| ************************************** LSSPI - Publikasi No.33(1998) lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net ************************************** | |
| Bab XVI Berangkat ke Kuba untak Mengclearkan Salah Paham Kuba terhadap Indonesia Sebagaimana telah saya singgung terdahulu, saya telah minta izin kepada Presiden Sukarno untuk sementara harus pergi ke Kuba guna clearing kesalah-pahaman Kuba terhadap situasi di Indonesia. Saya berjanji akan berusaha secepatnya kembali ke Jakarta lagi, sebagaimana pesan beliau, untok mendampinginya mencarikan penyelesaian politik untuk mengatasi kemelut yang menimpa negara. Kalau tidak salah, saya berangkat pada tanggal 22 Januari 1966. Betul saja saya alami langit Sukarno, langit saya di Kuba ketika itu, ketika saya datang, sudah berganti, berganti rupa tidak secermerlang seperti dulu lagi. Dua hari setelah saya tiba di Ha- vana ada upacara resmi di Malecon, itu jalan besar yang tercantik di Havana, kebanggaan Kuba seperti Champs Elysées buat orang Paris. Fidel Castro akan berpidato dari atas podium yang telah dibuatkan di bawah lereng Hotel Nacional rnenghadap ke Jalan Raya Malecon diTeluk Havana itu. Semua Corps Diplomatik hadir. Juga Tentara dan massa revolusioner Kuba. Dari atas podium itu di dalam pidatonya, saya merasakan seperti "dibanting" ke tanah oleh Fidel Castro, yang mengatakan di antara lain :"Kuba adalah tanah merdeka yang pertama di Amerika (Cuba el primero territorio libre de America). Kami tidak akan mengkbianati rakyat kami seperti yang terjadi di Indonesia pada saat ini.Tentara revolusioner Kuba bersama rakyat revolusioner Kuba tidak akan mundur sejengkal pun menghadapi serangan atau subversi Amerika dan CIA yang mau mendarat dan menjamah Tanah Merdeka ini!" Itu adalah gara-gara cerita versi delegasi ke Tricontinental orang- orang Indonesia dari Mesir dan Peking yang telah saya ceritakan di bagian lain terlebih dahulu. Esok harinya, saya langsung datang ke Kemlu Kuba, tanpa appointment audiency lagi. Saya kira Dr. Raul Roa sudah maklum mengapa saya datang dan meminta jumpa mendadak itu. Kepadanya saya jelaskan semua apa yang sebenarnya terjadi di Indonesia dan kalau Fidel mengetahui hal-hal yang sebenarnya itu, dia tidak akan membanting saya ke tanah seperti keluar dari pidatonya itu. Kemudian saya minta dia mencari tahu siapa yang membuat berita yang menghina Presiden Sukarno seperti termuat di dalam surat kabar Juventud Rebelde dan di surat kabar PartaiGranma itu. Kemudian setelah saya betul-betul mendesak, beliau memberitahukan bahwa orang Indonesia yang menulis di surat kabar itu. Saya anggap orang itu konyol, tidak perlu saya perkenalkan nama si orang konyol itu di buku ini. Dengan itu, hubungan diplomatik R.I. - Kuba saya perbaiki kembali. Upacara resmi di Malecon tersebut di atas adalah upacara untuk memperingati El Segundo Declaration de la Habana, 4februari 1962 mengenai Reform Agraria dan Industrialisasi. Di hari itu, 4 Februari 1962 sebnah kapal tua Amerika, sisa pendaratan di Playa Giron yang memalukan Amerika, tapi menaikkan "gengsi" Kuba, ditarik ke Teluk Havana. Sehabis pidato, Fidel, kapal tua itu ditembak dengan meriam sampai tenggelam, sebagai simbol akan tekad Kuba untuk menghancurkan setiap kapal Amerika kalau berani mendarat lagi. Seperti diketahui, di tengah lautan beberapa mil jaraknya dari Ha- vana, kadang-kadang muncul kapal Amerika untuk beberapa hari, menghilang, muncul lagi, menghilang, seperti menantang dan memperingatkan bahwa Kuba itu diblokade. Namun demikian, baik Kuba mau pun Amerika, walaupun kedua-duanya masing-masing panas hatinya, mereka tahu menjaga kepala tetap dingin. Sebab pengalaman serbuan Amerika di Playa Giron (Pantai Babi) dahulu itu ternyata membikin malu Amerika sendiri sebagai negara besar. Juga pihak Kuba membiarkan saja provokasi Amerika itu, walaupun ia mempunyai juga senjata mutakhir dari Uni Sovyet. Si Jenggot, E1 Barbudo, Commandante Fidel Castro itu, tidak tergiur air-liurnya melihat pancingan provokasi dengan kapal terbang pengintai Amerika yang terbang tinggi di langit di atas Havana, maupun kapal pengintai Amerika yang berlayar di lautan hanya tiga mil jaraknya dari Havana. Tapi si Bung, si jantan macho yang berjenggot, Sang Commandante bernama Fidel Castro itu, jiwa dan moral revo- lusionernya lebih tabah dan kebal terhadap pancingan-pancingan provokasi yang telanjang bulat di muka rumahnya itu. Sekali pernah Amerika mengirimkan beberapa kapal berisi mercenaries, serdadu-serdadu bayaran dan kaum kontra-revolusioner Kuba dari NewYork dan Miami (Florida) untuk mencoba mendarat di Playa Giron (Bay of Pigs - Pantai Babi 16-19 April 1961).Terkenal dengan sebutan La Embarcacion de Playa Giron yang sampai kini setiap tahun diperingati. Pertempuran di Playa Giron itu dipimpin langsung oleh Fidel Castro sendiri, sementara E1 Commandante Ché Guevara memimpin kubu pertahanan di sebelah Utara di daerah Pinal del Rio. Serdadu-serdadu bayaran dan kaum kontra-revolusioner Kuba yang tidak mati, sehabis dilucuti semua dikirim pulang. Ini artinya apa? Artinya, ialah Kubanya Fidel Castro, mengerti dan menjunjung hukum perang, walaupun pendaratan di Playa Giron itu adalah suatu undeclared war dari Amerika. Pada tanggal 17 April 1961, saya dan Sukendah, sebagai Dubes, diundang pertama kali berziarah ke Playa Giron. Ya, mengapa kita pantas pula merenungi pelajaran agama, yakin, tauhid, rendah-hati, atau mengapa pula meng-écé ilmu kejawen tentang larangan ojo 'M'- ojo maling, ojo madat, ojo mabok, ojo main, ojo madon. Sepanjang cerita, di dalam agama Jawa itu tersimpan mutiara-mutiara agama Kristen dan agama Islam yang besar itu. Berdasarkan hal itu maka di dalam negara nasional Indonesia kita ini, bisa dan layak hidup berdampingan secara damai antara kedua agama tersebut. Saya teringat akan pengalaman ketika saya mengiringi perjalanan Presiden Sukarno ke luar negeri pada tahun 1956. Kami singgah di Libanon. Bung Karno dalam nada meng- ingatkan, berkata kepada Presiden Cagille Chamun: "Kalau Libanon membiarkan saja kefanatikan agama Kristen dan Islam saling- berhadapan, tidak mengkonsentrasikannya kepada kesatuan nasional, bahayanya nanti ialah perang-saudara". Benar sekali peringatan Bung Karno itu, terjadilah tragedi Libanon dalam sejarahnya. Dua golongan, Islam dan Kristen, sama fanatiknya, sampai terjadi tragedi perang saudara yang dimanfaatkan pihak-pihak luar. Bisa ditarik beberapa kesimpulan dari uraian pengalaman tersebut di atas: a. Bahwa seorang pemimpin yang bertanggungjawab, harus kenal situasi dan kondisi, tetapi juga mengenal Hak dan Kewajibannya, tidak lemah dan mudah terpancing pada "provokasi", seperti GESTAPU di Indonesia. b. Bahwa kepentingan Nasional dan rakyat bersama harus lebih dijunjung di atas segalanya. c. Bahwa kerukunan hidup dalam semangat kebangsaan bernegara Merdeka adalah sendi kehidupan perdamaian dunia. Ketika saya diundang pertama kali ke Playa Giron, saya terkenang pada Pertempuran di Surabaya 10 November 1945 yang sampai sekarang kita peringati sebagai Hari Pahlawan Nasional, sama besar arti pentingnya dengan sejarah perjuangan Kuba di Playa Giron. Tetapi saya yakin, kita semua yakin betul, bahwa para Pahlawan 10 November itu dengan rakyat yang setia menyertai pertempuran yang gegap-gempita dengan gagah-berani, walaupun sekarang ini mereka itu sudah tua-tua dan jompo. Kesemuanya mereka itu pasti tidak rela pengorbanan yang telah mereka abdikan kepada Rl yang mer- deka berdasarkan Pancasila dan UUD'45 itu dikhianati oleh Letjen Soeharto, diktator Orde Baru yang despot dan autokratik itu. Para pemuda yang petentengan yang dihadiahi Soeharto dengan julukan "Angkatan 66" yang tidak masuk buku Angkatan 45 itu, sama sekali tidak bisa membayangkan persabungan nyawa di Surabaya antara Rakyat Indonesia yang membela kemerdekaan nasional dengan Tentara Sekutu yang mau menghina dan merebut Indone- sia untuk dihadiahkan kepada Belanda supaya dijajah lagi. Ketika itu, di hari-hari bersejarah itu, tidak ada BKR, tidak ada TKR (walaupun sudah diumumkan terbentuknya 5 Oktober 1945!), belum ada TRI, dan TNI, apalagi ABRI. Belum ada jendral-jendralan.Yang ada ialah Rakyat Indonesia, Rakyat Indonesia yang bersenjata, bersenjata segala macam, sejak dari bambu runcing, golok dan tombak, sampai ke segala macam senjata api, dari bedil sampai M 12,7 yang dapat direbut oleh para pemuda yang kemudian menjadi PESINDO, dari Angkatan LautJepang.Jadi, anak kandung Revolusi adalah Rakyat. Sebagian dari Rakyat itu dijadikanTentara. Jadi jangan salah-salah memproklamirTentara atau ABRI itulah anak kandung Revolusi! Salah! Dalam zaman Orba, ABRI berdiri terjauh dari Rakyat karena ulahnya Soeharto untuk kepentingannya yang sama, secita-cita dan sejalan dengan para konglomerat untuk menumpuk kekayaan, dollar, untuk kepentingan mereka itu sendiri. Pembangunan ekonomi Nasional? Tentu, tentu! Tanpa konsepsi pembangunan ekonomi nasional ...á la Soeharto, tentu USA, Bank Dunia, IMF, Negeri-negeri Eropa Barat dan negeri-negeri demokrasi liberal lainnya, tidak akan menyalurkan bantuannya. Sepèsèr pun tidak! Saya katakan "bantuan" antara tanda kutip. Dan kita tahu, semasa "Perang Dingin" dalam era Sukarno, investasi- kapital tersebut memusuhi kita, mereka tidak mau bersahabat dengan Indonesia di bawah Presiden Sukarno. Mereka tidak mau membantu kita, sebab Presiden Sukarno dianggap memelihara PKI, untuk bekerja sama dengan golongan agama dan golongan nasionalis. Heran? No, R.I. terjepit dan jadi korban konfrontasi kapitalisme contra komunisme. Indonesia sebagai bangsa adalah yang pertama mencapai fighting independece, juga bangsa merdeka yang termuda pada pasca Perang Dunia ke-lI, walaupun sejarah dan kebudayaannya lebih tua dari bangsa-bangsa Eropa Barat sekarang. Kita ketinggalan zaman tiga setengah abad karena dijajah Belanda, karena, karena... banyak lagi "karena", di antaranya yang penting tercatat dalam sejarah berhubung dengan runtuhuya Kerajaan Majapahit dan wafatnya Brawijaya (1478), yang dikhianati oleh puteranya sendiri Raden Patah (berasal dari Fathimah dalam bahasaArab berarti kemenangan, perebutan) yang mendirikan Kerajaan Islam Demak zamannya Kasunanan Gunung Jati,Wali Islam yang terpenting di jawa Barat. Kemudian Kasunanan Gunung Jati runtah pula karena perlawanan Kerajaan Mataram ke-I yang mulai didirikan oleh Ki Gede Pamanahan di Kota Gede (1568) di dekat kotaYogyakarta sekarang. Menyusul kemudian kepahlawanan Senopati Ing Ngalogo, lalu Sul- tan Agung Hanyokrokusumo yang dua kali mengepung Jayakarta (Batavia), artinya Belanda sudah datang menjajah kita. Saya pernah mendengar cerita, legenda dari orang-orang tua di Yogyakarta, bahwa Brawijaya, Raja Majapahit yang terbesar tapi yang terakhir itu, tidaklah sedo (wafat) melainkan, ketika berada dalam tahanan di Keratonnya di Kediri, dikatakan sedo, tapi sebenarnya dia menjelma menjadi Naga Geni, kepalanya kadang- kadang muncul di puncak Gunung Merapi (di utaraYogyakarta), tapi tubuhnya melingkari bumi, dan nanti apabila ekornya bertemu kembali dengan kepalanya, itulah tandanya kebesaran Majapahit akan datang kembali. Wallahu'alam. Saya teringat akan cerita dongeng ini (legenda ini) ketika saya bertiga dengan dua putra saya Dias dan Adityo naik ke puncak Gunung Eufrere di Guadalupe, yang seperti diberi tanda oleh Harun Tazief (vulkanolog Prancis yang terkenal) adalah "saudara-sejalur" dengan Gunung Merapi di Jawa Tengah. Bumi, planet kita ini bagaikan bola. Di bawah Gunung Merapi itu berada Gunung Eufrere di Guadelupe Prancis di Karibia. Demikian sebaliknya, tergantung dari mana kita berada dan memandangnya. Masa-masa berlalu silih-berganti. Perang Dingin USA-Uni Sovyet-RRC resminya kini sudah menjadi masa lampau. Sekarang Rusia dan RRC sudah bekerjasama dengan gembong kapitalis USA di dalam bidang ekonomi dalam dan luar negeri, yang sama-sama bertujuan untuk menjamin Perdamaian Dunia, karena itu mem- butuhkan kapital di samping teknologi; di samping tenaga kerja, yaitu elemen terpokok untuk menciptakan produktivitas masyarakat. SedangkanVietnam, Korea Utara dan Kuba, rupa-rupanya sudah mengarah seperti Cina dan Rusia juga. Saya sekeluarga pernah, karena terpaksa, sebagai refugee politik l0 tahun berada di Kuba. Saya bisa memaklumi kalau sekarang negeri-negeri terpaksa berhati-hati untuk 'banting stir'. Kuba butuh kapital, butuh hubungan ekonomi dan perdagangan. Blokade ekonomi dari Amerika membuatnya terisolasi dan menyengsarakan rakyat,walaupun moral revolusioner tetap kuat bertahan.Tapi sampai kapan? Saya kira mereka sedang memikirkan pengalaman sampai di mana bisa mengaplikasikan"mundur selangkah untuk maju dua langkah". Sebab cita-cita sosialisme adalah Tuntutan Hati Nurani Rakyat, yaitu tercapainya "masyarakat adil dan makmur" yang bagi kita, bangsa Indonesia, sudah tegas dan jelas tersimpul di dalam Pancasila. Tapi jangan salah-salah saya menyebut sosialisme di sini, bukan dalam pengertian sosialisme ortodoks, tetapi Sosialisme In- donesia, yaitu: Pancasila! Berketuhanan, berperi-kemanusiaan, demokrasi, sosialisme (kesejahteraan sosial). Dus tidak boleh ada diktator klas atau militer. Ekonomi disusun berdasarkan Pasal 33 UUD'45,Peraturan Negara tidak boleh mematikan perkembangan manusia. Motivasi dan pengaturan pembangunan nasional harus berdasarkan keselarasan keseimbangan kepentingan masyarakat bersama.Tidak seperti Orde Baru Soeharto yang hanya ngaher GNP, tetapi memasa-bodohkan bahkan main gusur kepentingan rakyat banyak, yaitu kaum pekerja. Itulah di antara lain pokok-pokok perbedaan sosialisme Indone- sia, yaitu Pancasila Sukarno, dengan sosialisme-nya Marx. "Masyarakat sosialis itu hanya dapat diwujudLan dengan perjuangan klas; yang sanggup melakukan perjuangan klas hanyalah kaum buruh (kaum Proletar)", demikian kata Marx. Itulah dia komunisme yang di dalam praktek sejarahnya telah membuka pada peningkatan jalan kemajuan kapitalisme di zaman Abad ke-XXI ini. Begitu banyak korban manusia yang telah diberikan. Aksioma hukom dialektika selalu berlaku: tese, antitese, sintese. Memang kapitalisme yang membangkitkan kerakusan manusia, sehingga menyerupai binatang. Sedangkan sosialisme bertujuan untuk menciptakan keadaan yang lebih berperikemanusiaan. Tetapi apakah kaum komunis Indonesia tidak salah menerapkan marxisme di Indonesia? Sebagai bukan komunis, saya cenderung mengatakan begitulah. Salah penerapan karena salah menilai tempat dan keadaan, situasi dan kondisi. Yang ada di Indonesia sebagai basis masyarakat sebagaimana dirumuskan oleh Bung Karno, ialah kaum marhaen. Bukan proletar. Rakyat yang dimiskinkan oleh kolonialisme Belanda selama tiga setengah abad yang satu kakinya masih berada di alam kerajaan Majapahit, dan yang sebelah lagi belum juga bisa sampai ke pinggir pekarangan Pabrik Baja Cilegon (yang di bawah tanah fondasi pabrik tersebut, oleh kami a.n.Angkatan 45, saya dan Chaerul Saleh, sebagai Menteri Industri dan Pertambangan, telah ditanamkan sebalok besi aluminium bertuliskan "Pabrik Baja Cilegon -Angkatan 45, tanggal ... saya lupa tanggal peresmiannya itu). Kaum buruhnya-pun adalah kaum buruh marhaen (yang tidak bisa dimasukkan ke dalam daftar nothing to lose). Itulah sebabnya, mengapa Bung Karno menasihatkan "jangan diperuncing itu perjuangan klas . Kaum miskin memang banyak, yang hidupnya "sebenggol sehari", tetapi mereka itu bukan kaum proletariat. Mereka itu adalah kaum marhaen yang dimiskinkan oleh kolonialisme Belanda. Itu diakui oleh orang Belanda sendiri seperti ditulis oleh Mr. C. Th. van Deventer di dalam de Gids 'Een Eereschuld' ("Hutang Budi"), Agustus 1889. Karena itu Belanda melancarkan politik etik di Hindia Belanda.Van Deventer menganjurkan memperluas pengajaran dan mempertinggi perekonomian penduduk. Keuntungan yang diperoleh dari Indonesia seyogianya dapat dipergunakan untuk keperluan tadi. Tetapi Belanda mempergunakan keuntungan itu untuk keperluan jalan-jalan kereta api di Nederland. Kehormatan untuk Mr. Conrad Theodor Van Deventer! Lihatlah bagaimana serakahnya kapitalisme hari ini. Mereka sekarang bahkan memeras bangsa Indonesia bersama-sama orang Pribumi seperti Soeharto. Demikianlah sekadar tanggapan saya mengenai dasar-dasar materie yang melahirkan teori Marhaenisme Bung Karno, secara pokok dan singkat sekali. Bung Karno adalah seorang marxis. Itu beliau akni sendiri.Tapi ada sementara "marxis-gadungan" yang berteriak: "Revisionis! Bernstein! Kautsky!" Tidak! Sukarno adalah Sukarno, Bapak Marhaenisme! Andai kata, Marx itu orang Indonesia,janganjangan dia akan turut serta bersama Sukarno menggali Pancasila itu. Faktor tempat, situasi, dan kondisi itulah yang menentukan aksi dan reaksi! Tapi ada lagi pihak yang lain yang tidak mau Sukarno itu dengan jujur dan berani mengaku bahwa Bung Karno itu Marxis. Bahkan ada lagi yang lain karena tidak begitu mengerti apa itu marxisme, serampangan mengecapnya sebagai komunis. Apakah marxisme itu? Bung Karno sendiri memberikan jawaban: "Orang mengatakan marxisme adalah seolah-olah'satu agama sendiri', orang mengatakan dia satu star system pula, orang malah mengatakan dia semacam satu hocus-pocus yang dikira bisa dipakai buat menyelami semua sedalam-dalamnya roh dan jiwa, padahal dia hanyalah satu metode saja untuk memecahkan soal-soal ekonomi, sejarah, politik dan kemasyarakatan, satu ilmu perjuangan di dalam ekonomi, politik dan kemasyarakatan. Sesuatu metode berfikir dan sesuatu ilmu perjuangan tidak mesti harus bertentangan dengan sesuatu agama, apalagi kalau agama itu adalah satu agama rasional yang saya visikan itu . . . Kini cukuplah kiranya saya menggambarkan kepada pembaca- pembaca garis-garis besarnya saya punya jiwa. Saya tetap nasionalis, tetap Islam, tetap marxis. Syntese dari tiga hal inilah memenuhi saya punya dada, satu sintese yang menurut anggapan saya sendiri adalah sintese yang geweldig". Demikian jawaban Bung Karno yang ditulisnya di Bengkulu dan dimuat dalam surat kabar"Pemandangan", 1941. Di zaman Orde Baru, Soeharto melarang adanya, dibacanya marxisme. Marxisme sebagai ilmu sosial tidak bisa ditiadakan dengan Surat Keputusan. Eksesnya, yang salah mengaplikasikannya, sepertiputch GESTAPU itu, bisa dan harus ditindak-hapuskan. Tetapi marxisme sebagai ilmu sosial-politik secara keseluruhan tidak bisa ditiadakan. Akan sia-sialah, seperti menjaring angin di pematang. Dia adalah angin zaman modern yang berhembus di dalam zaman kapitalisme. Yang harus dijaga dan dicegah yalah eksesnya yang membahayakan kepentingan nasional. Seperti juga kita harus terus- terang bersikap rasional pada kapitalisme, kita membutuhkan kapital bantuannya, tapi kita harus menjaga dan mencegah timbulnya ekses penyalah-gunaan oleh bangsa Indonesia sendiri atas bantuan kapital itu, sehingga tidak membahayakan kepentingan nasional dan selanjutnya membahayakan kapital-kapital itu sendiri yang kita dapatkan tidak secara gratis atau budi-baik, melainkan dengan susah- payah, bahkan dengan segala pengorbanan bangsa dan rakyat yang tidak tepermanai. Baik korban-korban dari golongan kiri, maupun korban-korban dari golongan kanan, temasuk korban satu juta manusia akibat GESTAPU atas tanggungjawab Soeharto. Agak ngelantur, ya ngelantur lagi sedikit, uitstomen sedikit lagi mengeluarkan uneg-uneg saya sebagai seorang pejuang yang sudah menjadi tua begini, saya ingin mengatakan kalau kolonialisme Belanda selama tiga setengah abad menjajah kita dan nenek-moyang kita itu, tidak begitu kelewatan kejam dan onmenselijk, sudah keterlaluan tidak berperikemanusiaannya (bacalah antara lain Multatuli). Saya kira PKI yang menggantikan ISDV Sneevlet itu, tidak akan menjadi extra extrem radikal, seperti yang dapat kita ketahui sepanjang sejarahnya, apalagi mempelajari ilmu marxisme itu selengkap-lengkapnya dan sedalam-dalamnya. Saya ingat lelucon Bung Karno di hadapan Kursus Pemuda Menteng 31 pada tahun 1943, di mana ada juga pemuda D.N.Aidit di situ.Yaitu tentang orang-orang buta yang mau mengetahui rupa, bentuk gajah dengan sekali raba saja. Begitulah, ada yang kebetulan pegang buntut saja, ada yang pegang kupinguya, ada yang mempegang "senjatanya" saja - tapi masing-masing berkeras-hati mengatakan begitulah rupa dan bentuk gajah seperti yang telah terpegang olehnya tadi. Demikianlah, maka senang sekali hati Aidit terpaut pada cara dan karisma Bung Karno memberikan kursus politik. Saya mau mengatakan bahwa bagaimana aksi itu sendiri, demikianlah reaksi, yang dilahirkannya! Lalu, sekarang bagaimana dengan Pancasila? Di zaman apa yang disebut pasca Sukarno, di zaman mencairnya Perang Dingin, di zaman masuknya kita ke abad ke-XXT yang katanya menyerokan era globalisasi?? Di zaman tegak bertolak-pinggangnya kapitalisme internasional di atas seluruh jagad sendiri yang telah merobohkan pilar kekuasaan Bolshewik Uni Sovyet, musuh dan sekutunya sekaligus di dalam Perang Dunia ke-II. Lalu bagaimana kita harus bersikap sekarang? Kita bangsa Indo- nesia yang relatif kecil dalam arti GNP, tetapi besar daam arti cita- cita dan ideal, kita harus bertolok-ukur pada bagaimana akseptasinya zaman baru kapitalisme internasional ini kepada Pancasila, yaitu Sosialisme Indonesia. Sejak Presiden Jimmy Carter yang pertama- tama memasukkan Hak Asasi Manusia (HAM) ke dalam kebijakan politik luar negeri Amerika, daya fantasiku seakan-akan melihat bintang di cakrawala, Stars and Stripes itu. Daya fantasiku itu melayang pula kepadaThomasJefferson, penggaris Declaration of Independen, Juli 1776, seorang demokrat yang besar dan pendiri Partai Demokrat yang pertama di Amerika. Presiden Bush saya anggap seorang war monger! Sesudah Partai Demokrat mengalahkan Partai Republik dan menaikkan Bill Clinton sebagai Presiden Amerika Serikat, saya undang seluruh keluarga mengadakan selamatan di restoran kami yang sederhana itu,di "Djakarta - Bali". Saya kirimkan ucapan selamat kepada H.E. President Bill Clinton dengan harapan yang terbaik semoga ia menjadi symbol of newAmerica. Begitu juga ketika beliau dipilih untuk kedua kalinya pada tahun 1996. White House menya- takan telah menerima surat saya tersebut. Mengapa? Naif? Terserah! Satu insan manusia ciptaan dan diciptakan Tuhan, kepadanya kita memohon dan kepadaNya pula kita akan kembali. SedangLan batu sekalipun mempunyai arti penting di dalam conturenya. Di zaman kapitalisme internasional inilah di dalam hemisphere demokrasi liberal kita menggunakan kesempatan untuk berjuang terus menegakkan Pancasila, masyarakat yang berkeadilan sosial atau Sosialisme Indonesia. Namun bagaimana pun Pancasila yang jelasjemelas berasaskan demokrasi, tidak mungkin ditegakkan di bawah alam kediktatoran militer Soeharto seperti tigapuluhan tahun ini. Dua ratus juta manusia, artinya dua ratus juta manpower, tenaga produktif kapital menuntut demokrasi sebagai Hak Asasi Manusia. Logisnya, tentulah tidak bisa terus-terusan dianggap sepi oleh duniaAmerika dan dunia Eropa, seperti telah terjadi tigapuluhan tahun ini. Sebab pasti akan merugikan kedua belah pihak: Indonesia dan negeri-negeri kapitalis pemberi dana. Saya tahu, suara-suara demokratis di USA dan di Eropa sudah saya dengar, dan tulisan-tulisannya sudah saya baca. Memang! Tentang pseudo-demokrasi, korupsi, autokrasi. Memalukan! Rezim diktatorial Soeharto dan Orde Barunya yang autokratik dan korup harus diganti dengan pemerintahan yang demokratis yang lebih menghargai kepentingan nasional di atas keserakahan segolongan kecil elit konglomerat, dan menjunjung tinggi hubungan ekonomi dan perdagangan dengan pihak luar negeri demi kepentingan pembangunan nasional. | |