IN: Ben Anderson: Cina di Indonesia
07-Dec-95
CINA DI INDONESIA
Potongan dari 'cerita' Prof. Ben Anderson, yang dikisahkan tgl 27 Des.
1995 di Ithaca.)
Ketika saya paling akhir diperbolehkan berfoya2
di Tanah Air- hampir 23 taon yang lalu - pada suatu malam saya nongkrong
ngobrol2 dengan temen2 di salah satu warung di kota Sala. Tahu2 pembicaraan
kami pindah ke topik "kuburan cino." Dari pembicaraan itu muncul
ungkapan bahwa "si cino" itu tidak berhak beristirahat untuk selamanya
di bumi Indonesia tanpa gangguan, sehingga "layak digusur." Timbullah beberapa
pertanyaan di benakku: mengapa "kuburan cino" perlu digusur, dan
kapan bertumbuh fantasi keblinger ini.
Pertanyaan tadi baru mulai terjawab setelah
saya sempat membuat riset di Pilipina pada akhir tahun 90-an. Karena di
sana saya melihat banyak sekali manusia yang jelas keturunan campur "intsik",
pribumi, dan Spanyol. Mungkin sekali prosentase penduduk "intsik" di Pilipina
jauh lebih tinggi dari prosentase "cino" di Tanah Air. Selain itu sebagian
besar cukup berada, plus mereka nongol di segala bidang - politik, sastra,
kriminalitas, agama, profesi, dan sebagainya. Tetapi -dan ini aneh mengingat
bahwa para pribumi Pilipina masih masuk bangsa Melayu raya selama 100 tahun
belakangan ini, dimana timbul revolusi pertama di Asia, penjajahan Amerika,
Perang Dunia ke-2, dllnya, tidak pernah ada huruhara anti-cino. Malahan
kasus2 kekejaman dengan skala besar terhadap si cino dilakukan oleh penguasa
Spanyol, bukan oleh pribumi, dan pembantaian paling akhir terjadi pada
taon 1762: pas duapuluh dua tahun setelah pembantaian "cino" yang pertama
di Indonesia yang dilakukan oleh orang2 Belanda di Batavia pada tahun 1740,
250 tahun yang lalu. Yang lebih menarik lagi, ialah bahwa istilah Spanyol
untuk manusia "pendatang" ini, sampai pertengahan abad ke-19, bukannya
"cino" tetapi "sangley".
Kita kenal kata ini dalam versi Indonesianya yaitu "sengli", yang berarti
dalam bahasa Hokkien "si pedagang". Seolah2 zaman dulu pejabat imigrasi
Spanyol bertanya pada si pendatang dari Fujian, "kamu ini siapa", dan dijawab
"yang bener aje, gue pedagang." Tapi saking gendhengnya dan mental sukuisnya
si pejabat, "pedagang" diartikannya bukan sebagai nama aktivitas tetapi
sebagai nama sukubangsa. Tetapi "nama" ngawur ini juga akan menimbulkan
pembantaian.
Di Hindia Belanda kkita bisa lihat kegendengan
angker yang sangat mirip. Risetnya Mason Hoadley ttg. sejarah Cirebon antara
abad ke-17 akhir dan abad ke-18 awal menjadi bukti yang nyata.
Pada suatu waktu terjadi pembunuhan pejabat tinggi di kota udang yang
unik ini. Dari dokumen2 pribumi kita dapat info bhawa yang dituduh menjadi
biang keladi pembunuhan itu ialah seorang pejabat tinggi lain yang selalu
disebut dengan titelnya Ki Aria Martaningrat. Tetapi dari dokumen2 Kumpeni
orang ini selalu disebut sebagai "seorang Cina yang jahat" (si Ki Aria
ini kebetulan menjadi sahbandar di Cirebon dan rupanya menghalang2i strategi
monopoli perdagangan dari Kumpeni). Maka jelas sekali bahwa pada masa itu
orang2 di Cirebon tidak punya mental "sukuis" apalagi "rasialis". Dunia
mental mereka berdasarkan hierarki pangkat. Penglihatan semacam ini sangat
terbukti dari memoirenya Pangeran Diponegoro yang dikarang dalam pembuangannya
mungkin 100 setelah kasus Ki Aria Martraningrat. Diseluruh memoire itu,
beliau tidak pernah menganggap musuhnya sebagai "bangsa" belanda. Musuh2
selalu disebut dengan pangkatnya, si Edeleer ini, si Gubernur itu. Dengan
demikian kita harus berusaha mengerti mengapa dan bagaimana manusia di
Hindia Belanda sempat "belajar" merobah gramatika alam pikiran mereka meniru
alam pikiran si Kumpeni.
Kita bisa mulai dengan pembantaian2 yang serem
di kedua markas besar kolonialisme gaya lama di Aisa Tenggara, yaitu di
Manila (1762) dan di Batavia (17400. Mereka bisa terjadi karena dua macam
faktor. Pertama2, faktor ketakutan dan paranoia dikalangan bule sendiri,
yang jumlahnya sangat terbatas, dan hidupnya puluhan ribu kilometer dari
tanahair masing2. Pada pertengahan abad ke-17 kekuatan si Kumpeni sedang
merosot dengan cepat (paralel dengan merosot kedudukan belanda sendiri
di percaturan politik di Eropa) sehingga dengan gampang sekali dihancurkan
oleh Inggris pada awal abad ke-19. Pada tahun 1760, Inggris sudah sapubersih
Spanyol yang makin lemah dari Manila; tentara Inggris yang dibantu oleh
kelompok Sangley yang sudah lama merasa diperas oleh penguasa Spanyol setempat.
Ketika Inggris pergi, orang Spanyol balas dendam. Faktor kedua ialah bahwa
kedua markas besar ini didirikan sebagai pusat perdagangan, dan karena
itu menarik pedagang dari banyak tempat di Asia; ternyata mereka diperlukan
untuk memperluas ekonomi masing2 kejajahan. Pendatang lain juga nongol,
tapi tanah air mereka sangat jauh, sedang Tiongkok itu dekat dan masih
jaya dibawah pimpinan kaisar2 Tsing yang keturunan Manchu. Bisa diduga
bahwa di kedua markas jajahan ini, si pendatang yang kulit berwarna sekaligus
diperlukan dan ditakuti -- oleh si pendatang yang berkulit bule.
Tokh dalam jangka panjang cara menanggulangi
masalah ini dipecahkan dengan cara yang sangat berlainan, dan dengan akibat
jangka panjang yang lebih berlainan lagi. Di Pilipina, dari semula ada
usaha keras dari misionaris Katolik untuk mengkatolikkan bukan hanya para
pribumi tetapi klompok2 Sangley juga, biar sama2 masuk "kebudayaan Katolik"
yang dianggapnya universal itu. Dengan sukses yang lumayan. Tetapi usaha
mereka tidak mungkin begitu berhasil kecuali dengan politik yang dilaksanakan
oleh penjajah dalam bidang hukum. Undang2 Spanyol memustahilkan seorang
Sangley, kalow kawin dengan seorang wanita pribumi (dan ketika itu tidak
ada wanita dari Fujian masuk Pilipina), mempunyai anak yang juga berstatus
Sangley. Anak-2 itu langsung diberi status hukum sebagai seorang mestizo
(peranakan?), seorang "campur", dengan hak2, pajak2, kedudukan, dsb nya
sendiri. Dan karena si anak itu diasuh oleh ibunya yang Katolik, didaerah
yang berbahasa Tagalog, Cebuano, atau Ilokano, dia cepet sekali masuk kebudayaan
yang lumayan jauh dari kebudayaan Fujian, dan sering tidak bisa berbahasa
Sangley.
Dengan cara beginian, jumlah Sangley tetap rendah, sedangkan jumlah
mesizo (keturunan campuran si Sangley itu) terus bertambah besar - hanya
karena kebijakan kolonial.
Ternyata daya politik asimilatif ini sangat
kuat, sehingga ketika, pada akhir abad ke -19, timbul pergerakan nasionalis
anti- Spanyol, sebagian besar dari pemimpin2 yang terkemuka berasal dari
kelompok mestizo ini - umpamanya sang martir, dan Bapak Tanah Air Dr Jose
Rizal. Dan tidak mengherankan bahwa ditengah sederetan presiden Pilipina
sampai sekarang, mungkin hanya si Magsaysay yang bukan "mestizo". Dengan
demikian tidak terlalu mengherankan mengapa sampai sekarang tidak pernah
ada huru-hara2 anti-"cino" yang berarti di Pilipina.
Tetapi di Hindia Belanda, perkembangan sangat
berbeda.
Belanda sendiri ialah negara kecil, dengan jumlah penduduk yg sangat
terbatas. Lagipula karena agama2 Protestan baru nongol pada pertengahan
abad ke-16, dan jumlah penganutnya lebih terbatas lagi. Tenaga kerja untuk
aktivitas misionaris di Asia dengan sendirinya minimal. Lebih dari itu,
Nusantara sedang di kuasai oleh suatu konglomerat bisnis, si Kumpeni, bukan
oleh kerajaan yang berlegitimasi agama Katolik. Dengan kekecualian2 tertentu
di Maluku, Kumpeni tidak berhasrat membuang duit untuk usaha konversi,
dan cepat2 membuat aliansi praktis dengan raja2 beragama Islam, sedangkan
kolonialis Katolik di Pilipina sebaliknya pasang perang religius yang serem
terhadap raja2 Muslim yang kecil di daerah2 yang kecil di daerah2 yang
sekarang disebut kawasan Bangsa Moro. Di benak Kumpeni ada perhitungan
juga bahwa usaha konversi bisa juga menggoncang-kan sistim kongkalikong
yang didirikan dengan penguasa2 Islam lokal. Karena itu, usaha konversi
yang beneran baru mulai pada pertengahan abad ke-19, pada ketika Kumpeni
sudah diganti oleh negara Belanda sendiri. Misi2 Katolik dan Kristen baru
bisa beroperasi dengan kebebasan terbatas 250 tahun setelah Belanda mulai
macam2 di Nusantara. Perlu didingat ini!! Kalau di Pilipina garis-pisah
agama menjadi penting, sedangkan garis-pisah suku menjadi tidak penting,
justeru di Hindia Belanda yang terjadi adalah sebaliknya.
Sekali lagi, yang paling berpengaruh adalah
sistim hukum yang diterapkan dan dipaksakan. Penguasa Belanda ternyata
luar biasa alergi terhadap segala macam "percampuran". Dari semula sampai
titik terakhir, tidak pernah ada status yang mirip status "mestizo" di
Pilipina. Status dari anak2 yang lahir dari adegan ranjang antara cowok
londo dengan cewek pribumi, umpamanya, harus atau "belanda" atau "pribumi",
tergantung si bokap. Kalok si bokap "mengaku" seorang anak, si jabang bayi
akan berstatus Belanda, biar kulitnya ireng dan hidungnya pesek, kalok
tidak, dia akan hilang di tengah "dunia pribumi" yang maha luas itu.
Kebijakan ini mungkin sekali, dalam jangka panjang, dibuat dengan sengaja.
Karena penguasa Belanda bisa melihat bagaimana jajahan Inggris dan Spanyol
di benua Amerika akhirnya dihancurkan justeru oleh klompok "peranakan Eropa",
yang sebagian besar, di Amerika Latin, berdarah campur. Dengan demikian,
golongan keturunan campur bule-pribumi selalu dipisahkan antara minoritas
yang ingin mati2an mempertahankan privilise2nya sebagai masyarakat ibunya
sebagai anak haram, hasil hubungan seks yang liar. Dengan demikian, golongan
campur ini tidak bisa main peranan politik dan ekonomi penting, dan selama
abad ke-20 ini hanya segelintir diantaranya bisa nongol kecuali dalam dunia
film.
Politik Kumpeni terhadap kelompok Sangley dan
keturunan nya sangat mirip dengan yang di atas, tetapi harus dimengerti
dalam konteks politik jajahan sebagai keseluruhannya. Karena Kumpeni, dengan
alasan2 yang disebut diatas, tidak pernah ada maksud atau kemampuan untuk
mengasimilasikan klompok Sangley ke dalam kebudayaan Belanda-Protestan,
golongan ini harus dinetralisir dengan cara lain. Dan cara itu adalah usaha
untuk memisahkannya dari setiap kemungkinan beraliansi dengan, dan berasimilasi
kepada dunia pribumi. Mereka tahu bahwa setiap si Ario Martaningrat tidak
dianggap "Cino" oleh sultan2 di Cirebon, dan mereka percaya bahwa dia dan
mungkin ortunya sudah menjadi Muslim; mereka tahu bahwa di Madura Timur
sudah lama timbul masyarakat "cino" yang beragama Islam; melihat bahwa
wajah2 manusia di kota2 perdagangan sepanjang pasisir utara pulo Jawa,
mereka bisa menduga betapa banyak orang di situ adalah keturunan campur,
sadar atau tidak. Mereka mungkin juga lama2 mengetahui bahwa di kekaisaran
Tiongkok sendiri banyak sekali terdapat manusia yang beragama Islam. Dengan
demikian, sebaliknya dari praktek Spanyol di Pilipina, mereka berusaha
keras supaya, secara hukum, keturunan2 si hoakiau, tetep "Cino" tanpa membuka
kemungkinan mendapat status sebagai orang campur. Peduli amat kalo anak2
ini tidak bisa berbahasa Hokkien, tidak mengerti adat- istiadat sistim
Konhucu, dan sebagainya: dia harus tetap sebagai "Chineese". Status hukum
ini sangat diperkuat dengan sistim ghetoisasi. Dengan beberapa pengecualian
yang penting, orang2 ini dipaksakan bermukim dikawasan kota tertentu, mereka
harus kawin diantara mereka sendiri dengan upacara "Cino" yang sedikit
banyak diatur oleh Belanda; mereka harus berdandan dengan gaya "Cino",
warisan mereka harus diatur oleh peraturan tersendiri. Mereka tidak boleh
bepergian kemana mereka suka tanpa paspor internal.
Dan yang paling penting, sedapat mungkin mereka harus tunduk kepada
pimpinan otoriter dari "Kapten2" atawa "Major" (biasanya orang terkaya
setempat) yang diangkat dan dipecat oleh gupermen sendiri. Sekaligus, selama
berabad-abad mereka juga tidak boleh terlalu bersifat "Cino", dalam arti
membuat sekolahan yang mengajar bahasa Cino tertulis, apalagi bahasa lisan
bangsanya Mandarin atau Hokkien. Pada akhirnya mereka dibuat terkatung2
- cino beneran tidak, pribumi tidak, dan anggota kebudayaan Kristen-universal
juga tidak. Bisa dikatakan mereka dibikin semacam "banci" kebudayaan, banci
perkara status hukum, dan lama2 "banci" dalam arti politik.
Sekarang, biar kita berpaling kepada "pengecualian"
yang disebut diatas. Dalam hal ini, karangannya Jim Rush memang luar biasa
bagusnya. Karena disitu digambarkan bagaimana timbul, pada bagian kedua
dari abad ke-19, konglomerat "Cino"- menurut istilah zaman itu "raja" -
pada landasan perdagangan candu dibawah pimpinan gubermen sendiri. Banyak
segi dari sistim pembiusan ini- yang mungkin lebih teratur dari sistim
yang dipakai kartel2 cocaine di Colombia sekarang - sangat menarik. Boleh
saya garisbawahi beberapa diantara segi ini:
a) saling tergantungan antara elit2 bule, "cino"
bikinan, dan pribumi. Bule pegang monopoli pengimporan candu dari India
Inggris, sindikat kapten2 dan major2 pegang kartel distribusi wholesale,
priyayi2 dan weri2 nya menanggulangi perdagangan retail dan tindakan pengamanan
fisik (centeng) dari kartel2 itu tadi. Dus seolah2 diluar hierarki rasial
yang resmi, pimpinan semua kelompok bergandengan tangan untuk urusan dagang
yang korbannya rakyat kecil. Tokh justru hierarki-rasial-menurut - hukum
membuat perlu sistim setengah gelap ini.
b) sistim bisnis ini dibuat sangat erat dengan
hierarki birokrasi dan kawasan teritorial yang menjadi landasannya. "Kawasan"
monopoli, batasnya sama dengan batas kabupaten dan keresidenan, sehingga
kuasa-kamtibmas si bupati pas dengan kuasa-dagang si Kapten.
c) orang "cino" biasa diharamkan keluar dari
ghettonya, dan dikontrol dengan passensistemm yang ketat. Hanya si Kapten
dengan bolo dekatnya boleh mondar-mandir ke pedalaman. Dus kekayaan kelompok
"raja" pada dasarnya berdasarkan sistim politik dan organisasi birokrasi.
Monopoli mereka, seperti hampir semua monopoli didunia, hanya dimungkinkan
dengan lindungan politik, kepolisian, dan birokrasi yang bule-pribumi-
10% bule, 90% pribumi.
Nah, selama Hindia Belanda menjadi daerah tertutup
(orang Belanda sendiri harus punya paspor untuk masuk sebelum 1870), sistim
enak ini aman. Tetapi setelah mulai cair pada tahun 1880an, segala macam
konflik laten mulai nongol. Mungkin faktor yang paling penting adalah pencabutan
secara ber-angsur2 dari passenstelsel dan sistim pemukiman paksa. Karena
dengan demikian orang2 "cino" peranakan untuk pertama kali boleh berkeliaran
semaunya dipedalaman, tetapi dari basis "ghetto" yang sudah berabad-abad
berlangsung, dan dengan model "raja2" didepan matanya. Ditambah gelombang
"cino" totok yang datang setelah 1890 dari kekaisaran Tiongkok yang sedang
ambles. Kebetulan pada masa
yang sama nasionalisme Tionghoa untuk pertama kali mulai tumbuh
dibawah pimpinan Sun Yat-sen di daerah Nanyang, dua diluar cengkeraman
birokrasi Tsing. Tidak mengherankan kalok dalam situasi demikian, klompok
yang berabad diperlakukan sebagai "Chineese" oleh gupermen, biarpun mereka
berbahasa Jawa, Madura, Bali, Melayu dan sebagainya, mulai merasa bahwa
mereka "kurang Chineese", dan mendirikan sekolah2an dan organisasi yang
berideologi "Chineesess".
Lebih lagi tidak mengherankan bahwa dikalangan
pribumi, khususnya bibit2 nasionalis, timbul reaksi terhadap gejala2 ini,
dan bahwa reaksi mereka dalam banyak hal meniru contoh dari klompok Tionghoa.
Jelas sekali umpamanya bahwa Taman Siswo adalah anak harammnya sistim sekolahan
"asli" Cino yang diperintiskan oleh THHK. Dan suatu masyarakat yang sudah
begitu lama dibiasakan oleh gupermen untuk mengimajinasikan existensinya
sekelompok ""cino" - yang sebenarnya 85% sudah berasimilasi kepada kebudayaan
pribumi - dengan gampang sekali merasa bahwa "asimilasi" itu sebenarnya
cuman kedok; dan juga gampang tidak mengerti bahwa konglomerat cino yang
jahanam itu tidak berdasarkan "lihaynya bangsa cino" tetapi adalah
hasil dari kongkalikong antar-sukubangsa tingkat atas. Dari situ
timbul kemungkinan yang luas untuk huruhara rasialis yang memang
meulai terjadi di Hindia Belanda pada taon 1919, hanya 80 tahun yang
lalu. Kalau sensus Belanda yang mulai diadakan pada tahun 1921 membagikan
penduduk Hindia Belanda antara 3 golongan yang besar, harus diingat
pada pembagian itu berdasarkan sistim hukum yang beratusan tahun usianya.
Golongan ini tentunya bangsa Eropa, Inlanders, dan Vreemde Oosterlingen.
Yang menarik dalam klasifikasi ini adalah bahwa Belanda mengangkat
diri sebagai orang Europa (dan mendirikan sekolahan seperti ELS Europeechse
Lagere School), yaitu sebagai wakil dari ras bule - tapi bukan sebagai
Vreemde Westerlingen. Yang juga menarik ialah bahwa orang "cino"
disebut sebagai Vreemdelingen -orang asing, padahal sebagian besar
mereka sudah turun-temurun menjadi penghuni bumi manusia di Nusantara.
Ini mendapat dampak yang mendalam, karena baik pribumi sendiri maupun
klompok "cino" dengan demikian lebih lagi dibiasakan untuk menganggap
yang terakhir sebagai "orang asing". Disitu kita bisa lihat dengan jelas
bibit2 pertama dari paradoks Warga Negara Indonesia yang berarti orang
asing, dan komentarnya si pimpinan Permias bahwa di kampus anu ada
40 orang Indonesia, tetapi kalau termasuk cino bisa sampai 200.
Walaupun demikian perlu ditegaskan bahwa sebagian
penting dari pergerakan nasional berusaha untuk mengatasi alam pikiran
ini. Pimpinan revolusi berusaha keras untuk mencegah aksi rasialis anti-cino.
Tokh warisan politik kolonial menjamin bahwa sedikit sekali "cino" pengen
masuk badan perjungan dan militer, dan lembaga2 ini condong untuk ekslusif
terhadap "cino". Hampir semua partai politik besar selama zaman demokrasi
liberal punya tokoh yang "chineese", dan tidak jarang ada yang sampai bisa
jadi menteri. Bung Karno kasih angin kepada Baperki yang punya ideologi
bahwa "cino" itu cuman salah satu suku bangsa lain diantara sekian macam
sukubangsa di Nusantara. Persetujuan Sunario-Chou En-lai pada pertengahan
tahun 1950an adalah usaha untuk mengkonsolidasikn kewarganegaraan mutlak
dari sebagian besar klompok "cino" di Nusantara. Anehnya, diantara semua
partai politik yang besar justeru PKI lah yang aneh. Setelah Tan Ling Djie
diusir dari politburo pada tahun 1951, pimpinan Aidit cs berusaha keras
untuk mengeliminir orang "cino" dari badan2 PKI yang penting. "Cino"
yang berhaluan kiri disuruh bermukim di ghetto Partindo. Tapi ini
juga mungkin hanya terjadi karena di kekaisaran Tiongkok sendiri setelah
1949, Partai Komunisnya Mao Ts-Dung mulai bertakhta.
Dengan latar belakang ini, tidak terlalu mengherankan
kalau Orde Baru, yang dalam begitu banyak hal mirip Orde kolonial, menghidupkan
kembali aspek2 penting dari konstelasi politik, sosial, dan kebudayaan
zaman kolonial akhir. Alat keamanan - 50 tahun setelah Indonesia merdeka
-tetap 99% bersih dari warganegara yang "cino". Sistim konglomerat - raja2
-cino yang berlandasan monopoli bikinan birokrasi dan akibat perlindungan
politik khusus, menjadi2. Orang cino dilarang bikin sekolah sendiri,
atau punya pers sendiri, diajak ganti nama, disuruh asimilasikan diri (persis
seperti terjadi pada zaman belanda abad ke-19), supaya tidak menjadi Chineese
beneran, tetapi sekaligus mereka didiskriminasikan di hampir seluruh bagian
pekerjaan diluar dunia dagang. Sekali lagi "pembancian" - ya bukan Chineese,
yan bukan Indonesia"- kan enak. Pembagian fungsi ekonomis ini mempunyai
dua akibat yang menguntungkan. Di satu pihak, seperti diketahui, pimpinan
negara tidak diancam secara politik oleh timbulnya konglomerat pribumi,
konglomerat Cino dari
sudut politik tokh impoten. Dilain pihak pimpinan negara bisa juga
memperlihatkan bahwa selama orde baru tidak pernah ada menteri atawa jenderal
yang "jelas cino", jadi kedaulatan rakyat tetap aman di tangan wakil2
asli dari masyarakat inlander. *** |