**************************************
 LSSPI - Publikasi No.33(1998) 
 lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net 
 ************************************** 
 *  A.M. HANAFI MENGGUGAT  * 
Bab XVII

Amanat Bung Karno Ingin Dimakamkan di Batu Tulis

Sidang Kabinet sudah selesai. Semuanya sudah pada pulang. Juga kaum demonstran yang kesurupan setan balas dendam di luar istana itu sudah pergi menghilang semua, sesudah disembur oleh mantra jampi-jampi Letjen Soeharto. Hanya sampah-sampah dan kertas- kertas yang mengotori jalan yang tinggal. 

Saya dan Chaerul duduk terpesonangelemprok keletihan di tangga Istana. Bukan letih fisik, tapi letih batin yang berani menekan di dalam hati kami berdua. 

Saya belum pernah melihat anak Lintau ini menangis, baik di zaman pendudukan Jepang maupun di zaman revolusi bersenjata. Sekarang dia menangis, air matanya meleleh pada pipinya. "Apalagi, Fi, mau apa lagi, kepalaku ini sudah kuserahkan tadi kepadanya" (Maksudnya kepada Bung Karno). Dia tidak keluar juga dengan political solution itu. Kenapa jij tadi tidak maju? Mestinya jij yang maju minta bicara, jangan saya". 

"Apa legitimasi saya berbicara kalau tidak diminta?", kataku rada kesal. 

Chaerul diam, saya pun terdiam. Beberapa menjangan di bawah pohon beringin itu memamah-biak, barangkali memperhatikan kami yang termenung dengan pikiran-pikiran masing-masing, namun terhadap persoalan yang sama, yaitu bagaimana cara menyelamatkan Presiden dan negara keluar dari kemelut ini. Chaerul Saleh "telah menyerahkan kepalanya" kepada Bung Karno, Presiden R.I. yang dia turut tegakkan. Sekarang kepresidenan itu dalam bahaya, kalau itu terjadi akan menimpa kepala Chaerul pula. Aku teringat pada nasib Plato, ahli negara Yunani yang linuhung itu, mati karena disurah minum racun karena taatnya kepada Hukum Republik yang dia dirikan sendiri. 

Ternyata sekarang ini, kita mempunyai dua tokoh nasional yang mengalami nasib hampir seperti Plato di dalam Republik pertama di Yunani: Bung Karno dan Bung Chaerul Saleh. Bukan minum racun, tetapi korban pengkhianatanJendral Soeharto dan GESTAPU. 

Suasana sepi di sekitar saya dan Chaerul Saleh di tangga Istana itu, tiba-tiba terganggu oleh kedatangan sebuah Jeep dikemudikan oleh Brigjen Sabur sendiri. 

"Bapak berdua diminta oleh Bapak Presiden turut beliau ke rumah di Batu Tulis. Presiden, Pak Dasaad, Bung Hasyim ning, Pak Bandrio dan Oom Jo sedang berangkat bersama ke sana. Kita mengikuti dari belakang", kata Sabur. 

Maka berangkatlah kami bersama-sama denganJeepnya Brigjen Sabur. Mobil Chaerul yang kosong dengan supirnya, dan mobil- mobil lainnya yang kosong pula, mengikut di belakang. 

Ketika saya dan Chaerul tiba, Bung Karno sedang mengaso di kamarnya yang amat sederhana. Di ruang tengah, yang rupanya bisa digunakan tempat makan, sebab ada meja oval saya lihat di situ, di atasnya tampak terletak selembar blue-print dari rumah itu. Rumah itu belum selesai, lantainya belum rata diubin semua, apalagi pekarangannya. Saya tahu Bung Karno senang sekali pada pekarangan rumah yang apik, pepohonan diatur rapi. Itu pengalaman saya-ketika bersama-sama dengan Bung Karno di Bengkulu, tempat pembuangannya di zaman Belanda.Tetapi letaknya rumah itu ideal sekali, cocok sekali dengan jiwa Bung Karno yang mencintai tanah Priangan Jawa Barat itu. 

Priyangan, atau Parahiyangan, artinya tempat para dewa-dewa, para Hiyangan. Dari bumi tanah Priangan dengan flora dan fauna serta rakyat petaninya yang rajin dan berbudi-basa (atas kehendak para dewata dari Kahiyangan) lahirlah di situ ide Bung Karno yang besar, yang disebut MARHAENISME, simbol kesatuan dan pemersatu Bangsa Indonesia. Dari segi sosial, ekonomi, kaum marhaen, posisinya di antara kaum proletar dan kaum burjuis. Pekarangan rumah itu berada di atas jurang, di bawahnya mengalir kali Ciliwung, di bagian atas kali itu menjalarjalan kereta apiJakarta- Bandung. Dari beranda rumah tampak pegunungan Salak dan Pangrango dengan sawah-sawah turun bersusun sampai ke pinggir kali. Ah, sungguh pemandangan yang indah dan yang membuat setiap seniman dan pelukis menundukkan kepala dan hati me- nyembah kepadanya. 

"Kenapa rumah ini belumklaar juga?" saya berkata dengan nada yang kecewa. 

"Ya,ya, kalau Hanafi bisa bantu keuangannya bisa kita klaarkan cepat", Dr. J. Leimena yang simpatik dan biasa dipanggil Oom Jo itu menjawab dengan senyumnya yang sudah kita kenal. 

"Ah, kalau itu, ya, tiga bulan gaji Dubes boleh saja disumbangkan, itu saya pastikan, tapi mana bisa cukup untuk selesai", kataku. "Goed zo,goed zo, my dear brother Hanafi,serahkan saja pada saudara A.M. yang satu lagi itu (maksudnya A.M. Dasaad). Sebab dialah yang tukang-catat sumbangan", kata Oom Jo, seraya memanggil Dasaad yang sedang duduk bersama dengan Subandrio, Brigjen Sabur dan Hasjim Ning. Sedangkan Chaerul Saleh selalu di dekat saya dan Oom Jo. Lalu Bung Dasaad mendekati kami, saya ulangi pertanyaanku tadi:"Kenapa rumah ini belum klaar juga, dan catatlah sumbanganku tiga bulan gaji Dubes, nanti saya kirim dari Kuba." 

"Akan kelar nanti, jangan khawatir", kata Dasaad. "saya barusan berunding juga dengan Hasjim Ning, terimakasih sumbangan Bung". Di situlah Dasaad menceritakan pada saya bahwa, walaupun dia tidak lagi bisa mengharapkan "pukulan" dari kontrak Lockheed, dia akan jamin rumah itu akan segera diselesaikan.Tetapi ... entah bagaimana kelanjutannya, saya tidak tahu, sebab saya belum pernah lihat lagi rumah itu sampai sekarang, tahun 1997. 

Saudara-saudara Hasjim Ning dan A.M.Dasaad sudah meninggal dunia. Sementara itu tampak Bung Karno keluar dari kamar dari berbaring melepaskan lelahnya. Boleh jadi juga karena terdengar berisik percakapan kami, apalagi suaraku yang seperti orang memimpin latihan Laskar Rakyat di lapangan Bekasi dulu. Orang yang tidak kenal saya, barangkali akan bilang temperamen saya suka menantang-nantang. Tapi tidak, dalam omong-omong resmi atau persahabatan juga begitu, sama saja. 

Bung Karno berpakaian kemeja sport, ia keluar lalu ke beranda peranginan, mengarahkan pandangan di kejauhan, ke lereng gunung Salak yang melandai, yang sedang dihias oleh sawah-sawah. Ada yang sedang menguning, ada yang sudah dituai (dipotong padinya), di sebelah sana masih ada juga yang masih menghijau. Dan bagi kuping orang yang dikecup kesepian alam itu, terdengar desau arus kali Ciliwung yang mengalir mencapai Laut Jawa. Aku, dan kami semua, menemani Bung Karno berdiri di situ. Di saat itulah, sejenak kemudian, beliau berkata: "Kalau nanti saya tidak menjabat Presiden lagi, di rumah inilah saya ingin mengaso, melepaskan lelahku, belajar- belajar lagi, berjuang-berjuang lagi, terus berjuang, terus." Mata Bung Karno besar, tapi tak bersinar gemerlap seperti di muka lautan massa rakyat, beliau membalikkan badannya pada kami: "Oom Jo, Chaerul Saleh, Subandrio, Dasaad dan Hasjim Ning .... Berjuang terus untuk bangsaku kaum marhaen, berderap bersama untuk mencapai cita-cita kita Pancasila, dan jika datang saatnya aku dipanggil kembali oleh Illahi, inginlah aku dimakamkan di dekat rumahku ini, dan dari sini alam Parahiyangan akan dapat terus- terus membelai dan menyayang kepadaku." 

Sejenak kemudian rupa-rupanya OomJo terpecut jiwanya oleh kata-kata Bung Karno yang sayu, yang kam~ semua rasakan sebagai amanat: "Dengarlah, Bung Hanafi, kata-kata Bung Karno itu, sebagai anak marhaen, camkanlah baik-baik, kita semua akan kembali kepada Tuhan, bukan Bung Karno sendiri, dan kalau Bapak kita itu pergi dahulu, kita yang tinggal akan melaksanakan amanatnya itu. Kalau Bung Karno pergi dahulu, jiwanya tetap mengawani kita. 

...Kalau kereta-api Bandung - Jakarta pulang pergi dan Kali Cillmung mengalir mendesau terus Sarinah dan Marhaen di sawah herjuang terus Gunung Salak dan Pangrango menguraikan cintanya terus Untuk didengarkan oleh Bung Karno, Dan Bung Karno akan mendengar terus Akan deru gelombang perjuangan bangsanya...

Kami terdiam, terharu mendengarkan kata-kata Bung Karno dan kata-kata sajaknya OomJo itu yang membawa perasaan kami terseret ke suasana melankolik. 

"Bravo! Oom Jo, cocok sekali! Bagus Oom, kenapa saya tidak tahu dari dulu baLwa OomJo ini punya jiwa seni seorang seniman, yang mengingatkan saya pada Multatuli", kataku. Sebab, kalau tidak saya "pukul" suasana menyayu itu dengan bravo, sayalah yang akan menangis terhisak-hisak seperti anak kecil cŠngŠng yang tak mau ditinggal ibunya pergi ke pasar. 

Hari sudah menjelang sore. Dasaad dan Hasjim Ning minta permisi pulang. 

Kemudian kami juga, bersama Bung Karno. Bung Karno pulang ke Pavilyun di Istana Bogor, saya dan Chaerul Saleh pulang keJakarta. Dr. Subandrio masih mau tinggal bersama Bung Karno, turut ke Istana. 

Beberapa tahun kemudian ... 

Saya mendengar kabar dari radio BBC yang aku stel terus- menerus, ketika saya sekeluarga masih di Kuba, bahwa pada tahun 1970, persisnya pada tanggal 21 Juni 1970, tentang wafatnya Bung Karno. Ketika itu saya bangunkan seluruh keluarga dari tidurnya. Saya ajak mereka bicara, kuceritakan tentang berita dukacita itu. Ketika itulah saya putuskan, bahwa sekarang datanglah saatnya saya harus pergi, kita semua sekeluarga pergi dari Kuba, ke negeri lain, entah ke mana, sebab ingin pulang sudah tak bisa karena paspor kami semua sudah di revoked - ditarik- oleh Orde Baru pemerintah Soeharto. Dengan seboah surat sandi yang dikirimkan kepada seluruh perwakilan di luar negeri, telah diumumkan baLwa paspor kami nomor sekian, nomor sekian, sekeluarga tujuh orang tidak berlaku lagi, sudah dianulir. Itu terjadi di bulan Mei 1966. Sepulah hari sebelum kawat sandi itu, kawat yang pertama memanggil saya pulang. Tiga hari sesudah kawat sandi yang pertama itu, saya sebagai Dubes ditugaskan menemui delegasi pemerintah Indonesia di Mexico: Kolonel Hertasning dan Brigjen Sudirgo. Sepulang dari Mexico itulah saya menerima kawat sandi yang mencabut validity paspor diplomatik saya sekeluarga dengan cara tersebut di atas, yang artinya mencabut hak warganegara kami semua. Itukah "ganjaran" buat pejuang kemerdekaan? 

Saya tetap bertahan di Kuba, teguh menjunjung sumpah ja- batan saya sebagai Duta Besar Republik Indonesia. Apalagi pember- hentian saya itu menyalahi UUD '45, sebab seorang Duta Besar diangkat dan diberhentikan hanya oleh Presiden, Kepala Negara yang sah, bukan oleh pejabat Deparlu sekalipun berpangkat Menteri. Wapres Adam Malik (alm.), ketika bertemu dengan saya di Brussel pada tahun 1979, menyatakan dengan sumpah-mati tidak mengetahui adanya pemberhentian saya itu, dan malah: "Saya kira memang Bung sendiri yang masih mau tinggal di luar negeri", katanya. 

Walaupun itu "tidak lucu", tapi begitulah "sarkasme" hidup yang menimpa kami sekeluarga. 

Nah, nasib seperti itu menimpa pula pada pribadi Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi Indonesia itu. Beberapa hari kemudian saya dengar berita lagi, baLwa Bung Karno dimakamkan di Blitar, bukan di Batu Tulis, seperti yang diamanatkannya kepada kami 15 Januari 1966, seperti yang telah kuceritakan di atas tadi. 

Saya termenung. Kalau dahulu, semasa masih hidup Ibunya, Ibu Idayu, ada yang mengatakan bahwa nanti Bung Karno ingin dimakamkan di dekat Pesarean Ibunya itu. Hal itu masuk akal pula. Apalagi kalau ditanyakan pendapatoya Mbakyu Werdoyo (Ibu Sukonjono dan Sujoso) yang saya kenal. Ya, logis juga kalau Mbakyu Werdojo dan suaminya, Kangrnas Werdojo, itu akan senang bila Bung Karno dimakamkan di Blitar,'kan tidak merepotkan baginya dibanding kalau makamoya Bung Karno itu di Batu Tulis? Tapi ayah Bung Karno, Bapak Sukemi Sosrodihardjo, walaupun silsilahnya keturunan dari Sultan Kediri, beliau dimakamkan di Jakarta di Pekuburan Karet, biar dekat dengan putera yang disayang, Kusno Sosro Sukarno. Ayahanda Bung Karno itu meninggal dunia tahun 1943. Empat serangkai (Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantoro, Ki Haji Mas Mansur) dan semua kami pemuda- pemuda Menteng 31 beserta rakyat dan kawan sejawat lainnya turut mengiring beliau sampai ke Pesareannya di Karet. Seandainya keputusan dan ketentuan itu ada pada Ibu Fatmawati dengan putra- puterinya (Guntur, Mega, Rahma, Sukma dan Guruh) atau ditambahkan Ibu Hartini dengan kedua putranya (Taufan dan Bayu) saya yakin, mereka ini akan memilih tempat Pesarean Bung Karno itu di Batu Tulis. Bukan karena akan lebih praktis bagi mereka saja, dan mengingat akan amanatnya Bung Karno sendiri, tapi kiranya berdasarkan pertimbangan politik dan kepentingan nasional juga. 

Ada yang berkata: "Yang lalu dan berlaku, itulah pertimbangan yang Berkuasa: pertimbangan politik, nasional, moral, keke- luargaan. . . " 

Itu semua bullshit! Soeharto tidak mau ada Bung Karno di dekatnya.Jahil!! Segala kebesaran Bung Karno "menghantui" segala "Pikiran, Ucapan dan Tindakannya". Dia ingin memupus habis segala "Pikiran, Ucapan dan Tindakan Bung Karno". Demokrasi Terpimpin? Marhaenisme? Pancasila? Kepribadian Nasional?They are all nonsense! Itu semua komunis. Komunis No! Dollar,Yes! Hutang saja, hutang lagi. Toh bukan dia yang bayar kembali, anak-cocu, tujuh turunan! Masabodoh! Dia akan tinggal aman di Mangad,eg. Begitu maunya. Tidak seperti Bung Karno, rumah pun tidak punya Jahil!!! - Siapa yangjahil? Gampang menunjuk hidungnya! 

Yang pasti bukan saya, terhadap almarhum Bung Karno, Father of the Nation! 
 


www:munindo.brd.de