***************************************
   LSSPI - Publikasi No.33(1998) 
  lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net 
*************************************** 
 *  A.M. HANAFI MENGGUGAT  * 

Bab XXIII

Aku Ditangkap di Hotel Indonesia

Malam hari tanggal 15 Maret 1966. Sepulangnya dari Kedutaan Kuba saya tidak pergi ke mana-mana. Saya cape sekali. Apalagi Chaerul Saleh tidak ada di rumah, dia pergi ke luar kota dengan Brigjen Hartawan, orangnya ganteng. Saya tidak begitu kenal padanya, tapi rupanya Chaerul menganggap dia "orang baik". Malam itu saya tinggal saja di kamar saya di hotel. Kepada reception-desk saya minta sebuah kamar lagi tambahan. Sebab anak saya Dito, pengawal letnan Arnel dari Cakrabirawa, dan keponakan Syamsudin Yaw, namanya Iwan, akan menginap menemani saya. Iwan membawakan untuk saya dari rumah Syamsuddin satu rantang masakan Bengkulu, ada sambel tempuyak, gulai pet‚ dengan ikan teri. Antensi dari isteri Syamsuddin untuk "Pa' Uncu Hanafi" yang masih ada sangkut paut famili pada saya. 

Sejak pulang dari Kedutaan Kuba tadi siang hati saya merasa kurang enak.Tapi hati kusabarkan saja dalam menghadapi situasi di mana saya berada dan tentang kokhawatiran pihak Pemerintah Kuba, dari isteriku dan anak-anakku yang saya tinggalkan di Kuba mengenai diri saya. Jelas Kuba sudah dapat mengetabui dari segala saluran bahwa keadaan Presiden Sukarno adalah gawat sekali, setelahJendral Soeharto dengan menyalaLgunakan SUPERSEMAR rmembubarkan PKI. Akibatnya luas sekali, berarti Sukarno sudah berada di dalam mulut buaya. 

Kira-kira jam 12 malam pintu kamar saya diketok-ketok seperti oleh orang yang bergegas tidak sabaran, dengan teriakan: Buka, buka! Pintu saya buka, empat orang tentara menyerbu masuk dikepalai oleh seorang mayor."Bapak diminta turut kami sekarang", katanya pendek."Ke mana?" tanyaku."Turut saja, nanti Bapak tahu", jawabnya kasar sang mayor."Tunggu, saya berpakaian dulu, pakaianku ada di kamar sebelah". Saya keluar kamar, diapit rapat oleh mereka. Barangkali dikira saya mau melawan atau lari. Saya tidak sekonyol itu, saya tahu apa artinya sergapan itu. Di kamar sebuah lagi itu saya lihat anak saya Dito, letnan Arnel dan Iwan sudah dijejerkan, senjata letnan Arnel dirampas. Dan Iwan yang masih di SMP itu nyengir ketakutan. Saya sabarkan mereka, tidak apa-apa, turut saja! Saya minta pakaian militer saya pada Dito. Sementara saya berpakaian, pistol saya diambil oleh mayor itu yang tidak saya kenal namanya. Saya diam saja. Tetapi setelah mereka melihat saya memakai uniform berbintang Mayor Jendral itu, kelihatan mereka bersikap agak lebih "tahu adat". 

Kami diangkut ke Markas Kodam JAYA. Jadi, markasnya Amir Machmud."Oo, jadinya Pak Amir Machmud yang suruh menangkap saya?" Kutanya pada si mayor, ketika turun dari jeep. Dia diam saja. 

Di ruangan di mana kami ditahan ada seorang penjaga saja yang tampak dekat kami.Tetapi di luar banyak. Dito dan dua temannya itu biasa saja, tidak menampakkan rasa takut. Dan seorang penjaga itu ngomel-ngomel, sebenarnya menyindir."Saya tidak tahu apa itu "markis", markis, markisa, tapi saya dalam pertandingan "ngaji" di Malaysia menang". Kami diam saja.Walaupun, saya pernah tiga kali khatam Qur'an, di Bengkulu. Malam itu sampai pagi kami tidak tidur. Ketika hari sudah menjelang pagi, saya bilang kepada penjaga yang saya minta ketemu dengan Brigjen Amir Machmud, ... dan saya minta boleh menggunakan tilpon, sebab kataku, bahwa saya "harus lapor kepada Bapak Menpangad Jendral Soeharto, bahwa mungkin saya agak terlambat bersama beliau ke istana di pagi hari itu, sebab saya sekarang masih berada di sini" ... dan memang saya minta tolong disambungkan per tilpon ke rumah Letjen Soeharto, dan dapat bicara dengan ajudannya nama Sutrisno. (Saya tidak tahu apakah ajudan Sutrisno yang bicara pada saya di tilpon itu, bukan lain dari BapakWapres kita Tri Sutrisno sekarang, saya tidak tahu!). Kepadanya saya minta tolong disampaikan:"Saya Dubes Rl di Kuba, MayorJendral Hanafi, minta tolong disampaikan kepada Pak Harto bahwa saya barangkali agak terlambat datang ke istana, sebab ini pagi saya masih berurusan dengan Brigjen Amir Machmud di Markas Kodam JAYA". Saya sengaja tidak minta bicara langsung kepada Menpangad Jendral Soeharto, sebab saya cuma mau membluf (menggertak) para pengawal itu saja, supaya mereka laporkan kepada Brigjen Amir Machmud. 

Rupanya semua gerak-gerik saya segera dilaporkan kepada Amir Machmud. Betul saja. Kira-kira pk. sembilan Amir Machmud masuk kantornya. Saya dan ketiga anak muda (Dito, Arnel dan Iwan) diminta datang, diantar oleh mayor yang mengangkut saya tadi malam itu. Saya memang sudah kenal Amir Machmud sejak lama, sejak zaman Kongres Rakyat Untuk Pembebasan Irian Barat beberapa kali saya ke Bandung mengiring Presiden Sukarno untok berpidato menggembleng semangat perjuangan Irian Barat di Rapat Raksasa Merah Putih di lapangan Tegalega. Amir Machmud mengambil kesempatan pula untuk menampilkan simpati.Begitu pula dengan Bapak GubernurJawa Barat Ipik Gandamana.Tentu saja tidak bisa selalu dapat kesempatan "rariungan" dengan presiden, maka sayalah yang selalu didekati. Semuanya pintar, lihay, cuma saya yang lugu! Ketika saya sebagai Menteri Negara menjabat Kepala Panitia Penyambutan Kepala-kepala Negara Asing (PPKN) saya percayakan tugas keamanan kepada Amir Machmud dalam rangka kunjungan Presiden Ho Chi Minh ke Indonesia. Bukan main besar biaya keamanan yang dia minta, tapi saya acc.-kan saja, asal beres! Jadinya dia tambah dekat pada saya. Saya tidak sungkan panggil dia pada namanya langsung. 

"Pak Amir, apa-apaan ini, masa begini caranya kita kerja menghadapi GESTAPU, apa ini perintah Pak Harto?", saya langsung tanya ketika saya masuk ke ruang bironya dalam uniform Mayjen TNI. 

"Oo, Pak Dubes Hanafi, maaf, maaf sekali lagi maaf, ini kesalahan." Lalu di depan saya dia memarahi mayor yang menangkap saya malam tadi itu."Kenapa Pak Hanafi ditangkap, beliau kan Dubes kita di Kuba, kapan tidak ada dalam daftar, kan?" 

"Punten wae Bapak itu mah kesalahan", senyuman pada saya. Mayor disuruh mengantar saya pulang. 

Amir Machmud bertanya:"Bapak mau langsung ke istana atau pulang ke rumah?" Saya bilang, antar pemuda-pemuda itu pulang ke Hotel Indonesia, dan saya minta diantar ke rumah Pak Adam Malik. Demikianlah terjadi. Dalam hatiku, ini bluf saya yang kedua. 

Untuk menunjukkan pada Amir Machmud keakraban saya dengan si Akoy itu yang telah saya ketahui sudah berada di dalam kandang Soeharto. 

Di situlah kesempatan saya "melabrak" Adam Malik, yang secara akrab antara kami selalu panggil "Si Akoy". 

"Fi, jij itu kena 'akibat sampingan' saja, yang jadi sasaran GESTAPU, bukan orang macam Bung", kata Adam Malik 

"Ah, jij yang bilang begitu,pet of untukmu Bung, kalau memang sikap sana itu begitu", kataku."Secara tidak langsung saya telah mengusulkan supaya Bung diangkat menjadi Menlu untuk menggantikan Subandrio, sebab Bung Karno sudah memerintaLkan saya kembali ke pos saya di Kuba. Saya minta Bung jaga dan selamatkan Bung Karno dan Chaerul Saleh, kan Bapak kita itu dan Chaerul itu bukan GESTAPU, toh. Jangan Bung kira saya tidak maklum akan semna basa-basi seremoni ini. Tapi saya tidak akan menentangnya selama sikap kalian "correct" terhadap Bung Karno dan Chaerul Saleh. Jij kan tahu, tanpa Chaerul Saleh dan Bung Karno, tidak bakal kita punya Proklamasi 17 Agustus itu pada saatnya". 

Adam Malik:"Sayang, mestinya dulujij tidak pergi ke Kuba, Fi; sejak jij pergi, terjadi kortsluiting, jadi tambah parah, sebab tidak ada lagi"tukang-reparasi" dari MENTENG 31 lagi." 

Saya tidak mau perpanjang percakapan yang intim tapi penting dengan Bung Adam ini. Sebab kekecewaan saya sendiri banyak sekali kepadanya, walaupun dia mengenangkan kembali semangat Menteng 31. Pada saat ketemu yang terakhir dengan bung Adam di Brussel tahun 1979, barulah dia berani bilang "Fi, jij tahu sebenarnya saya juga berada dalam tahanan."Buat saya dia jelas bukan dalam tahanan, tetapi berada dalam "sangkar-mas" seperti beo, tapi saya sekeluarga dalam pembuangan di luar negeri. Dan si Akoy ini tidak berdaya mencegah tindakan pegawainya di Deparlu yang phobi-komunis, melemparkan saya sekeluarga ke dalam pembuangan di luar negeri itu. 

Tanggal 25 Maret 1966, saya berangkat ke Kuba kembali, sesudah saya menemui Adam Malik sebagai menlu baru dan Bung Karno menghadiri Resepsi Hari Nasional Pakistan tanggal 23 Maret malam, di Hotel Indonesia. Arti yang sebenarnya, Adam mengajak saya menemaninya menjadi "dekorasi" menjumpai "raja tanpa mahkota", Presiden Sukarno tanpa kuasa. 

Mayor Jacinto Vasques, chargé d'affair Kuba mengantar saya sampai dalam plane, sampai saya duduk. Di belakang saya anak saya Dito. Umar Senoadji dan Ibnu Sutowo di jejeran paling belakang, satu plane sama saya. Mereka berdua itu akan ke Tokyo juga. Baris terakhir ini ialah renungan kesimpulan pengalaman kita sekarang, di tahun 1997, bulan Agustus, ketika jariku menari di atas mesin ketik Remington-ku yang tua ini. Dahulu di tahun 1966, di bulan Maret itu, walaupun kita kaum Sukarnois sudah kepepet, namun kita masih bisa "main" sama waktu, berspekulasi dengan keadaan di atas faktor kepribadian dan kewibawaan Bung Karno. Yaitu selama Bung Karno masih ada dan massa rakyatnya masih ada walaupun sudah kucar-kacir, ada kemungkinan masih bisa bangun kembali kalau hari dan kesempatan itu masih mengikuti kehendak hati. Kalau kambing-kambing di padang rumput yang insting hidupaya cuma cari makan rumput saja, bila hari petang tak ada gembalanya, tidaklah tahu jalan pulang ke kandang. Kalau datang pemburu jalang (pemburu liar) kambing-kambing habis "dimakannya" atau mencari selamat sekalipun terjun ke jurang. Ini cuma kata kiasan dalam mengertikan hukum sosial masyarakat yang sudah merupakan satu aksioma: Rakyat dengan Pemimpinnya - Pemimpin dengan Rakyatnya. Harap jangan salah terima, ini bukan sindiran kepada bangsaku Indonesia, sebab hokum aksioma itu berlaku pada seluruh Nasion. 

Pemimpin yang sesungguhnya, lahir dan tumbuh di atas buminya rasa hormat dan kecintaan rakyat kepadanya. Jalurnya dari bawah ke atas. Normal, wajarnya pohon beringin tumbuh dengan akarnya membenam ke dalam bumi, akamulasi oxigennya memberikan kerindangan dan kesejukan alam sekitarnya. Itulah simbolnya Demokrasi, rakyat dan kerakyatan, yang telah menjadi kesadaran nasional. 

Kecintaan dan penghormatan rakyat kepada Bung Karno, sebagai manusia biasa dengan segala kelebihan dan kokurangannya takkan menjadi pudar dan padam, selama matahari bersinar, di waktu malam dia bersinar laksana bintang. Kebesaran dan kehebatannya, bukan karena dia Proklamator (di samping Bung Hatta sebagai co-Proklamator), tapi karena dia punya ideal dan wawasan yang lebih hebat dan agung dari segala pemimpin di dunia yang pernah ada, yaitu Pancasila. Pancasila bukan Kapitalisme - bukan Komunisme! 

Di dalam buku "Menteng 31 - Membangun Jembatan Dua Angkatan", saya telah menggunakan kesempatan untok meng- ingatkan, bahwa:Versi asli Pancasila barangkali sekarang sudah tidak pernah atau jarang sekali dibaca lagi. Bung Hatta yang kita semua kenal sebagai orang yang sangat kritis, nuchter tidak emosional pernah berpendapat:"Itu pidato Sukarno terbaik dari banyak pidato yang pernah diucapkannya". 

Mutiara cemerlang yang keluar dari hasil pemikiran Bung Karno ini, ada baiknya kita baca ulang untok penyegaran pemikiran politik kita menghadapi erosi nasionalisme dan patriotisme yang sedang merambak pada sebagian masyarakat kita akibat kejangkitan demam globalisme. 

Rasanya tidak salah kalau saya katakan, bahwa Pancasila adalah Anugerah Yang Maha Pengasih kepada bangsa Indonesia lewat makhluk pilihanNya. yang bernama Sukarno. 

Di dalam proses pelaksanaannya kita harus berani mempelajari pengalaman-pengalaman dan segi-segi yang positifnya dari kedua antipoda tersebut dan faktor-faktor kondisi dan situasi bangsa In- donesia sendiri.Tapi syaratnya "condition sine quanon" mutlak harus ada suasana yang demokratik. Dus harus ada demokrasi yang sesungguhuya, bukan sekadar frasiologi kosong saja seperti sekarang, di mana DPR dan MPR sejak semulanya diketok dan dicetak menurut matrix kemauanJendral Soeharto dan Jendral Nas. 

Walaupun di dalam buku ini dibeberkan sejarah yang sebenar- benarnya, seluruhnya menggugat pertanggungan jawabnya pengkhianatan Jendral Soeharto terhadap Dewan Jendral dan GESTAPU dan kudeta terhadap Presiden Sukarno, namun di sini pada akhirnya saya terpaksa menyatakan kekecewaan saya yang sebesar-besarnya kepada Jendral Nas pula.Jendral yang kami kenal sejak dari Bengkulu di tahun 1937, ketika dia menjadi Guru Sekolah Partikelir di Anggut Atas, Bengkulu, yang oleh API-Bandung diusulkan untuk menggantikan Daidancho Arudji Kartawinata dan Mayor KNIL Didi Kartasasmita untuk menjadi Panglima Divisi I Siliwangi di tahun 1946. 

Mengapa? Sebab pukulan decisive, genade slag, yang menjatuhkan Presiden Sukarno adalah palu yang diketokkan oleh Jendral Nasution sebagai Ketua MPR Gadungan di tahun 1967, hasil rekayasa komplotan kaum militeris Soeharto cs. Walaupun saya tahu bahwa sebenarnya beliau hanya dimanipulasi oleh Jendral Soeharto yang sudah mengantongi kekoasaan de facto atas ABRI. 

Kita mohon kepada Tuhan semoga diampuni dosa kedua beliau tersebut. 

Kita sudah sama-sama tua semuanya. Kita harus siap menghadap kepada Tuhan. Tetapi kebenaran sejarah harus ditegakkan. Kalau tergantung pada pribadi saya saja, bisalah dicukupkan kalau Soeharto dan Nasution mengakui kesalahannya dan memohon maaf kepada bangsanya, agar pembangunan nasional yang harus dilanjutkan tidak berbau busuk pengkhianatan itu, dan rekonsiliasi nasional dapat ditegakkan. 

Kalau saya sekeluarga bisa pulang kembali ke tanah air, saya akan mengulurkan tangan saling memaafkan kepada kedua beliau yang bersejarah itu.Jika tidak, saya pinjam cara Fidel Castro dalam nada yang sama (yang sudah sakit-sakitan pula): Adios, los traidores - au revoir, para pengkhianat Bangsaku, di hadapan Tuhan kita berjumpa! 

Biarlah kupungut mutiara ucapanJose Rizal yang tak terlupakan: "Adios, mi eldorato patria !" "Selamat tinggal Tanah Airku!" 

Saya tahu pada mulanya kita semua adalah satu, semua mau mengabdi kepada cita-cita, tapi intervensi imperialisme memecah kita. Dan sangat tragis baLwa ada saja orang-orang di antara kita yang demi kekuasaan dan kountungan materi, rela menyediakan diri menjadi perangkat kepentingan imperialisme, di atas pengorbanan Rakyat dan sumber-sumber kekayaan bumi Indonesia. 

Oleh karena itu eksistensi agama bertambah penting, untuk menegakkan moral ke dalam hati manusia. 


www:munindo.brd.de