| *************************************** LSSPI - Publikasi No.33(1998) lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net ************************************** | |
| Bab XXII Kekhawatiran Señora Silya Sanchez dan Keluargaku di Havana Tanggal 15 Maret. Pagi-pagi hari, saya menilpon Chaerul Saleh. Ajudannya Sutomo, dari ALRI, menjawab bahwa Pak Chaerul tidak ada di rumah, sedang bepergian; dikatakan bahwa Chaerul baru akan ada di rumah pada sore hari. Kemudian saya mendapat tilpon dari kedutaan Kuba. Kuasa Usaha kedutaan Kuba, namanya Señor Jacinto Vasques, mengatakan bahwa ada surat dari isteriku (di Havana) untuk saya, dan mengharap supaya saya segera datang ke kedutaannya di Jalan Teuku Umar, supaya saya langsung yang menerima surat itu. Segera saya bisa menerka bahwa ada sesuatu yang penting sekali yang dia ingin bicarakan kepada saya. Sebab kalau hanya sekadar surat saja, dia cukup menilpon saya, danjika saya ada di tempat, dia bisa menyuruh sekretarisoya untak mengantarkan surat itu kepada saya. Señor J.Vasques, adalah seorang pejuang yang berpengalaman, bukan saja dalam pertempuran gerilya, tapi juga dalam pekerjaan diplomatik, pernah menjabat Kuasa Usaha Kedutaan Kuba di Rio de Janeiro, Brazilia. Kemudian, selama saya dalam exile di Kuba, dia menjadi sahabat saya yang karib. Ketika saya sudah berhadapan dengan dia, memang betul ada surat dari isteri saya, yang segera kubaca, isinya mengabarkan selain tentang keadaan keluarga, bahwa Señora Silya Sanchez, Sekretaris Presiden, wanita pejuang kenamaan di samping Fidel Castro, beberapa kali sudah datang berkunjung ke rumah, untuk mena- nyakan bagaimana keadaan dan keselamatan saya di Jakarta. Saya mengakui kesalahanku kepada diriku sendiri, saya memang lalai, sudah tiga minggu saya di Jakarta, saya belum juga mengirim kabar kepada istriku. Kecuali kawat-kawat dinas kedutaan. Saya terlalu sibuk dengan soal-soal politik. Surat isteriku itu mengatakan bahwa, Señora Silya Sanchez itu datang berkunjung sudah dua kali, atas nama Presiden dan Fidel Castro sendiri, sebab pemerintah Kuba sangat khawatir tentang situasi di Jakarta dan tentang keadaan keselamatan diri saya. Saya belum mengirim kabar, justru disebabkan karena belum ada kabar menyenangkan yang dapat saya kirim. Kemudian Señor JacintoVasques, yang dalam pembicaraan tanpa basa-basi protokol lebih suka dipanggil Campanero Jacinto, mengatakan bahwa dia mendapat perintah langsung dari Silya Sanchez, untuk menyampaikan rasa khawatir Pemerintah Cuba atas keselamatan diri saya, dan menyarankan apakah tidak sebaiknya saya segera kembali ke pos saya di Cuba dan dari Cuba dapat juga berbuat sesuatu untok membantu posisi Presiden Sukarno guna keselamatan rakyat Indonesia. Dia menyatakan hal itu dengan sangat bersungguh-sungguh. Saya tidak tahu apakah ada negeri-negeri lain yang bersahabat dengan Indonesia, yang tadinya bersimpati kepada Pemerintah Sukarno, menunjukkan rasa prihatinnya, setiakawannya, sedemikian rupa, seperti ditunjukkan Kepala Perwakilan Pemerintah Cuba itu. Saya kira tidak banyak. Maka hal ini patut dibnat pelajaran yang berharga kalau bicara tentang"solidaritas internasional." Misalnya, bagaimana sikap RRT, Korea Utara, Sovyet Uni danVietnam setelah kedudukan Soekarno goyah?Yang saya ketahui di samping Cuba, adalah Pakistannya Ali Bhutto. Ketika saya sedang berada bersama Presiden Sukarno di Istana, kira-kira pertengahan Januari 1966, yaitu pada kunjunganku yang pertama keJakarta sesudah terjadinya GESTAPU, Perdana Menteri Ali Bhutto, langsung menilpon Presiden Sukarno dari Islamabad. Aku berdiri mendengarkan di samping Presiden:"Hallo ...yes Bung Karno speaking, Bung Karno himself... How are you Ali? ... me?... I am allright ... cdon't worry ... I am allright No, I can't do that ... I have and I want to stay with my people ... nevertheless thanks very much to you and your people ... I appreciate your offer. Your sentiment of brotherhood touched me deeply, very deeply, but I want to be always and forever with my people; I am doing my utmost now to encounter the intervention of the Nekolim; do you hear me Ali ... the intervention of the Nekolim ... my warmest regard to you, thanks you very much ... " Pembicaraan Bung Karno dengan Perdana Menteri Ali Bhutto itu terjadi, sehari atau dua hari sesudah sidang kabinet 15 Januari 1966 di Bogor, di mana ratusan ribu demonstran menyerbu mencoba untuk masuk ke dalam Istana untok mengacaukan sidang kabinet itu, sehingga pasukan pengawal Cakrabirawa terpaksa melepaskan tembakan gencar ke udara. Namun demonstrasi itu tidak mau mundur juga. Agaknya sudah direncanakan, biar ada korban yang jatuh untuk memancing provokasi. Ketika itu kebetulan saya duduk di samping Jendral Soeharto. Saya peringatkan kepadanya,jika Jendral tidak turun-tangan, maka barisan kedua Cakrabirawa akan meng- arahkan tembakannya horizontal, tidak ke udara lagi seperti barisan yang pertama yang sudah tenggelam dilampaui demonstran itu. Barulah kemudian Jendral Soeharto turun, bersama panglima- panglima semna Angkatan Bersenjata, maka setelah melihatJendral Soeharto yang naik ke atas jeep, banjir manusia itu mundurlah dan berangsur-angsur berlalu. Bagiku, ini suatu bukti bahwa demonstrasi- demonstrasi itu bukan demonstrasi spontan, tapi dibuat oleh pihak tentara Soeharto sendiri. Kembali mengenai pembicaraan tilpon. Bung Karno mengatakan bahwa Ali Bhutto, meminta dengan sangat, jika keadaan sangat membahayakan dirinya, supaya Bung Karno mau pergi ke Pakis- tan, pintu Pakistan selalu terbuka lebar baginya, dan bahwa Ali Bhutto sudah memberikan perintah kepada Duta Besar Pakistan di Jakarta. Hubungan Sukarno dengan Ali Bhutto adalah sebagai saudara sendiri, comrade in arms, kawan seperjuangan. Negara yang ketiga, yang menunjukkan simpatinya yang serupa kepada Presiden Sukarno, adalah Dios Dadong Macapagal, Presiden Filipina. | |