan pembenaran mereka bahwa pembunuhan
terhadap kaum Komunis merupakan „kehendak Allah".
ABRI sendiri terus berusaha mengorek „pengakuan" dari orang-orang
Gerwani tentang dosa-dosa mereka yang mengerikan itu.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang „kebejatan moral" para pemberontak,
beberapa wartawan diajak masuk ke penjara. Anggota militer yang
mengantar menjelaskan, „Di sini, anggota-anggota ormas yang dahulu
militan, „yang bersuara lebih garang dari suara harimau, sekarang
tinggal ratap tangis saja."
Para wartawan pun sekali lagi melukiskan anggota Gerwani dilukiskan
dengan secara khusus. „Melihat mereka kita kadang-kadang merasa jijik,
tapi kadang-kadang juga merasa kasihan. Karena banyak di antara mereka
yang hanya mengerang-erang saja, sedang sementara yang lain lagi
berpakaian dan berperilaku begitu rupa, yang tidak enak bagi
orang-orang yang sopan. Ini bukannya karena mereka disiksa. Sama sekali
tidak! Perwira Humas menjelaskan kepada kita, bahwa mereka diperlakukan
menurut norma-norma yang berdasarkan atas Pancasila. Tidak karena itu.
Tapi karena mereka diliputi ketakutan oleh perbuatan-perbuatan hina
yang pernah mereka lakukan, dan karena jiwa mereka kosong, baik dari
norma-norma agama maupun dari moralnya yang cabul.
Sementara itu Presiden Sukarno berusaha menahan arus pasang
gontok-gontokan. Ia memutuskan untuk menerbitkan hasil otopsi mayat
para jendral yang kemaluan dan pn.meki| n"mata| n"maany itu bohong.
Ia mengundang para wartawan untuk setia kepada kenyataan dan
menghindari penyebaran berita-berita bohong.
Hanya satu suratkabar menerbitkan pernyataan ini (SH 13 Desember
1965).Tetapi itu pun tak ada faedahnya. Karena beberapa hari sesudah
itu koran ini pun ikut memuat „pengakuan" Saina. Gadis 17 tahun ini
mengoceh, anggota Gerwani ... dengan seorang anak dan suami
menceritakan kepada tim pemeriksa, bahwa telah beberapa kali disuntik
selama latihan enam setengah bulan di Lubang Buaya, sesudah diinjeksi
itu ia merasa nafsu syahwatnya menjadi liar. Menurut Kepala Tim
Interogasi Pepelrada Jawa Barat, Mayor A. Danamihardjo SH, selama enam
setengah bulan latihan Saina harus bersaing dengan 199 orang anggota
Gerwani lainnya dalam melayani birahi 400 orang laki-laki, yang juga
dilatih di sana, dengan harapan bisa merebut „Hadiah Kuda Emas" yang
pernah dijanjikan D.N.Aidit kepada mereka. Suntikan-suntikan itu ...
telah mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan cabul tersebut.
... Dikatakannya kepada tim bahwa Aidit pernah pidato di barak latihan,
bahwa sukarelawan PKI tidak perlu merasa terkekang oleh aturan-aturan
agama, sebaliknya seharusnyalah mereka melakukan hubungan jenis satu
sama lain secara bebas ... ia bisa melakukan perbuatan semacam itu
seperti ... sesudah mendengar pidato Aidit , yang mengatakan bahwa
perempuan harus sama berani seperti laki-laki.
Berita Yudha memuat cerita yang sama, dan memasang potret seorang
perempuan bernama „Saina". Koran tentara yang lain, Angkatan
Bersenjata, membumbui cerita Saina lebih pedas lagi. Menurut koran
ini
Saina mengaku kepada tim pemeriksa, bahwa ia ikut ambil bagian dalam
tarian yang cabul, mesum, „Tarian Harum Bunga" yang setiap hari
dipertunjukkan dengan telanjang bulat, baik pada waktu siang maupun
malam hari. Laki-laki 400 orang yang ada menonton 200 orang perempuan,
kemudian dilanjutkan dengan hubungan kelamin secara bebas, yang
kadang-kadang seorang perempuan harus melayani 3 atau 4 orang laki-laki.
Menarik untuk diperhatikan, bahwa sesudah perempuan-perempuan itu
memberikan „pengakuan", tidak seorang pun dari mereka yang benar-benar
hadir di Lubang Buaya dan yang sudah ditahan juga, pernah diajukan
ke pengadilan.
Seorang wartawan Berita Yudha mengunjungi penjara, di mana beberapa
tahanan perempuan disekap. Ia membantah dugaan tentang perlakuan kejam
terhadap para tahanan, dan tentang berlakunya „teror dibalas dengan
teror". Sebaliknya, tulis wartawan ini, para pengawal„berlaku sopan
dan simpatik" terhadap mereka. Ketua Gerwani Umi Sarjono mengatakan
pada wartawan ini, bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi
di Lubang Buaya. Tapi wartawan ini mempunyai kesan, para perempuan
itu
„tampak sangat mencurigakan", dan hanya mau menjawab pertanyaan yang
diajukannya sesudah mereka diperlakukan dengan „sangat halus dan sopan".
Sejumlah dongengan tentang ketidak-senonohan seksual yang konon telah
terjadi di Lubang Buaya, kemudian diberitakan meluas dari apa yang
sudah terjadi pada malam istimewa itu. Seorang gadis bernama Julie
yang
„sambil menangis mengaku bahwa, sekitar 40 orang wanita telah ikut
latihan di Lubang Buaya dalam bulan September. Tapi ia ditipu, karena
di sana ia diperkosa oleh para anggota Pemuda Rakyat".
Aspek lain tentang „latihan", yang konon telah diberikan pada
orang-orang perempuan di Lubang Buaya itu, telah „dibeberkan" seorang
perempuan yang mengaku bernama Sakinah. Kepada wartawan ia katakan,
„Selain melayani seks anggota-anggota Pemuda Rakyat, mereka diajar
juga
tentang cara memotong alat kelamin kucing. Kemudian mereka mendapat
tugas memotong dua orang tentara dari Divisi Diponegoro dan dua orang
pedagang dari Tegal, yang mula-mula mereka pikat dengan berpura-pura
sebagai pelacur."
Penutup: Membangun Orde Ketertiban
Bagaimana akhir dari fiksi yang berubah jadi fakta tersebut? Kita semua
tahu, bukan hanya Gerwani dan sejumlah ormas dan partai yang dilarang,
tapi juga Soekarno didongkel dan dikenai tahanan rumah hingga akhir
hayatnya. Bagian dari masa lalu yang berhubungan dengan Soekarno
dimaknai sebagai „Orde Lama" dengan cara memproklamirkan rejim baru,
„Orde Baru".
Seluruh fakta dan fiksi yang tumpang-tindih itu dimaknai sebagai sebuah
orde yang penuh dengan kekacauan, gontok-gontokan, anti-ketertiban,
penuh dengan revolusi, pengkianatan, pembunuhan dan seterusnya.
Sementara „Orde Baru" mengidentikkan diri sebagai sebuah tatanan baru
yang penuh dengan kedamaian, ketertiban, setia dan konsekuen pada UUD
45 dan Pancasila secara konsekuen dan seterusnya. Orde Baru juga
mengganti revolusi dengan pembangunan, sebuah hal yang lebih
berkonotasi memiliki efek manfaat, praktis dan efisien.
Sejarah panjang organisasi Gerakan Wanita Indonesia ditutup dengan cara
menjadikannya sebagai bagian epilog dari Pengkianatan G-30-S/PKI yang
juga sering disebut sebagai Gestapu. Sebuah julukan yang sengaja
dibuat Jendral Sugandhi untuk mengingatkan orang akan kekejaman Nazi
Hitler, meski sebetulnya tak cocok dengan struktur bahasa Indonesia.
Sejarah Gerwani yang pernah jadi pembela kaum perempuan dan anak-anak
itu kini hanya jadi gambaran kaum sundal di dinding relief Museum
Pengkhianatan G-30-S/PKI dan film karya Arifin C. Noer serta sejumlah
buku sejarah. Sesekali, minimal setahun sekali, penguasa mengingatkan
kembali masyarakat akan gambaran kekejaman para perempuan sundal di
masa lalu.
Dalam pemutar-balikan antara fakta dan fiksi yang terjadi, pers pada
awal Orde Baru memiliki peran yang tak sedikit. Barangkali, karena
itulah, akses untuk menelusuri kembali pemberitaan media massa, yang
secara jurnalistik berkualitas rendah itu, hingga kini tak bisa
dilakukan secara terbuka.
* * *
Acuan Utama:
Carmel Budiardjo (1997), Bertahan Hidup di Gulag Indonesia, Wirakarya,
Kuala Lumpur.
Forum Asia (1995), Stability & Unity On A Culture of Fear, Asian
Forum
For Human Rights and Development, Bangkok
Geoffrey Robinson (1995, The Dark Side of Paradise: Political Violence
in Bali, Cornell University Press
Julie Southwood & Patrick Flanagan (1983), Indonesia: Law, Propaganda
and Terror, Zed Press, London
M.R. Siregar (1995), Tragedi Manusia dan Kemanusiaan: Kasus Indonesia
Sebuah Holocaust Yang Diterima Sesudah Perang Dunia Kedua, Tapol,
Amsterdam (cetakan ke dua)
Robert Cribb (ed.) (1991), The Indonesia Killings 1965– 1966: Studies
from Java and Bali, Centre of Southeast Asian Studies Monash
University, Victoria, 1991
Saskia Eleonora Wieringa (1998), Kuntilanak Wangi:
Organisasi-Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950, Kalyanamitra
--------- (1999), Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Garba
Budaya dan Kalyanamitra, Jakarta, (ket: buku ini adalah terjemahan
dari
desertasi sang penulis yang dipertahankan di Universitas Amsterdam
pada
6 Oktober 1995)
Sulami (1999), Perempuan-Kebenaran dan Penjara, Penerbit Cipta Lestari,
Jakarta
Wim F Wertheim (1997), „Kebenaran Tentang Gerwani: Aspek Gender Rezim
Suharto" dalam Arena Nr23 Edisi Khusus
|