|
ISTIQLAL (4/9/98)# BUNG KARNO: "BAPERKI SUPAYA MENJADI BUNG KARNO: "BAPERKI SUPAYA MENJADI SUMBANGAN BESAR TERHADAP REVOLUSI INDONESIA" (1/4) Pengantar Redaksi: Rasialisme negara selama 32 tahun dipraktekkan secara mencolok oleh negara Orde Baru di bawah Soeharto. Sejumlah perundang-undangan sengaja diproduksi untuk mengeleminir kelompok masyarakat keturunan Tionghoa dari pergaulan bangsa. Termasuk mengganti sebutan Tionghoa dengan "Cina" dan memberi tanda serta perlakuan khusus pada kelompok ini. Negara mencitrakan orang Tionghoa yang sebetulnya sangat heterogen menjadi kelompok homogen. Sekaligus mengidentikkannya dengan komunis (PKI) dan kelompok a-nasionalis. Keturunan Tionghoa diawasi habis-habisan, ditangkar. Mereka dilarang
menyalankan adat-istiadatnya, agamanya dieliminir dari agama formal negara.
Sejumlah pengamat melihat bahwa jaman Orla sebetulnya juga terjadi diskriminasi
ras. Mulai dari penghancurkan imperium bisnis Oei Tiong Ham, munculnya
PP 10 hingga berbagai kerusuhan rasialis di sejumlah kota.
Banyak pengamat mengatakan bahwa Soekarno sebagai founding father sangat paham persoalan ini. Ia ingin membangun Indonesia sebagai sebuah nation-state yang baru di mana warga keturunan Tionghoa adalah bagian dari etnisitas Indonesia. Berbagai kebijakan dan kerusuhan ras dengan sengaja dibuat oleh sejumlah pembantu Bung Karno yang memiliki ambisi politik tertentu. Termasuk kelompok militer yang tak suka dengan kebijakan Bung Karno. Agar kita bisa melihat lebih jelas sikap Bung Karno terhadap warga keturunan Tionghoa, bersama ini Redaksi sengaya menurunkan kembali pidato Bung Karno pada pembukaan Kongres Nasional ke-8 BAPERKI di Istana Olahraga Gelora "Bung Karno" (Sekarang Istora Senayan -red.) pada 14 Maret 1963. Bung Karno memberi judul amanatnya ini sebagai "Baperki Supaya Menjadi Sumbangan Besar Terhadap Revolusi Indonesia". Redaksi menuliskannya kembali dalam ejaan EYD dengan sejumlah penyesuaian,
antara lain dengan menghapus fenomena kata "daripada".
Lebih dahulu saya menyatakan terima-kasih saya serta rasa haru hati
saya berhubung dengan dibuatnya dan dinyanyikanaya lagu "Hidup lah Bung
Karno" yang beberapa detik yang lalu kita bersama telah mendengar. Terima
kasih. Di samping mengucapkan terima kasih itu saya menyatakan kekaguman
saya atas kemahiran komponis lagu itu, yang dari Saudara Siauw Giok Tjhan
saya mendengar bahwa komponisnya ialah seorang puteri, komponiste, yaitu
Saudari Evie Coa.
Saudara-Saudara sekalian, sekarang saya diminta untuk memberi sambutan amanat sekadarnya kepada resepsi pembukaan Kongres Baperki yang ke-VIII ini. Tadi Bapak Roeslan Abdulgani telah berkata, bahwa beliau bicara sebagai voorrijder dari saya. Saudara tahu, kalau saya resmi sebagai presiden berkendaraan mobil ke sesuatu tempat, lantas ada voorrijdernya. Orang-orang yang mendahului perjalanan mobil saya itu untuk membuka yalan, voorrijder. Malah ada yang lebih lagi mendahului perjalanan saya, itu bukan voorrijder, tetapi sweeper, penyapu bersih. Presiden harus diadakan voorrijder, harus diadakan sweeper.
Nah, ini tadi Pak Roeslan bicara, kata beliau, sebagai voorrijder saya. Pada waktu saya mendengar pidato Pak Roeslan, saya kok ingat kepada kerbau dan gudel. Tahu gudel itu apa? Anak kerbau. Anak kerbau itu dalam bahasa Jawa dinamakan gudel. Anak ayam dinamakan kuthuk. Anak ikan bandeng dinamakan nener. Anak kuda dinamakan belo. Dalam bahasa Jawa anak kerbau dinamakan gudel. Ada peribahasa Jawa "kebo nyusu gudel", kerbau menyusu kepada anaknya sendiri. Kerbau menyusu kepada gudel, kepada anaknya sendiri. Pak Roeslan itu dulu murid bapak, murid saya. Terutama sekali di dalam ilmu politik. Waktu belakangan ini, beberapa tahun belakangan ini tiap kali saya mendengar Cak Roeslan Abdulgani berpidato, saya mendapat perasaan, wah ini, gudelnya ini bukan main! Gudel ini ngalahkan kebo! Tapi saya senang dan bergembira atas hal yang demikian itu, moga-moga malahan Cak Roeslan dari gudel Menjadi lah banteng iang sehebat-hebatnya! Dan juga pemuda-pemuda, pemudi-pemudi yang duduk di situ supaya semuanya menjadi banteng-banteng Indonesia! Saudara-Saudara, Baperki sekarang mengadakan pembukaan kongresnya yang
ke-VIII, masuk tahun yang ke-X, kata Cak Siauw. Dengan lentong Jawa Timur
Cak Siauw tadi berkata, Baperki sekarang masuk usia yang ke-X. Jawa Timur-nya
Cak Siauw, "Demokrasi Terpempin". Malah mengeluarkan perkataan tiap- tiap
kali yang dimaksudkan itu alasan, beliau berkata "Alesan." .....
Saudara-Saudara, Baperki sekarang mengadakan kongres yang ke-VIII, saya
diundang datang di sini. Jauh-jauh sebelum ada kongres ini, dan pada waktu
pertama kali ditanya kepada saya: "Sudi apa kah kiranya PYM Presiden datang
di kongres Baperki?" -saya menjawab, mau. Insya Allah, mau. Apa sebab?
Sebabnya ya, Baperki itu satu yperkumpulan yang baik. Baperki tegas berdiri
di atas Pancasila. Baperki tegas membantu terlaksananya Amanat Penderitaan
Rakyat. Baperki tegas berdiri di atas Manipol-Usdek dan lain-lain sebagainya.
Baperki adalah salah satu dari Revolusi Indonesia.
Ya, kita sekalian ini sebenarnya, Saudara-Saudara, untuk menyelesaikan
Revolusi. Kalau, baik Nyonya Lie maupun Cak Siauw berkata: "Bung Karso
yang tercinta", saya mengerti itu sebenarnya bukan tercinta kepada persoon
saya, meski pun hal ini ada ceritanya ini. Tetapi tercinta, cinta kepada
Revolusi Indonesia, yang saya ini oleh MPRS dijadikan Pemimpin Besar Revolusi.
Dan saya pernah berkata, saya tidak menganggap diri saya menjadi pemimpin.
Saya
Di dalam salah satu pidato saya berkata, bahwa pemimpin itu, pemimpin
yang pemimpin, bukan karena angkatan sendiri, tidak. Tetapi dia itu adalah
perasan --wartawan, perasan! Dulu ada wartawan yang menulis perasaan, bukan,
perasan, diperas..nah keluar. Satu rakyat berjoang, dalam perjoangan itu
seperti memeras. Nah, keluar lah pemimpinnya. Pemimpin yang benar pemimpin
adalah perasan dari perjoangan.
|