| *************************************** LSSPI - Publikasi No.33(1998) lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net ************************************** | |
| Bab XVIII Barisan Sukarno Dibunuh Mati dalam Kandungan Para pembaca yang terhormat! Saya bukanlah menulis sebuah memoar di bawah cahaya bulan purnama, bertabur kembang melati dan bunga rampai harum aneka warna. Saya menuliskan perasaan hati peri kemanusiawian saya yang menderita, merasakan pedih kehilangan milik berharga dari sejarah perjuangan Bangsa Indonesia sebagai akibat pengkhianatan Jendral Soeharto. 1) Saya mengumandangkan Protes dan Gugatan Bung Karno, Presiden/PanglimaTertinggi ABRI, Pemimpin Besar Revolusi Agustus 1945, kepada Jendral Soeharto yang ingkar dan menyalah-gunakan Surat Perintah 11 Maret 1966, menjadi- kannya dasar penipuan untuk merebut koknasaan negara (coup d'etat). 2) Saya meneruskangugatan bersama-sama dari Panglima Jendral AhmadYani, LetnanJendral Suprapto, LetnanJendral Haryono M.T., Letnan Jendral S. Parman, Mayor Jendral D.l. Panjaitan, MayorJendral Sutoyo Siswomiharjo, dan J. Katamso, Ign Soegiono, PierreTendean dan KS.Tuban - kepadaJendral Soeharto yang pura-pura innocent, maka par expresse (dengan sengaja) membiarkan dibunuh oleh pemberontak G30S/PKI yang khianat. 3) Saya meneruskan jeritan permohonan keadilan perikema- nusiaan dari satu juta manusia tidak berdosa,yang dibunuh secara kejam, dalam satu holocaust atas hasutan balas-dendam oleh sebagianTentara di bawah perintah dan tanggung-jawab Jendral Soeharto, tanpa proses hukum pengadilan. 4) Saya mengimbau kepada para tokoh pembela perikemanusiaan dari segala bangsa di dunia agar mendirikan Komite Pembela Perikemanusiaan untuk memohon kepada PBB dan Pengadilan Internasional mengadakan penyidikan kudeta dengan holocaust seperti dilakukan oleh Jendral Soeharto di Indonesia, Oktober 1965.Dan mengadili pelaku utamanya, Jendral Soeharto diktator Indonesia (sekarang Presiden R.I., yang menurut majalah FORBES:" The world's shrewdest businessman", yang mempunyai kekayaan US $ 16 billion, orang terkaya ketiga sesudah Sultan Hasanul Bolkiah, dan King Fahd Bin Abdulaziz Alsaud). 5) Saya mengingatkan kepada seluruh Bangsa Indonesia, supaya setia dan menjunjung UUD '45 dengan Mukadimahnya, dan bersama saya sebagai Pemuda Pelopor Revolusi 1945 yang terakhir yang masih hidup, agar mengembalikanTimorTimur kepada rakyat Timor Timur yang di anschlus, dicaplok, oleh diktator Soeharto, oleh karena tindakan tersebut bertentangan dan mengkhianati UUD'45. Bersamaan dengan itu, untuk memohon kepada PBB membantu pelaksanaan Mosi Komite Rakyat Indonesia untuk mengembalikan kemerdekaan Timor Timur kepada rakyat Timor Timur secara demokratis. Demikian adanya, lima pasal tuntutanBuku Menggugat Diktator Soeharto ini. Sekarang tentang Barisan Sukarno Barisan Sukarno ini sudah dibunuh mati, ketika masih di dalam kandungan, artinya masih janin belum berwujud apa-apa. Itu adalah ide yang diserukan oleh Presiden Sukarno ketika menghadapi situasi politik yang jelas sedang menyerang untuk menjatuLkannya dari kekuasaan, diserukannya ketika itu di dalam Sidang Kabinet yang diperluas 15 Januari 1966. Tetapi apakah maksud dan tujuannya? Apakah Presiden Sukarno menginginkan Barisan Sukarno itu merupakan satu Barisan yang militan yang setia kepadanya sebagai Presiden/Kepala Negara, dan membela Persatuan serta Kesatuan Republik Indonesia? Jawaban atas pertanyaan itu adalah:Ya! Jawaban tersebut ditegaskan oleh Bung Karno, ketika Dr. Subandrio dan Chaerul Saleh mengusulkan supaya saya, A.M. Hanafi, ditunjuk untuk memimpin Barisan Sukarno itu. Tetapi oleh Bung Karno, menga- takan bahwa beliau masih memerlukan saya di Kuba berhubung dengan rencana Konferensi CONEFO pada bulan Oktober 1966, maka pilihan jatuh kepada Mayor Jendral Achmadi. Pada tanggal 17Januari 1966, jadi dua hari sesudah demonstrasi ketika Sidang Kabinet di Istana Bogor, saya diberitahu oleh Presiden Sukarno, bahwa Surat Keputusan pengangkatan saya menjadi Mayor Jendral TNI Kehormatan, sudah beliau siapkan, tapi upacara pelantikan akan dilaksanakan oleh Menpangad Letjen Soeharto, kata beliau. Tanggal 21 Januari, ketika jumpa Letjen Soeharto yang didam- pingi Brigjen Sugiharto di istana, langsung pada kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan"kapan beliau akan melaksanakan pelantikan saya itu". Beliau agak terkejut. Lalu sejenak memandangi saya, maka langsung saya ceploskan: "Pak Harto, pengangkatan saya menjadi Mayjen TNI Kehormatan itu, bukan atas kemauan Bung Karno sendiri, tetapi itu adalah amanat Panglima Ahmad Yani". Tampak beliau terkejut, dengan suaranya merendah beliau menyahut:"Kalau begitu, maaf, saya tidak tahu. Besok saja, saya minta Pak Hanafi datang ke MBAD, jam 10 pagi untuk dilantik." Sebelum saya masuk ke ruangan upacara di MBAD saya disambut oleh Kolonel Alamsyah Prawiranegara. Saya tahu, dia ini asal dari Dewan Gajah yang pasang pengeras suara di rumahnya kala Azan Maghrib, yang suaranya nyaring sekali terdengar sampai ke rumah Gubernur Husin di mana saya menginap, ketika saya berkunjung ke Palembang tahun 1957. Kolonel Alamsjah bertanya: "Apakah Pak Hanafi dari PARTINDO atau dari MURBA?" "Dua-duanya",jawab saya. Sebab saya tidak suka pertanyaan intel semacam itu. Bahwa saya memang dari MURBA, belakangan memang ada disebutkan oleh Ex Wapres Adam Malik di dalam bukunyaMengabdi Republik. Selesai pelantikan Pak Harto menasihatkan saya supaya saya pergi berziarah ke Makam Pahlawan, di mana dimakamkan pahlawan- pahlawan yang menjadi korban GESTAPU. Demikianlah, saya, diantar oleh seorang kolonel dengan jeep Angkatan Darat, berangkat ke Kalibata. Sejenak dengan khusuk saya bersemedi, yang pertama di makam Jendral A. Yani (yang telah saya juluki Panglima Harapan Angkatan 45), selanjutnya ke makam Jendral S. Parman, lalu ke makam Jendral Suprapto yang saya kenali di Yogyakarta di masa Revolusi, lalu Jendral Haryono, ex mahasiswa Ika Daigaku, yang saya kenal ketika di Prapatan 10, September 1945. Seterusnya saya ke makam pahlawan-pahlawan yang lain, yang menjadi korban pembunuhan GESTAPU. "Semoga arwah mereka disambut di Suwargaloka, di samping TuhanYang Maha Esa. Saya mohon diberi kekuatan dan restu oleh Allah untuk dapat mengetahui rahasia tersembunyi di belakang komplotan GESTAPU itu. Amien, Amien." Bagaimana dengan persoalan Barisan Sukarno? Kita semua tahu, bahwa pribadi Bung Karno punya sifat kemanusiaan yang begitu mulia dan tinggi.Jangankan kepada binatang yang tidak berdaya, kalau diberikan kepadanya seekor burung untuk dipelihara di dalam sangkar yang molek, janganlah kaget nanti, kalau burung itu dilepas pergi bebas meninggalkan sangkarnya yang molek itu. Ibu Inggit suka memelihara seekor kucing, mending kalau kucing anggora yang bulunya halus bagus itu, ini kucing kampung yang lepas tak punya tuan. Kucing itu dipungut dan dipelihara, saya mengetahui hal itu ketika sama-sama di Bengkulu. Nah, Bung Karno suka juga mengelus-ngelusnya, karena kucing itu suka menunggu di dekat Bung Karno, kalau Bung Karno habis sembahyang. Di zaman GESTAPU, saya terkenang kembali akan hal yang remeh-temeh itu. Di masa zaman Bung Karno berkoasa, sementara orang yang memusuhinya tidak diapa-apakannya, bahkan ada yang dimutasi naik pangkat. Kapten AURI Maukar, yang memberondong istana dengan mitraliur dari kapal terbang, ketika hari sidang sesudah saya disumpah menjadi Anggota DPA, diampuni oleh Bung Karno. Lebih hebat lagi terhadap penerbang Amerika Alan Pope yang mengebom Ambon, ratusan rakyat mati karena sedang ada hari pa- saran. Eee, Alan Pope itu dibebaskannya, sesudah Robert Kennedy (adik J.F. Kennedy) dan isterinya Alan Pope itu memohon kepadanya. Semua pemberontak PRRI/Permesta diberi amnesti. Ini saya sambut baik. Demikianlah antara lain sifat mulia yang tinggi dari de grote Bung.Tetapi di balik sifatnya yang mulia dan tinggi itu, beliau juga punya ijdelheid (kegenitan) yang merangkai pada sifatnya yang mulia itu.Tetapi lagi, kegenitannya itu sudah menjadi patent nasional tidak bisa dia apa-apakan lagi. Mulai dari peci nasional di zaman PNI pertama, sampai baju nasional di zaman Revolusi 1945, dan titel BUNG yang menjadi predikat pada orang-orang pergerakan nasional. Yang dikatakan ijdel di samping sifat Bung Karno yang mulia dan tinggi itu, sebenarnya tidak bisa digunakan untuk mengecilkan arti penting kepribadian Bung Karno, sebab dasar seluruh kepribadiannya sepenuh-penuhnya mengabdi pada kepentingan Bangsa Indonesia yang mau dibesarkannya. Kriteria yang dipakai untuk mengatakan Bung Karno ijdel dalam arti positif atau negatif, bagi Bung Karno hanya piranti seni politik. Berguna dan memang berhasil untuk mengkonsolidasi secara positif sentimen nasionalisme Indonesia pada zamannya yang mem- butuhkannya. Rakyat Indonesia yang minder karena dijajah kolonialisme Belanda tiga setengah abad, membutaLkan seorang pemimpin dengan penjelmaan watak dan sifat perjuangan seperti Bung Karno itulah! Zaman berubah. Sekarang orang yang anti- Sukarnois mengejek dan mengolok-olok kepadanya. Louis ke XIV, Raja Prancis di abad ke 17 yang dikenal dalam sejarah sebagai Roi Soleil, baginda matahari ijdelheidnya melebihi Bung Karno. Pakaiannya, jubah-kerajaannya yang menampangkan rambutnya terurai ke bahunya itu, begitu mempesonakan, sehingga di zaman feodal di Eropa ketika itu, orang meniru pakaian jubah-kerajaan Louis ke XIV itu, menjadi tradisi berpakaian kaum monarkh di zaman feodal itu. Kondisi dan situasi di zaman itu di Prancis membutuhkan seorang Raja yang sifat dan wataknya dijelmakan oleh Louis ke-XIV, Roi Soleil itu, yang dapat mengatasi keadaan dan perseteruan di kalangan kaum monarkh Prancis ketika itu. Dan sampai sekarang di zaman modern ini dalam hal mode berpakaian, Prancis adalah paling top. Sekarang kembali ke Barisan Sukarno. Sudah saya katakan bahwa Barisan Sukarno itu telah dibunuh mati dalam kandungan, belum sempat menjelma ke dunia. Keesokan hari sesudah Sidang Kabinet di Istana Bogor (15Januari 1966), di mana Bung Karno mengumandangkan tidak akan mundur setapak pun dan menyerukan pembentukan Barisan Sukarno, maka pada tanggal 16 Januari 1966, Menpangad Letjen Soeharto, tanpa ragu-ragu dan terang-terangan menyabotnya. Ingat, ketika itu masih jauh belum ada Supersemar!Walaupun saya sendiri mengetahui betul, karena memperhatikan kejadian itu, di hari-hari saya masih berada di Jakarta, baiklah saya kutipkan di sini bagian dari Brosur Team Dokumentasi Presiden RI, berjudul Jejak Langhah Pak Harto, dengan editor G. Dwipayana dan Nazaruddin Sjamsuddin: "Minggu, 1 6Januari (1966). Menanggapi pembentukan 'Barisan Sukarno', maka hari ini pimpinan ABRI mengeluarkan pernyataan bahwa pembentukan Barisan Sukarno hanya dalam arti mental-ideologis saja. Dengan demikian pimpinan ABRI melarang pembentukan Barisan Sukarno dalam arti fisik, karena membahayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Seiring dengan itu, pimpinan ABRI juga menyatakan ketaatannya kepada Presiden Sukarno. Pernyataan ini ditandatangani oleh Menko/Hankam KASAB Jendral Nasution, Menpangad Letjen Soeharto, Menpangal Laksdya (L) Martadinata, Menpangau Laksda (U) Sri Muljono Herlambang, dan Menpangak Komjen (Pol) Sutjipto Judodihardjo." Catatan AMH. Semua kepala Angkatan Bersenjata R.I. menan- datangani larangan pembentukan Barisan Sukarno itu.Yang penting diketahui, mereka itu hanya dimanipulasi, disalah-gunakan oleh Letjen Soeharto, dipaksa menuruti pikirannya Soeharto yang sejak dari pecah pemberontakan GESTAPU yang mengkili-kili mereka itu untuk turut konfrontasi di bawah pimpinannya melawan Presiden Sukarno di dalam skenario perebutan kekuasaan. Untuk itu Untung dan Latief merupakan Bagian Pendahuluan, yang ternyata gagal, dengan Letjen Soeharto yang terjun langsung di bagian kedua, yang tadinya "sesuai dengan rencana" belum muncul di belakang GESTAPUnya Untung dan Latief. Saya merasa kasihan kepada Jendral Nas, yang saya tahu punya dendam pribadi kepada Bung Karno, apalagi karena anti- komunisnya, tidak menginsafi apa sebenarnya opzet atau siasat GESTAPU itu yang sengaja mereservir (mengecualikan) Letjen Soeharto, tidak memasukkannya ke dalam daftar jendral-jendral ABRI yang harus dihabisi. Pikirlah. Kalau jujur secara hokom, untuk menghantam-balik GESTAPU dan pimpinannya, apa itu unsur tentara atau unsur PKI, sewajarnyalah menurut logika dan hokum yang harus ditangkap untak diadili ialah individu-individu yang berbuat makar itu saja. Wajarnya tidak harus lebih jauh dari itu, tidaklah seharusnya membakar negara dengan demam holocaust yang menghabiskan satu juta manusia, dan menyalah-gunakan para pemuda KAMI- KAPPI menghasutnya dengan demonstrasi-demonstrasi anti Orla, sampai membikin berantakan Deparlu dan menyerang Istana Bogor, ketika Pemerintah sedang mengadakan Sidang Kabinet. Semua tindakan itu tidak lain adalah bagian dari planning yang dimulai sejak Gestapu. Last, but not least, mengapa harus menyalah-gunaka Surat Perintah SUPERSEMAR, mengada-ada dalih busuk untuk menjatuhkan Presiden Sukarno? Apakah itu bukan komplementasi kudeta GESTAPU yang happy ending sukses bagi pemain utamanya Letjen Soeharto? Para pembaca yang terhormat, Kalau kita sekarang merenungi kembali drama GESTAPU/PKI di atas pentas sejarah yang secara rieel dan obyektif saya rekonstruksi kembali di dalam buku ini, maka kita tidak bisa mengatakan lain: GESTAPU/PKI itu adalah kadetanya Letjen Soeharto sendiri! Kita menyadari sekali bahwa kita ini bukanlah hanya penonton yang tidak punya tanggungjawab atau "masa bodo" terhadap kejadian drama GESTAPU/PKI itu. Sebab kita adalah putra bangsa dan warganegara R.I.yang hidup memikul tanggungjawab. Oleh karena itu, pada suatu hari kita harus ajukan semua ke Mahkamah Pengadilan, nasional dan internasional, pelaku utamanya Letjen Soeharto, sekarang Presiden, billioner dollar yang kaya raya di atas kerusakan moral dan spiritual bangsa Indonesia. Apabila kudeta Soeharto itu dibiarkan tidak dihokam, tidak diadili oleh hakum, precedent itu akan berulang dengan kudeta yang lain dan seterusnya begitu, selama tidak ada tangan kuat yang memancangkan kembali tihang bendera Demokrasi di negeri ini. Perkembangan proses prolitik ekonomi dunia yang sedang mendatang akan menentukan bagaimana langkah-langkah politik yang harus kita ambil demi kepentingan yang menguntungkan bagi pembangunan bangsa dan negeri R.I. kita, tanpa mengorbankan prinsip perJuangan, yaitu R.I. yang Merdeka dan Demokratis berdasarkan Pancasila dan UUD'45. Prinsip perjuangan itulah dasar pegangan hidup kita di atas segala-galanya, berapa pun harganya! Kalau dahulu di zaman apa yang disebut zaman Perang Dingin kita telah menjadi korban, terpaksa tidak memilih salah satu pihak demi tegaknya kedaulatan nasional kita - sekarang ini praktisnya tidak ada yang harus kita pilih, kita membutuhkan kapital untuk pembangunan negeri tapi bukan untuk sesuatu golongan sendiri, dan kapital dunia sekarang ini adalah satu.Tentang kedaulatan rakyat yang pernah ada di tangan kita, berkat hasil perjuangan di bawah pimpinanTritunggal Sukarno-Hatta-Sjahrir, adalah tergantung pada kita sendiri dan tidak tergantung pada pihak luar untuk merebutnya kembali dari tangan Soeharto. Saya harap dan saya mohon kepada arwahnya Bung Karno, dapat memahami dengan baik bahkan sebaik-baiknya akan pendirian dan pandangan politik yang saya uraikan di atas. Sebagai patriot dan sebagai kadernya, saya belajar berusaha demi kepentingan nasional secara sebaik-baiknya mengaplikasikan teori marhaenisme, sesuai dengan sikon yang rieel dalam kategori sejarah zaman sekarang di mana demokrasi dan kapital Amerika dan Eropa mengungguli negeri-negeri Timur. Kalau siang hari berganti malam, kita berdayung dengan segala alat yang kita punyai, sadar dan berani mengikuti arus kapital dan demokrasi Amerika dan Eropa Barat tanpa diktator Soeharto dan Orde Baru yang autokratik. Para pembaca yang terhormat, Sebelum saya meneruskan sejarah sabotase Letjen Soeharto terhadap "Barisan Sukarno", saya telah menguraikan tanggapan politik saya yang saya anggap cukup penting untuk diketahui. Saya tidak akan memperpanjang menjadi diskusi. Saya tidak mau mimpi di siang hari. Senin, 17 Januari. Kader Front Nasional, setelah mempelajari Amanat Presiden Pangti ABRI/Pemimpin Besar Revolusi/Pemimpin Tertinggi Front Nasional/PemimpinTertinggi Kader Revolusi Bung Karno, menyatakan dan menyerukan kepada selurnh kader Front Nasional di mana pun berada, menyiapkan barisan untuk menerima dan melaksanakan Komando PBR/Presiden Seumur Hidup/Pangti ABRI/Pemimpin Tertinggi Front Nasional/Pemimpin Tertinggi Kader Front Nasional. Rabu, 19 Januari. Kepala KOTI, Letjen Soeharto, atas nama Presiden/ Pangti ABRI/Panglima Besar KOTI, hari ini mengumumkan bahwa setiap organisasi massa, partai politik, badan-badan, persorangan dan siapa pun yang menyatakan dukungan, kesetiaan dan kesiap-siagaan melaksanakan Komando Presiden/PBR Bung Karno, supaya menyampaikan pernyataan dan mendaftarkan diri pada Gabungan 5 (G-5) KOTI,Jalan Merdeka Barat No. 14,Jakarta." Komentar AMH. Pernyataan Letjen Soeharto 19 Januari tersebut, adalah ultimatum terselubung terhadap Front Nasional yang bersiap untuk mendirikan Barisan Sukarno, tetapi juga sekaligus tantangan "yang kurang-ajar" terhadap wibawa Presiden Sukarno "atas nama Presiden Sukarno". Saya mau mengingatkan kepada bangsaku, memanggil pada akal dan logika sebagai bangsa yang berbudaya kemanusiaan yang mulya. Apakah mungkin Letjen Soeharto mendadak-sontak menjadi pembangkang walaupun semua pihak menggoncengi kata-kata "Presiden Sukarno/ PBR/Pangti ABRI (etc) yang kita hormati dan kita cintai"? Beberapa hari kemudian ternyata kata-kata manis itu hanya lip service yang palsu semata. Tidaklah mungkin perubahan sikap yang membangkang dan menentang Presiden Sukarno, datang tiba-tiba pada saat"Barisan Sukarno" diumumkan. lngatlah dengan memakai budi-akal normal, kita akan tahu pemberontakan GESTAPU itu tidaklah jatuh dari langit sebagai meteor yang jatoh dari langit seperti Hajaratul'aswad yang menjadi Pusat Ka'bah di Mekah sampai sekarang dan ke akbir zaman.Tetapi tentulah didahului oleh proses permulaan yang panjang, planning dan programming, strategi dan taktik pelaksanaannya dan akhirnya barulah sampai ke hari nahas jam 1.00 tanggal 1 Oktober 1965 itu. Kalau kenyataannya demikian seperti dikatakan oleh Bung Karno, bukanlah 30 September tetapi ternyata 1 Oktober, maka sebutan GESTAPU itu sebutan rekayasa Soeharto sendiri sebagai resultat pertemuannya dengan Kolonel A. Latief sebelum waktu tengah malam 30 September 1965.Tentulah Soeharto tidak bodoh untok mengatakan apa sebenarnya yang dibicarakan Latief kepadanya pada pertemuan itu, tetapi dengan mangatakan kedatangan Latief ialah untuk"sowan" sebagai bawahannya yang menunjukkan rasa persahabatannya berkenaan dengan musibah karena putranya, Tommy, ketumpahan sop panas. Keterangan Soeharto hanyalah dalih yang tidak nyaman bagi dirinya sendiri untuk menghapus jejak keterlibatannya dengan pemberontakan GESTAPU atau GESTOK itu! Hanya Tuan O.G. Roeder, itu orang Jerman, ahli make-up, penyunting buku The Smiling General - President Soeharto Of Indone sia itu, hanya dia saja, dia saja yang tidak kelolodan menelan keterangan palsu Soeharto itu! Buat dia duit di atas segalanya! Buat kita kehormatan bangsa di atas segalanya! Jum'at, 21 Januari, 1965. Sehubungan dengan pelarangan Barisan Sukarno di Jawa Barat, Menpangad Letjen Soeharto, setelah menghadap Presiden Sukarno di Istana Merdeka, menjelaskan bahwa pelarangan tersebut adalah untuk memelihara persatuan nasional yang kompak di belakang PBR Bung Karno. Dikatakannya lebih lanjut, bahwa "sudah sejak revolusi, ABRI, organisasi politik, dan organisasi massa di Jawa Barat itu menjadi Barisan Sukarno." Komentar AMH. Sengaja saya kutipkan Jejak langLah Pak Harto ini untuk mengingatkan kembali segara perilaku Soeharto sebelum dia terang-terangan menyerobot kekuasaan Presiden Sukarno dengan memalsu Surat Perintah Sebelas Maret. Betul, benar sekali bahwa sejak revolusi, ABRI, organisasi politik, dan organiasasi massa di Jawa Barat itu menjadi Barisan Sukarno. Dalam arti di belakang mengikuti segala perintah Presiden Sukarno sampai ke saat munculnya GESTOK, di saat munculnya Soeharto mengeliminir orang-orang GESTAPU, orang-orangnya sendiri, di mana dia sendiri berada di belakang layar komplotan tersebut. Selanjutnya sesudahnya semua pucuk pimpinan tertinggi ABRI terbunuh semuanya, Soeharto pada 1 Oktober 1965 meneruskan langkahnya yang kedua: mengeliminir Presiden Sukarno sebagai principal target dalam tujuannya untuk merebut kokuasaan Presiden. Bung Karno menyadari akan hal yang membahayakan kedu- dukannya itu. Maka itulah pada sidang Kabinet Dwikora di Istana Bogor,beliau menyerukan supaya berdirilah Barisan Sukarno, sebab "Barisan Sukarno" yang dikatakan oleh Soeharto sebagai Letjen Menpangad yang praktis sudah mengambil oper pimpinan ABRI dan kekuasaan Pemerintahan, sudah dijauhkan dari Bung Karno dan semuanya ditempatkannya di belakang dia sendiri, Soeharto. Karena itulah, Bung Karno berseru kepada Bangsanya, supaya membentok Barisan Sukarno, yang dekat dan taat kepadanya! Bagaimana pendapat pembaca mengenai Barisan Sukarno itu? Apakah dianggap, atau disangka Barisan Sukarno itu untuk dikonfrontasikan secara fisik, disiapkan untuk bertempur terhadap pihakTentara yang dibikin goyang kepercayaannya kepada Presiden Sukarno? Tidak! Seperti telah dinyatakan oleh Dr. Subandrio, yang dituju, yang hendak dicapai Bung Karno, ialah ketegasan semangat, jiwanya, dipersatukan dalam Barisan Sukarno.Tetapi Soeharto, bukan saja karena dia militer, tetapi karena ambisi yang telah ditempanya sejak berhubungan dengan GESTAPU (Untung, Latief, Supardjo dan Syam) untuk merebut kekuasaan dari tangan Presiden Sukarno, menganggap Barisan Sukarno akan menjadi kekuatan fisik atau people´s army yang diasosiasikan dengan Angkatan ke-V yang pernah diusulkan PKI. Oleh sebab itulah begitu Sidang Kabinet tanggal 15 Januari itu selesai, esok harinya, tanggal 16 Januari 1966 itu, kontan Soeharto menggunakan segala saluran kekoatan yang dikuasainya untuk membunuh ide dan kelahiran Barisan Sukarno itu. Kalau saya boleh bicara terus, andakata Bung Karno bukan Bung Karno, tetapi seorang militer seperti Soeharto, ada kemungkinan hal itu bisa terjadi.Tetapi di dalam situasi yang gawat ini, sekalipun, beliau tetap saja seorang manusia Sukarno yang tulen, yang asli. Seorang Bapak Nasion! Jiwa-jiwa cerita pewayangan selalu dekat kepadanya. Dalam situasi yang sudah gawat itu beliau masih bisa minta digelarkan wayang di Istana Negara dengan judul cerita ... yang saya lupa namanya. Beliau masih bisa menikmati cerita wayang di malam itu, sedangkan saya, walaupun turut hadir, pikiranku melayang-layang ke luar gedung, memikirkan, akan bagaimana jadinya nasib Bung Karno pada akhir kemelut ini nanti. Muallif Nasution, Sekretaris Pribadi, bekas Pemuda Menteng 31, punya hubungan keluarga dengan Bung Karno, sebab menikah dengan gadis masih famili dengan Bung Karno, di malam itu menceritakan pada saya, Pak Rahim, dukun di Petojo itu menujumkan bahwa Bung Karno akan mati berdarah. Lalu saya menanyakan pada Muallif, apa kau sudah bilang itu pada Bung Karno."Tidak usah saya bilang", sahut Muallif," Pak Rahim itu yang sudah bilang, ketika sowan ke Istana dan memeluk Bung Karno sambil bertangisan berdua". Lain lagi cerita Pak Darmosugondo, yang pada malam pagelaran wayang di istana itu hadir pula dengan sikap dan wajahnya yang, saya lihat sayu. "Sudah diramalkan bahwa Bung Karno jatuh", katanya. Saya tidak tanya, ramalan siapa? Saya tanya, siapa yang akan meng- gantikannya? Dengan suara berat Pak Darmosugondo mengatakan: "Raja Jawa". Saya tidak spesial mempelajari kebatinan Jawa, karena itu saya tidak melanjutkan percakapan itu. Saya teringat padaJendral Nas dan Sri Sultan Hamengku Buwono yang saya kenal dan hormati. Dua tokoh itu meleset dari bayangan ramalan itu. Hanya logika intelek saya bertanya-tanya apakah tidak Soeharto yang sudah diberi oleh Bung Karno banyak keknasaan itu yang sengaja menyebarkan isu-isu demikian itu. Orang tidak boleh lupa kekuatan gaib dalam apa yang disebut "kebatinan Jawa", yang pada hal-hal tertentu mempunyai daya pengaruh pula. Kepercayaan yang terbentuk sejak masa dulu-kala. Kesimpulan: 1). Pelarangan Barisan Sukarno oleh Menpangad Letjen Soeharto itu adalah satu bukti yangjelas tingkat-tingkat persiapan dan pelaksanaan kudeta secara merangkak dan licik itu, tahap demi tahap dengan menggunakan GESTAPU sebagai tabis asap, penutup mata bagi sebagian besarABRI yang masih mau tetap setia kepada Presiden/ Panglima Tertingginya. 2). Massa atau rakyat jutaan itu tidak bisa disalahkan, sebab psikologi massa jutaan orang adalah ibaratkudde, kawanan hewan yang apabila kehilangan penggembalanya,jadi tidak berketentuan mau ke mana. Bangsa Indonesia ketika itu laksana itulah. Kehilangan atau terputus hubungan dengan massaleider-nya. Perkataan"terputus hubungan" itu penting sekali arunya. Sukarno itu tidak bisa berhubungan dengan massa rakyat lagi, diblokir dan ditakut-takuti, harus melapor dan mendaftar segala macam. Sukarno, tanpa disadari oleh pengikut- pengikutaya yang telah diangkat pada kedudukan penting, tentulah tidak sengaja, atau pun karena "kegoblokannya", menyia-nyiakannya, sampai tak terpikirkan hubungan per radio di dalam keadaan sulit. Ketelodoran security, itulah yang saya saksikan sendiri, yang telah terjadi. Para pembaca akan melihat bagaimana Soeharto dengan liciknya merangkak terus sampai ke puncak kudeta SUPERSEMAR. Dan para pemuda yang tersesat di jalan sejarah itu yang menamakan dirinya"Angkatan 66", notabene yang berkontradiksi dengan Angkatan 45 (yang memutuskan belenggu penjajahan Belanda tiga setengah abad) -Angkatan 66 itu nanti akan menjadi laksana kayu- kayu jembatan yang membusuk, sekalipun anai-anai kekayaan Soeharto tak akan membutuhkannya lagi. 3). Percaya kepada kekuatan rakyat sebagai motor perkembangan sejarah yang abadi, kita melihat pula bahwa dalam kategori sejarah nasional sekarang ini, sedang lahir tokoh-tokoh nasional kerakyatan yang baru, yang sedang menggali kuburan Rezim Soeharto Orde Baru yang autokratis demi kepentingan tegak Rl yang demokratik berdasarkan Pancasila dan UUD'45. Inilah garis politik perjuangan nasional kita di masa ini.Adalah bodoh mencegah dan membendung arus perkembangan sejarah itu. Tidak ada rezim diktatur yang langgeng dalam dunia. Demokrasi pasti menang! Inilah satu peringatan yang berani dan jujur, tanpa pamrih! | |