| ************************************* LSSPI - Publikasi No.33(1998) lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net ************************************** | |
| BAB VIII Diskusi dengan Chaerul Saleh "Assalamutalaikum..." "Nah, ini dia siluman Kuba datang, semua orang kira jij sudah di kayangan menari'serampang dua belas'bersama dewi-dewiJepang di Gunung Fuji dengan semua penumpang BOAC yang pecah itu. Sudah makan apa belum?" begitu cara bung Chaerul Saleh menyambut saya. "Belum... racik nasi rames saja, Zus Jo, yes!" saya minta pada Zus Jo. Namun saya disuguHi sepiring nasi, sepiring rendang Padang dan gulai pakis ... la Sumatra dan sayur asem Betawi. Bikin saya"ingat kampung". Sementara saya makan, Zus Jo menanyakan keadaan Kendah dan anak-anak saya. Dia dan Chaerul tak punya anak.Yang satu ganteng, yang satu lagi cantik, dua manusia itu saya sukai. Ada sifat-sifat sama dengan saya, mereka umumnya selalu terbuka tidak suka pura-pura. "Fi, jij datang sudah agak terlambat. Saya minta jij segera datang untuk bisa mengetahui keadaan yang sebenarnya dan membantu 'si gaek' itu mengatasi keadaan sulit yang kita hadapi sekarang. Alle hens aan dek, kerahkan semua tenaga, kita sedang diterjang badai." Chaerul selanjutnya bercerita tentang Wikana ketika sama-sama masih di RRT :"Sebelum berangkat pulang, saya nasihatkan Wikana, sebaiknya dia tak usah pulang dulu. Begitu sampai di Kemayoran dia segera disauk tentara, sekarang saya tidak tahu, saya tidak dengar lagi bagaimana nasibnya. Abangmu, Asmara Hadi dan Winoto Danuasmoro, karena dari PARTINDO, saya angggap tidak ada persoalaan, pulang bersama dengan saya." "Bagaimana mulanya, maka jadinya begini?" tanyaku."Saya dengar jij ke Peking, kenapa Bung Karno ditinggal sendirian?" "'Pan ada Subandrio dan Oom Jo. Saya harus pergi ke Peking memimpin 100 orang anggota MPRS yang mendapat undangan kehormatan dari RRT. Ayo, sekarang saya ngomong dulu, nanti jij bicara. "Waktu di Peking saya belum banyak tahu tentang kejadian ini. Pada waktu 1 Oktober, Hari Perayaan besar-besaran di Tian An Men, saya juga belum tahu apa-apa, sebab semua orang berada di tengah perayaan itu. Baru pada malamnya saya dengar desas-desus, bahwa di Jakarta terjadi kudeta Dewan Jendral yang gagal. Desas- desus itu timbul dari kalangan rombongan undangan dari Jakarta yang berada di tengah perayaan di Tian An Men 1 Oktober itu. Saya kontak dengan KBRI, Duta Besar Djawoto dan Atase Militer, tapi anehnya mereka, katanya, tidak atau belum menerima berita apa-apa. Baru kemudian, entah tanggal berapa, tanggal 3 Oktober barangkali, saya diberi tahu bahwa ada berita'Bung Karno selamat, tapi ada korban enam jendral yang mati terbunuh oleh pemberontak yang dipimpin oleh Kolonel Untung. "Lega hati saya karena Bung Karno selamat, tapi hati saya cemas akan akibat pembunuhan enam jendral itu. Saya minta KBRI mengurus kepulangan kami segera ke Jakarta. Saya minta abang lu mengirimkan kawat padamu supaya kamu pulang ketika kami berangkat pulang tanggal 5 Oktober. "Saya terima kawat itu, tanggal 7 Oktober, dikirim dari Kanton", saya menyela."Jij bilang Bung Karno ditinggal pada Subandrio dan Oom Jo, tapi jij juga tahu siapa Subandrio yang punya dua muka, nempel ke Bung Karno dan dekat pada PKI. Oom Jo dalam keadaan gempa bumi, dia bisa memimpin sembahyang di Gereja, tapi lebih setia kepada Bung Karno daripada Subandrio. "Saya tiba diJakarta baru tanggal 10 Oktober, tapi situasi sudah bergulir begitu cepat. Sekarang situasi kita sulit, sebab Bung Karno kini terjepit antara PKI dan tentara yang melampiaskan kemarahan kepada PKI akibat kejadian 30 September, di mana Kolonel Untung, dengan membunuh enam jendral dan membikin Dewan Revolusi itu, mau merebut pemerintahan, yang sekarang sudah disinonimkan dalam sebutan GESTAPU/PKI. Sekarang kau datang ini, sebenarnya sangat terlambat untuk membantu kita dan Bung Karno mengatasi kemelut dalam negara kita ini. Hari ini tanggal 21 Desember, saya dengar Aidit, yang pergi melarikan diri ke Jawa Tengah, kemarin dulu sudah dihabisi In korte metten, langsung tembak tanpa proses enggak banyak cerita! Nyoto dan Lukman sudah lebih dulu, dihabisi tanpa proses juga. Padahal Bung Karno sudah mengadakan Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa). Saya tidak mengerti, apakah Mahkamah/pengadilan kita sekarang kurang akseptabel, apakah kita sekarang sudah dalam keadaan perang, perang saudara? Nanti jangan-jangan Bung Karno sendiri dimahmilubkan?" "Betul, saya ikuti, benar jalan pikiranmu", saya menyela. "Fi, saya tidak mengerti, saya heran, kenapa Aidit jadi begitu? Jij lebih banyak kenal dia dari aku." "Tidak juga, sama seperti you, sejak dia jadi orang penting,Wakil Ketua MPRS, kemudian jadi Menteri, lalu saya disurah Bung Karno pergi ke Kuba, saya tidak ada kontak sama dia lagi seperti dulu ketika sama-sama di DPA. Malah jij mestinya bisa mengetahui langkah-langkahnya dan waspada kalau-kalau akan mencelakakan kita." Dengan sebenarnya saya mengatakan:"Mestinya begitu, tetapi sejak Aidit mengusulkan Angkatan 45 dibubarkan dan tidak disetujui oleh Bung Karno, dia sama saya sudah seperti minyak dengan air, walaupun sama-sama dalam satu botol yang namanya Kabinet DWIKORA. Dia jadi lebih dekat dengan Subandrio, dan jij tahu, sejak 1962 orang pada bikin desas-desus saya ini dan Bandrio sedang saingan, rivalan katanya. Subandrio atau saya yang akan jadi Presiden menggantikan Bung Karno. Padahal jij tahu sendiri, kita sebagai Angkatan 45, dan jij sendiri yang bicara satu malam penuh kepada semua tokoh-tokoh Angkatan 45 sebelum Sidang MPRS di Bandung, supaya dalam Sidang besoknya mengusulkan Bung Karno diangkat menjadi Presiden Seumur Hidup. Kita suruh Kolonel Djuhartono mencari anggota MPRS dari TNI untuk menjadi jurubicara ide kita itu. Kau tahu 'kan latar belakang ide kita itu. Perlu mengantisipasi pihak-pihak mana saja yang berambisi merebut kekuasaan Presiden, baik dari PKI atau pun dari TNI. Djuhartono ketemu Kolonel Suhardiman, dan dia inilah yang jadi jurubicara. Aku tahu mengapa dia mau jadi jurubicara, dia takut PKI akan menang, kalau dilaksanakan Pemilihan Umum yang seharusoya dilakukan tahun 1963." "Memang betul, saya juga masih ingat. Kalau Pernilihan Umum jadi dilaksanakan, kemungkinan besar begitu. Bertolak dari kemenangan PKI pada Pemilihan Dewan Daerah pada tahun 1957, pada Pemilihan Umum yang akan datang, kemungkinan besar PKI akan mencapai kemenangan mayoritas. Suhardiman tidak ada pilihan lain, kecuali menyetujui ide kita, walaupun dia tahu Jendral Nas punya ambisi gede, juga karena disanjung-sanjung oleh sementara orang yang anti-Sukarno sesudah kegagalan Peristiwa 17 Oktober 1952. Tetapi Bung Karno sebagai demokrat 'kan menolak untuk dijadikan Presiden Seumur Hidup. Saya tidak lupa, sayalah yang menemani Bung Chaerul mengantar ke Istana Bogor. Putusan Sidang MPRS itu, bulan Mei 1962. Sebab, kalau PKI menang, bisa terjadi perang saudara lebih hebat dari Peristiwa PRRI/Permesta. Dan dari situ kita bisa menarik kesimpulan, mengapa Jendral Achmad Yani yang mendapat tugas untuk menghancurkan Pemberontakan PRRI/ Permesta itu, ketika berpamitan dengan kita di dalam Sidang Kabinet tahun 1958, memperingatkan: 'Sekali ini saya dengan TNI akan melakukan tugas kami sebaik-baiknya, tapi kami tidak ingin ada kejadian seperti ini berulang lagi '. "Bung masih ingat'kan? Tapi Bung Karno menerima Keputusan MPRS itu karena sudah menjadi keputusan, untuk jangka waktu sampai Sidang MPRS yang akan datang. Baiklah Bung, itu hal-hal masa lampau, saya minta Bung teruskan tentang keadaan kita sekarang ." Demikian saya katakan, karena saya sudah tidak sabar mau dengar tentang situasi yang sedang berlangsung sekarang. Chaerul Saleh melanjutkan: "Ketika 1 Oktober di lapangan Tian An Men, sementara golongan dari para anggota delegasi dari Indo- nesia sudah dengan antusias menggulirkan desas-desus, bisik-bisik, bahwa telah terjadi 'kontra-aksi'mencegah Dewan Jendral yang mau mengadakan kudeta terhadap Presiden Sukarno. Susah dan sulit untuk mencari siapa orang yang mulai meniupkan bisik-bisik itu, sebab tempat penginapan mereka terpencar-pencar. Sedangkan pihak resmi KBRI belum tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di Jakarta. Segera saya mengambil kesimpulan, bahwa kalau terjadi sesuatu di Jakarta mestilah tidak lain kalau bukan dari TNI, tentulah dari PKI, dua kongkuren sejak dari Affair Madiun. Setelah saya tiba kembali di Jakarta, saya dapati keadaan betul seperti apa yang telah saya duga itu. Bagi saya, Aidit dan PKI itu masuk perangkap provokasi, karena mereka 'mata gelap', takut melihat Bung Karno sudah sakit-sakitan dan itu dukun-dukun shinshe Cina itu mengatakan bagaimana gawat sakitnya Bung Karno. Dan kalau Bung Karno tidak kuasa memerintah lagi, mereka akan dilibas habis oleh TNI dan golongan yang anti-komunis. Itulah sebabnya mereka jadi mata gelap, bikin 'putsch' yang fatal, yang akibatnya bikin sulit kita semua.Yang mestinya'kan tidak boleh begitu. Selama ini bergantung kepada Sukarno, betul, tapi mestinya gantungan yang benar lainnya sebagai kekuatan basisnya mestinya rakyat, yang menyokongnya sampai menang seperti ketika Pemilihan Umum 1955 dan Pemilihan Daerah 1957. Kenapa harus takut dan jadi mata gelap? Sampai sekarang, sekarang bulan Desember, masih berlangsung pemburuan- liar terhadap rakyat yang dituduh, disangka, ditunjuk sebagai komunis. Balas dendam. Rumah, harta, anak-bini orang komunis atau yang dicurigai komunis jadi sasaran penjarahan. Polisi, alat keamanan, semua pada kena hasutan segolongan tentara yang balas dendam atas terbunuhnya DewanJendral oleh tentaranya GESTAPU Biro Khusus/PKI. Fi, saya tanya, apa jij kenal itu Kolonel Latief, itu orang yang namanya Sjam Kamaruzaman, dan itu Kolonel Untung dari Cakrabirawa Pengawal Istana? Mereka itulah eksekutor, tokoh- tokoh utama malam na'as, parak-siang 30 September yang sudah melangkah ke 1 Oktober 1965. Pihak tentara menyebutnya GESTAPU, sebutan ini cepat menggulir ramai mensinonimkan dengan GESTAPO untuk menggejolakkan kemarahan orang kepada PKI. Tapi kalau mau tepat, kejadian itu ialah pada 1 Oktober, maka itu Bung Karno menyebutnya Gerakan 1 Oktober, disingkat GESTOK. Sebab gerakan penangkapan dan pembunahan enam jendral terjadi sesudah jam 1 parak siang tanggal 1 Oktober 1965. Ada lagi yang hebat, yang jij mesti tahu, Fi .... pada jam 6 pagi tanggal 1 Oktober, sesudah Soeharto diberi tahu oleh tetangganya Mashuri,bahwa telah terjadi pembunuhan Jendral Yani dan jendral- jendral lainnya, dan ini pemberitahuan Mashuri itu dijadikan alibi penting, walaupun sedang berlangsungnya pemberontakan GESTAPU, dia, Soeharto, sendiri pergi mengendarai Jeep Toyota sendirian, tanpa pengawal menuju Markas KOSTRAD, melewati Kebon Sirih,Jalan Merdeka Timur. Kau pikir sendiri, seorang jendral di lapangan, tanpa pengawal, kalau andai kata ada pertempuran benar-benar akan 'jibaku' sendirian? ONZIN! Itu adalah satu pembuktian bahwa dia, Soeharto, sudah mengetahui lebih dulu. Terakhir sekali Latief datang dan memberitahukan Soeharto pada jam 1 malam tanggal 1 Oktober di Rumah Sakit Angkatan Darat itu.Tetapi kabut prasangka dan kemarahan membuat tentara tidak bisa lagi melihat terang dan tidak sempat lagi menelusuri keadaan di balik kenyataan secara jernih. Apa jij kenal orang-orang itu?" "Saya kenal dan tahu siapa itu Abdul Latief dan Sjam Kamaruzaman, itu orangnya Soeharto. Kolonel Untung saya belum lihat orangnya, hanya fotonya. Saya tahu dia yang diterjunkan ke Irian Barat, itu orangnya Soeharto juga. Sekarang saya mau tanya Bung ... dengarkan ... Rul, kalau jij andaikata GESTAPU atau Biro Khusus/PKI, mengapa tujuh Jendral itu saja yang mesti dibunuh mati, yaitu KASAB Jendral A.H. Nasution, Jendral Achmad Yani, Letnan Jendral Suprapto, Letnan Jendral Haryono M.T., Letnan Jendral S. Parman, MayorJendral D.l. Panjaitan, dan MayorJendral Sutoyo Siswomihardjo, kenapa mereka tujuh orang itu saja. Kenapa Mayor Jendral Soeharto tidak mau dibunuh juga, kau mau bikin apa dengan dia ini, maka kau reservir dia itu??" "Ah, Hanafi, kau jangan begitu, aku bukan GESTAPU atau Biro Khusus/PKI, dong!" "Aku hanya bilang kalau, andai kata, bukan menuduh.Agar logika dan daya analisa Bung bisa cepat kerja. Pertanyaan itu timbul di kepala saya selama dalam perjalanan ke Jakarta ini. Setelah Bung menanyai saya, apa saya kenal dengan tiga orang itu, Sjam Kamaruzaman, Latief dan Untung itu tadi, langsung ingatan saya melihat tali hubungan mereka itu dengan Brigjen Soeharto, Komandan KOSTRAD. Ini keterangan singkat saya tentang dua orang itu: Kesatu, Sjam Kamaruzarnan. Itu orang keturunan Arab Pekalongan. Dikenalkan pada saya ketika Konperensi PESINDO di Solo sebagai 'restan' Peristiwa Tiga Daerah, katanya, pernah anggota Laskar PAI (Partai Arab Indonesia-Baswedan). Diceritakan, dia pernah bekerja di bawah Komisaris Polisi Mudigdo di Pati sebagai polisi intel (penyelidik). Sikap dan caranya ngomong seperti orang terpelajar, pandai bergurau. Sehabis Peristiwa Madiun, kabarnya berada di Jawa Barat, di Bandung,menempatkan diri sebagai informan Tentara. Kemudian di Jakarta begitu juga, kontaknya sama Overste Latief, ketika dia menjabat Komandan Brigade Infanteri Kodam JAYA . Saya tidak pernah jumpa lagi dengan orang itu sesudah kebetulan diperkenalkan di Konperensi PESINDO tahun 1946 itu. Tetapi, kebetulan pada suatu hari, setelah terberita bahwa saya akan dikirim menjabat Duta Besar di Kuba, D.N.Aidit sebagai anggota DPA datang ke rumah saya, mau mengucapkan selamat, dengan membawa seseorang, yang walau pun badannya sudah agak gemukan, tapi saya tidak lupa, itulah dia si Sjam. Saya tidak suka pada orang yang saya anggap misterius... Aidit saya bentak dengan suara keras: 'Kenapa polisi intel ini kau bawa ke sini, hah?!' Mendengarkan bentakan saya itu, Aidit terkejut, dan Syam langsung balik ke belakang, masuk mobil lagi. Aidit pun tidak jadi masuk ke rumah, mengikuti Syam ke mobil, lalu pergi. Rupanya Aidit sudah 'dikili-kili' oleh Syam itu. Kedua, Kolonel Abdul Latief. Dialah orang yang menaikkan nama Overste Soeharto dalam Peristiwa Enam Jam di Yogya, 1 Maret 1949. Latief ketika itu Kapten, Komandan Pasukan yang dari Godean menyerbu masuk ke dalam kota dan bersama dengan Laskar PESINDO, yang standby illegal di bawah pimpinan Supeno dan Pramudji, menggempur Belanda. Ketiga, Kolonel Untung. Seperti sudah saya bilang tadi. Sekali lagi, semua pelaku GESTAPU itu, tokoh-tokohnya, adalah orang-orang Letjen Soeharto sendiri. Jelas, toh, kenapa Soeharto tidak turut dibunuh. Gampang sekali kalau Latief mau membunahnya, yaitu ketika di rumah sakit sebelum GESTAPU bergerak.Tentunya Latief ketemu Soeharto ketika itu untuk minta restunya, bukan mau membunuhnya. Sebab Soeharto Jendral harapan GESTAPU, seperti kita Angkatan 45 kepada Panglima Achmad Yani, sebagai Jendral Harapan Angkatan 45." "Saya kira betul apa yang kau bilang, rupa-rupanya si Aidit itu sudah 'dikili-kili' oleh si Sjam", kata Chaerul Saleh,"sampai mau bikin Biro Khusus yang dipercayakan kepada Sjam bikin rencana Pemberontakan GESTAPU, akhirnya Sjam yang bertindak bebas sendiri, Aidit tidak bisa mengontrol gerakan itu lagi. Buktinya, ketika dia diambil dan mau dibawa ke Pangkalan Udara Halim, dia tanya kepada yang menjemputnya'mau dibawa ke mana saya ini?'. Dijawab 'mau dibawa ketemu Bung Karno', tapi tidak diketemukan pada Bung Karno. Akhirnya oleh Sjam, katanya, untuk keselamatannya, disuruh pakai kapal terbang pergi ke Jawa Tengah. Di situlah riwayatnya dihabisi oleh anak buahnya Sarwo Edhie. Tanpa proses Mahmilub. Coba pikir, kalau secara hukum negara, walaupun pemberontak atau pengkhianat, dia itu Menteri Negara, mesti ditangkap dan diadili secara hukum. Fi, kita sudah banyak saling memberikan keterangan, dalam diskusi kita ini, baik kita stop dulu buat sementara, hari sudah larut malam.Tapi, bagaimana pendapatmu, kita apakan ini PKI? Pemuda KAMI dan KAPPI yang kena hasut tentara menuntut pembubaran PKI." "Buat saya, bukan karena tuntutan pemuda-pemuda yang kena hasutan tentara. Partai apa pun yang bikin pemberontakan harus dibubarkan. Dulu Masyumi dan PSI. Sekarang PKI. Soalnya, problemnya, ialah waktu, kapan. Itu adalah Hak dan Kewajiban Kepala Negara yang menentukan sesuai dengan cara dan Kebijaksanaannya. Masyumi dan PSI dibubarkan, sesudah habisnya Pemberontakan PRRI/Permesta, melalui masa hampir setabun. Kita harus membantu Bung Karno ke arah pembubaran PKI, sesuai dengan Kebijaksanaannya dan Hak-Kewajibannya sebagai Kepala Negara." | |