AM HANAFI MENGGUGAT DIRINYA SENDIRI
AM HANAFI MENGGUGAT DIRINYA SENDIRI (RESENSI BUKU "AM
HANAFI MENGGUGAT")
Oleh: Alam Puteri
Sikap seseorang itu akan mudah diketahui, apakah ia jujur atau
tidak pada dirinya sendiri, apakah ia merasa sebagai manusia hebat
, bila
yang bersangkutan menampilkan diri dalam bentuk tulisan atau buku.
Bila ia
seorang gang jujur pada dirinya tentu setiap waktu ia akan memeriksa
diri:
apakah ia di pihak yang benar atau yang salah. Kemudian yang salah
akan
disalahkannya dan yang benar akan dibenarkannya. Bila ia merasa sebagai
manusia hebat, tentu selamanya ia menganggap dirinya benar dan yang
keliru pihak lain.
AM Hanafi mantan Dubes RI di Kuba, pada 1998 menampilkan buku,
dengan judul "AM HANAFI MENGGUGAT: Kudeta Jenderal Soeharto dari Gestapu
ke
Supersemar. Dua tahun sebelumnya, yaitu tahun 1996 telah terbit bukunya
yang
berjudul "Menteng 31", diterbitkan oleh Pustaka Sinar harapan. Siapakah
AM
Hanafi: apakah ia jujur pada dirinya sendiri atau ia merasa hebat.
Mari lah kita mulai.
MENTENG 31
Melalui "Menteng 31", AM Hanafi mengatakan, "Bagi saya, PKI dan
Gestapu adalah bagaikan bulan dan gerhana yang ada saling hubungannya.
Kepada Bapak Soeharto, ketika itu Februari 1966, saya mengatakan sikap
saya
bersedia membantunya mengatasi kemelut yang menimpa negeri kita. Ketika
itu
beliau menyambutnya dengan ucapan:" Baik, ya pak Hanafi bersama kami".
Artinya, jelas saya mengutuk G30S"(hal 60 ).
Sebelumnya AM Hanafi mengemukakan, bahwa Jenderal Soeharto seorang
militer yang juga pendukung Presiden Soekarno."(hal 59)
Seterusnya AM Hanafi menceritakan ketika sidang Kabinet di Bogor,
bulan Januari 1966, ketika istirahat untuk makan siang, saya didatangi
Bapak
Jenderal Soeharto, duduk makan bersama di sebelah kananku. Dengan ramah
beliau menanyakan, " Apa kah Pak Hanafi sudah meninjau daerah, agar
pak
Hanafi tahu jelas bahwa bukan kami tentara yang mengadakan pembunuhan
massal". Saya jawab: "Belum, pada saatnya kelak, saya akan meminta
bantuan
Pak Soeharto untuk dapat pergi meninjau daerah". Beliau menyanggupi.
Dalam
hatiku Jenderal
Soeharto ini sederhana dan terbuka dan pada saya ketika itu terkilat
akan
kebenaran apa yang dikatakannya. (hal l46)
AM Hanafi juga mengemukakan, "Saya tidak mengetahui bagaimana jelas
dan lengkapnya terjadinya Peristiwa G30S/PKI, sebab saya berada di
post saya
di Kuba. Tapi saya yakin tidaklah fair menuduh dan melemparkan segala
kesalahan atau kecurangan kepada Jenderal Soeharto yang kemudian setelah
ada
Supersemar, terpaksa mengambil segala tanggungjawab ke atas bahunya
sendiri.
(hal 147).
Ringkasnya melalui buku "Menteng 31", AM Hanafi sepenuhnya
membenarkan dan mendukung sepak terJang jenderal Soeharto dalam menghadapi
masalah G30S. Hal itu tertera dari kalimat-kalimatnya, "Bukan tentara
yang
melakukan pembunuhan massal", "Jenderal Soeharto pendukung Presiden
Soekarno", "Jenderal Soeharto telah menyelamatkan Pancasila dan UUD
1945",
"Setelah ada Supersemar, terpaksa mengambil segala tanggung jawab di
atas
pundaknya sendiri".
Apa yang dibenarkan AM Hanafi itu, misalnya "bukan tentara yang
melakukan pembunuhan massal" sangat bertentangan dengan pengakuan Sarwo
Edhie (mantan Komandan RPKAD) kepada Permadi SH, sebelum ia meninggal.
"Pak
Permadi, yang terbunuh adalah 3 juta orang, sebagian terbesar atas
perintah
saya." ("MIK, 1995: "50 tahun Mlerdeka & Problem Tapol/Napol, hal
59).
Ia juga membenarkan Jenderal Soeharto pendukung Presiden Soekarno
sangat bertentangan dengan isi "Memoar Oei Tjoe Tat" (yang anggota
Partindo)
bahwa "Supersemar, sesungguhnya tidak lain daripada bagian suatu skema
pemeretelan kekuasaan Presiden/Pangti Soekarno, yang sebenarnya sudah
berlangsung sejak jenderal Soeharto menolak panggilan Pangti Soekarno
untuk
datang ke Halim. Bukankah ia juga menolak penunjukan Jenderal Pranoto
Reksosamudro? (hal 321 ).
Juga mengenai dikatakannya "Jenderal Soeharto menyelamatkan
Pancasila dan UUD 1945" sangat bertentangan dengan Pernyataan Keprihatinan
Petisi 50, sebagai berikut:
Menyalahgunakan Pancasila sehingga dapat dipergunakan sebagai sarana
ancaman terhadap lawan politik. padahal Pancasila dimaksudkan oleh
para
pendiri RI sebagai saraha pemersatu bangsa.
Membenarkan perbuatan-perbuatan yang kurang terpuji di pihak penguasa
untuk secara berencana melumpuhkan UUD 1945, dengan dalih Sapta Marga
dan Sumpah Prajurit, padahal kedua ikrar itu tidak mungkin berada di
atas UUD 1945
( Plemori Jenderal YogaX 1990,hal: 489 ).
Jadi tidak lah benar jika dikatakan "bukan tentara yang melakukan
pembunuhan massal, tidak lah benar kalau dikatakan Jenderal Soeharto
pendukung Presiden Soekarno serta penyelamat Pancasila dan UUD 1945,
juga
tidak lah benar bila dikatakan Jenderal Soeharto terpaksa memikul
tanggungjawab di atas pundaknya setelah ada Supersemar, justru Supersemar
itu adalah buah strateginya membikin panik sidang Kabinet 11 Maret
di Istana
Merdeka.(Lihat Pengakuan Frans Seda dalam Tempo 15 Maret 1986 ).
MALING BERTERIAK MALING
Bila dalam "Menteng 31" AM Hanafi membenarkan apa yang dikatakan
Jenderal Soeharto, maka dalam bukunya yang baru " AM Hanafi Menggugat",
justru sebaliknya. Hal itu dapat diketahui dengan membaca "Pendahuluan"
dari
buku yang baru ini. Antara lain dikatakan, " ah, sekarang di akhir
abad
ke-XX, Bung Karno, Bapak nasion Indonesia dan pendiri negara RI, dikudeta
oleh jenderalnya sendiri: Soeharto. Tapi sampai sekarang dia malu mengakui
perbuatan yang hina itu."(hal 4)
AM Hanafi kemudian mengatakan, "Tidak usah lah malu, bersikap lah
jantan! Malu busuk, atau value schaamte kata orang Belanda, atau memang
sudah kelewatan pengecutnya, sampai menyembunyikan praktek kudeta yang
sadar
dilakukannya sendiri, dengan cara menunggangi apa yang disebut kudeta
Gestapu. Semua orang yang mengerti politik, begitu juga rakyat biasa
yang
tidak tahu politik, tapi tidak buta mata hatinya, semua mereka akhirnya
sudah pada tahu, bahwa Letjen Soeharto pegang peranan penting
di belakang layar
peristiwa Gestapu itu.
Semula mereka berlayar bersama di dalam "Kapal Setan 8" itu,
dengan Kolonel Latief sebagai tangan kanan atau "informannya", tetapi
tiba-tiba tanggal 1 Oktober 1965, sesudah semua anggota Dewan Jenderal
terbunuh, di saat Jenderal Nasution terpukul oleh kehilangan putri
kesayangannya, Soeharto lantas berbalik menikam dari belakang. Dia
menuduh
kolonel Latief cs, itulah yang mengadakan makar kudeta dengan G30S.
Padahal
Soeharto himself positif ikut serta; dia sudah tahu sebelumnya tentang
G30S.
Apa yang terJadi dan apa yang diteriakan Soeharto sebenarnya tidak lain
adalah maling berteriak maling.
Anak-anak muda yang lahir tahun 60-an, mana mereka tahu soal itu.
Yang sudah tua-tua pun, cukup banyak tidak tahu, atau memang pura-pura
tidak
tahu. Maka itu buku ini ditulis. (hal 14-15)
Selain itu Hanafi sebagai saksi sejarah yang langsung mengalami
dan mengetahui kejadian- kejadian sekitar keluarnya Surat Perintah
11 Maret
1966 (Supersemar) yang disalah gunakan secara licik untuk melakukan
kudeta
merangkak, a creeping coup d'etat, yang secara harfiah berlangsung
dalam
kenyataan. (hal 5)
Dimulai dengan Gestapu, kemudian menyusul manipulasi Supersemar
asli sebagai motor pirantinya, kita menyaksikan bagaimana dia
mengobrak-abrik MPRS, yang semasa Rresiden Soekarno masih berkuasa.
Lebih
dari separoh keanggotaan MPRS yang sah itu dijebloskan ke dalam penjara
atau
dibunuh. Selanjutnya mulailah disusunnya MPRS baru ( yang katanya
konstitusional ),dengan mengangkat dari anggota KAMI/KAPPI dan dari
berbagai
kesatuan aksi lainnva.
Pembubaran PKI oleh Jenderal Soeharto berdasar Supersemar jelas
kontra konstitusional. Sebab pada saat itu Presiden sehat walafiat
dan tidak
uzur. Presiden Soekarno sudah mengoreksi tindakan Jenderal Soeharto
ini
melalui Surat Perintah 13 Maret yang disampaikan langsung ke tangan
Soeharto
oleh Waperdam II Dr J Leimena dengan didampingi BrigJen ALRI-KKO Hartono.
Menjawab Surat Perintah 13 Maret tersebut, Jenderal Soeharto
berkata, "Sampaikan kepada Bapak Pesiden, semua yang saya lakukan adalah
tanggungjawab saya sendiri" (hal 15 ). Menurut kamus politik, itu artinya
coup d'etat, kudeta (hal 275).
Soeharto orang yang di balik layar "tidak mencegah bahkan
membiarkan dibunuhnya Panglima A Yani dan lima jenderal, disusul pembantaian
satu juta rakyat tak berdosa dengan cara mengobarkan dendam benci terhadap
komunis, membubarkan DPRGR dan MPRS, mengganti anggota-anggotanya dengan
yes
men, menurunkan Presiden Soekarno dan menggantinya dengan dirinya sendiri.
Semua ini adalah pengkhianatan kepada demokrasi, UUD 45 dan Pancasila.
Di
atas gelimang lumuran darah itulah dia mendirikan kediktatoran militer
Orde=
Baru (hal 19).
Kemudian menjelang penutup dari bukunya itu, AM Hanafi
mengemu-kakan, "Kalau sungguh-sungguh mau menemukan darimana sumber
kesalahan paling pokok yang menimbulkan malapetaka, yang "dimahkotai"
oleh
kemenangan coup d'etat Soeharto dengan penyembelihan sejuta lebih rakyat
yang tidak berdosa itu, saya berpendapat pertama-tama bukanlah harus
dicari
kepada Soekarno, juga bukan kepada Aidit dan PKI, tetapi terhadap mereka
yang telah melacurkan diri pada Amerika."
Mereka ini lah yang mengacau, yang menjalin-jalin jerat
provokasi dengan apa yang disebut Gestapu. Dari sinilah Soeharto mulai
menggunakan Gestapu sebagai kuda tunggangannya untuk mencapai puncak
kekuasaan, kemudian merestorasi neokolonialisme di indonesia, seperti
yang
dialami sekarang.
Tapi, jelas, Gestapu itu bukan PKI, dan PKI bukan Gestapu!!
Gestapu menunggangi Soekarno, Soeharto menunggangi Gestapu. Bahwa Aidit
cs
tersangkut dengan Gestapu itu jelas (Sudisman sendiri telah mengakuinya
dengan jantan). Dus, sesunggulmya Gestapu itulah yang harus diperiksa
dan
adili dengan teliti, berikut segala sangkut-paut dan latar belakangnya,
secara terbuka, adil dan demokratis. Semua itu memerlukan waktu yang
cukup,
tidak bisa tergesa-gesa atau main tembak tanpa proses, seperti dialami
oleh
Aidit, Nyoto, Sakirman, Lukman dll. Penggabungan nama Gestapu dengan
nama
PKI menjadi G30S/PKI, itu sebenar- nya sudah menunjukkan salah satu
mata
rantai yang tersembunyi. Siapa-siapa dan kemana kaitan mata-mata rantai
itu?
Jadinya, maling seperti barteriak maling, karena tidak ada
penyidikan Yang jujur dan terbuka. Kenapa tidak disebut saja G-30-S?
Sebab bukankah begitu nama sebenarnya yang dinyatakan Letnan
Kolonel Untung
sendiri? Kalau tokh mau dilengkapi kata adjektifnya, yang paling kena
adalah
Gestapu/Soeharto (hal 262-265).
JENDRAL SOEHARTO UNJUK DIRI
Dalam memperkuat kesimpulannya bahwa Jenderal Soeharto "maling
berteriak maling" dalam Kasus G30S, maka AM Hanafi mengemukakan beberapa
fakta unjuk diri Soeharto, bahwa ia berdiri di belakang layar operasi
G30S,
dibelakang layar demonstrans untuk menggulingkan Presiden Soekarno.
Di
antaranya, sebagai ilustrasi adalah hal sebagai berikut:
Pada pk 6 pagi 1 Oktober, sesudah Soeharto diberitahu oleh
tetangganya Mashuri, bahwa telah terjadi pembunuhan Jenderal Yani dan
Jendral-jenderal lainnya, dan ini pemberitahuan Mashuri itu dijadikan
alibi
penting, walau pun sedang berlangsung pemberontakan Gestapu, dia, Soeharto,
sendiri pergi mengenderai jeep Toyota sendirian, tanpa pengawal menuju
markas Kostrad, melewati Kebon Sirih, jalan Merdeka Timur.
"Kau pikir sendiri (ujar Chairul Saleh -pen) seorang jenderal di
lapangan tanpa pengawal, kalau andaikata ada pertempuran benar-benar
akan
"jibaku" sendirian? ONZIN!!! Ini adalah satu pembuktian bahwa dia,
Soeharto,
sudah mengetahui lebih dulu. Terakhir sekali Latief dan memberitahukan
Soeharto pada pukul l malam tanggal 1 Oktober di RSPAD itu. (hal 96-97)
Pada 15 Januari 1966. Demonstrasi pemuda sedang berlangsung hebat di
luar Istana Bogor. Beberapa gerombolan sudah masuk kedalam pekarangan
Istana
yang dijaga keras oleh pengawal Cakrabirawa. Demonstran berteriak-teriak
dengan jel-jelnya~ Hanafi berdiri dekat Sabur. Kolonel Mangil melapor
dan
meminta tugas mendesak, sebab lini pertama barisan Cakrabirawa sudah
bobol
diterobos kaum demonstran yang kalap. Barisan pengawal sudah terkurung
dalam
kaum demonstran. Lini kedua sudah melepaskan tembakan peringatan. Kaum
demonstran berhenti, tapi tak mundur. Apabila kaum demonstran tetap
maju
merangsek terus lebih jauh ke dalam pekarangan Istana, mereka tidak
lagi akan disambut dengan peringatan keatas, tetapi laras miitraliur
AK
langsung watepas di hadapkan ke arah demonstran.
Hanafi mendatangi jenderal Soeharto yang sedang berbicara dengan
Laksamana Madya Martadinata, Kombes Sutjipto Judodihardjo dan komandan
CPM
Brigjen Sudirgo. Hanafi berkata, "...kalau Pak Harto dan para kepala
staf
tidak turun tangan, kita akan mengalami banjir darah hari ini. Lalu
Hanafi
menceritakan pembicaraan Sabur dengan Mangil. Sesudah mereka berunding
sejenak, Letjen Soeharto diiringi oleh jenderal-jenderal lainnya itu
tadi,
pergilah turun ke bawah menampakkan diri kepada kaum demonstran ribuan
itu.
Melihat kedatangan Letjen Soeharto, kaum demonstran yang telah
menginjak-injak segala tatatertib dalam lingkungan pekarangan itu menjadi
diam dan tenang semua. Letjen Soeharto bicara tenang saja, supaya kaum
demonstran pulang dengan tentram, dan bahwa tuntutan mereka itu akan
diperhatikan. Pidatonya yang pendek , sederhana itu punya kekuatan
menekan
gejolak semangat kaum demonstran yang menggila-gila. Kemudian para
jenderal
itu kembali naik ke Istana lagi, untak pamitan pulang kepada Presiden
Soekarno sebab sidang Kabinet diperluas ini sudah selesai. Di dalam
hati
saya berkata: Letjen Soeharto kasih unjuk siapa dia.( hal: 162 ) Sebelum
kata hati Hanafi berucap demikian, ia sendiri sudah Mengatakan, "Di
lndonesia sejak 1 Oktober 1965, semua demonstrasi pemuda dan mahasiswa
yang
terorganisasi didalam KAMI, KAPPI adalah digerakkan langsung oleh tentara
di
bawah perintah Letjen Soeharto yang oleh Presiden disebut Gestok (Gerakan
1
Oktober).(hal 153).
HANAFI MENGGUGAT DIRI SENDIRI
Dalam bukunya yang baru ini, Hanafi mengemukakan lima gugatan atas
Jenderal Soeharto. Ke lima gugatannya itu, bila didalami sesungguhnya
gugatan atas dirinya sendiri, yang telah keliru dalam menilai peranan
Jenderal Soeharo dalam G30S, seperti yang dituangkannya dalam bukunya
"Menteng 31 ".
Hanafi menggugat Soeharto, karena "Soeharto ingkar dan
menyalah-gunakan Supersemar untuk merebut kekuasaan negara". (hal 183)
Sedang Hanafi dalam bukunya "Menteng 31" mengenai Supersemar itu antara
lain
mengatakann Soeharto "terpaksa mengambil segala tanggungjawab ke atas
bahunya sendiri" (hal 147 ). Jadi, menurut "Menteng 31" Jenderal Soeharto
bukan menyalahgunakan Supersemar, malah menjadi korban dari Supersemar
Ia terpaksa memikul beban tanggungjawab. Jadi, kini isi Menteng 31
itu
dinilai tidak tepat oleh "AM Hanafi Menggugat".
Hanafi menggugat Soeharto, karena "pura-pura innocent, dengan
sengaja membiarkan Jenderal Yani cs dibunuh oleh pemberontak G30S".(hal
183)
Sedang dalam "Menteng 31" Hanafi mengatakan, "Bersedia membantu Soeharto
mengatasi kemelut yang menimpa negeri kita" (hal 60). Hanafi tentu
tidak
akan menyatakan bersedia membantu Jenderal Soeharto, sekiranya ketika
itu ia
berpendapat bahwa Soeharto lah yang menjadi dalang G30S. Kini, kesimpulannya
yang keliru di "Menteng 31", itu lah yang digugatnya. Hanafi menggugat
Soeharto atas dibunuhnya secara kejam 1 juta manusia oleh sebagian
tentara,
di bawah perintah dan tanggungjawab Soeharto. (hal 183-184) Sedang
dalam
"Menteng 31" Hanafi membenarkan keterangan Soeharto bahwa bukan tentara
yang
melakukan pembunuhan massal itu (hal: 146). Kini, dalam AM Hanafi Menggugat
dengan tegas dia mengatakan, "Satu juta manusia yang tidak berdosa,
yang
dibunuh secara kejam, dalam satu holocaust atas hasutan balas dendam
oleh
sebagian tentara di perintah dan yanggung-jawab Jenderal Soeharto,
tanpa
prosed pengadilan (hal: 183) Kesimpulannya yang dulu keliru itu lah
yang
digugatnya sendiri.
Hanafi menggugat Soeharto dan memohon kepada PBB untuk mengadili
jenderal Soeharto yang melakukan kudeta dan holocaust.(hal 184)
Permohonannya supaya PBB mengadili jenderal Soeharto dengan kudeta
dan
holocaustnya, itu memang tidak terdapat dalam "Henteng 31". Karena
dalam
Menteng 31 hanafi tidak melihat bahwa jenderal Soeharto yang melakukan
kudeta dan yang melakukan holocaust tsb. Kekeliruan "Menteng 31" dalam
menilai Soeharto bukan pelaku kudeta dan bukan pembunuh massal, itu
juga
digugat oleh AM Hanafi Menggugat.
Hanafi menggugat Soeharto yang telah berbuat menyimpang dari UUD
1945 mengenai dicaploknya Timor Timur (hal 184). Sedang dalam "Menteng
31"
Hanafi menilai Soeharto penyelamat UUD 45 dan Pancasila ( hal: 156
). Dengan
gugatannya ini, terbukti jenderal Soeharto bukan penyelamat UUD 1945
dan
Pancasila, tetapi justru perusaknya. Jadi, gugatan ini sebenarnya ditujukan
kepada AM Hanafi sendiri. AM Hanafi menggugat dirinya sendiri.
KESIMPULAN
Berubahnya sikap AM Hanafi yang dulunya melalui "Menteng 31" menyebut
Gestapu/PKI dan kini dalam "AM Hanafi menggugat" menyebut "Gestapu/Soeharto"
adalah suatu yang wajar. Kenyataan sejarah memang demikian. Sayangnya,
AM
Hanafi ini kurang jujur dalam mengoreksi kekeliruannya di masa lalu
(dalam
"Menteng 31"). Nampaknya dia takut, kalau diakuinya kekeliruannya dalam
"Menteng 31", nanti penghargaan pembaca atas pribadinya akan merosot.
Satu
dugaan yang keliru. Jika Hanafi berani melakukan otokritik dan secara
terbuka, justru namanya akan menjulang ke atas.
Sesungguhnya ketidak beraniannya untuk secara terbuka mengakui kesalahannya,
nampaknya AM Hanafi kurang jujur pada dirinya sendiri, ia merasa paling
hebat. Hal itu terpantul dari ucapan-ucapannya. Di antaranya adalah,
"Andaikata saya tidak pergi jauh ke Kuba, jauh dari Bung Karno, jauh
dari
tanah air barangkali bencana Gestapu ini tidak akan bisa terjadi. sebab
DN
Aidit (Ketua PKI ) itu, saya kenal sejak dari masa mudanya, sebelum
dia tahu
arti pergerakan nasional yang sesungguhnya. (hal 149-150)
Juga, "Kalau saya tetap berada di Indonesia, mungkin Peristiwa
Gestapu itu tidak akan terjadi, setidak-tidaknya saya akan berusaha
sekuat-kuatnya sehingga Presiden tidak bisa ditunggangi oleh avontur
semacam Gestapu. (hal 279 Atau, "Aidit saya bentak dengan keras. kenapa
polisi intel ini kau bawa kesini, hah? 'lendengarkan bentakan saya
itu,
Aidit terkejut dan Syam langsung balik kebelakang, masuk mobil lagi.
Aidit pun tidak.
Tentang "polisi intel yang dimaksud Hanafi tersebut, ialah Syam
Kamaruzzaman. Apa kah memang Hanafi pernah " membentak Aidit ", sulit
untuk
dikonfirmasi. Maklumlah hal yang dikatakan "membentak Aidit" muncul
setelah
Aidit meninggal 33 tahun yang lalu. Tentang berbedanya Hanafi di "Menteng
31", dengan Hanafi di "AM Hanafi Menggugat, mungkin karena pengenalannya
terhadap situasi yang sesungguhnya dari G30S tsb, bertambah. Dan hal
itu
dapat diperkirakan, karena dalam buku "AM Hanafi Menggugat" ia telah
menyebutkan sejumlah buku, yang ditulis beberapa penulis asing dan
penulis
indonesia mengenai G30S.
Penulis-penulis tsb ialah: Nugroho Notosusanto & lsmail Saleh,
Benedict OG Anderson & Ruth Mc Vey, Harold Crouch, Peter Dale Scott,
Wertheim, Van den Heuvel, Manai Sophian, ACA Dake, MR Siregar, Oei
Tjoe Tat
dan lain-lain. Keangkuhan Hanafi juga tercermin dari dalih yang digunakannya
maka ia berobah sikap terhadap Jenderal Soehartos dari mendukung menjadi
menghendaki ia turun, karena Soeharto tidak mewujudkan demokrasi Pancasila
kedalam praktek secara sungguh-sungguh, secara genuine--bukan sekadar
demokrasi formalisme konstitusional atau Soeharto tidak menegakkan
persatuan
nasional.
"Seluruh pemikiran dan tindak tanduknya malahan 180 diametral
bertentangan dari apa yang kita harapkan dari dia! Dia ternyata terus
saja
tanpa henti-henti memberangus demokrasi, menginjak-injak hak azasi,
dan
mengobrak-abrik ekonomi dengan keserakahan tak kenal batas untuk memperkaya
diri sendiri dan-anak-anaknya."(hal 18) Bahwa Jenderal Soeharto
antidemokrasi dan hak azasi manusia, itu telah bersuluh matahari, bukan
lagi
bersuluh batang pisang. Karena itu merupakan kekeliruan dari Hanafi
yang
mendukung Soeharto untuk menjabat Presiden satu termijn lagi, ssperti
yang
dikemukakannya dalam "Menteng 31". Mendukung Soeharto sama artinya
dengan
mendukung diobrak-abriknya demokrasi dan diinjakinjaknya hak azasi
manusia.
Jika Hanafi jujur pada dirinya sendiri, tentu dia tidak akan kemukakan
berobah sikapnya itu, dengan dalih karena Soeharto tidak mewujudkan
Demokrasi Pancasila dalam praktek, tetapi akan dikatakannya, "Adalah
kekeliruan saya memberikan dukungan kepada jenderal Soeharto yang menjadi
dalang dari G30S yang bertanggungjawab atas pembunuhan massal yang
terjadi
di lndonesia, yang telah menggulingkan Presiden Soekarno dari kekuasannya.
Seharusnya saya sejak awal sudah harus mengutuk Gestapu/Soeharto tersebut."
Ya, keangkuhannya lah yang menyebabkan ia mencari dalih, bukan
melakukan otokritik atas kekeliruannya. Hanafi akan jauh lebih terhormat
dengan otokritiknya daripada "menggugat" Soeharto, yang sesungguhnya
menggugat dirinya Sendiri.***
|