*************************************
 LSSPI - Publikasi No.33(1998) 
lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net 
************************************** 
                    *  A.M. HANAFI MENGGUGAT  * 
                           PENDAHULUAN 
BAB V

Rame-rame Potong Tebu pada Hari Ulang Tahun 26 Juli

Ada lagi yang luar biasa. Setiap tanggal 26 Juli, hari ulang tahun penyerbuan gudang senjata El Quartel Moncada (1953) oleh satu grup pemuda revolusioner dibawah pimpinan Fidel Castro; dan setiap tanggal 2 Desember, peringatan hari pendaratan Fidel Castro, Raul Castro, Camilo Cienfuegos, Che Guevara (selurahnya 78 pejuang) mendarat di pantai Las Colorado di Oriente Cuba dengan sebuah motorboot "Granma" dari Mexico (1956) - kedua hari tersebut dirayakan besar-besaran dengan melakokan kerja bakti menebang tebu. 

Hari penting yang ketiga, yang diperingati setiap tahun selama tiga hari, 17-18-19 April, adalah hari-hari pertempuran di Playa Giron selama tiga hari tiga malam menghancurkan pendaratan tentara bayaran (mercenarios) Amerika, yang terkenal dengan nama "Pertempuran di Pantai Babi" (Baya de Cochon).. Sebagian dari mercenarios, tentara bayaran yang tidak mati, menyerah kalah, menjadi tawanan perang, kemudian dikirim kembali ke Amerika. Bahwa kekalahan tentara bayaran di Pantai Babi itu memalukan Amerika sendiri bukan main, tak usah dikatakan lagi. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada tahun 1961. Itu kekalahan Amerika yang pertama kali di lautan Karibia, di samping berarti pula kemenangan pertama rakyat Amerika Latin terhadap imperialismo yanqui. Bahwa kesimpulan demikian itu membuat tambah panas hati pihak Amerika, dapat dimaklumi pula.Jelaslah, mengapa akibatnya Kuba dijatuhi "blokade ekonomi"- bahkan sampai sekarang - dan pengintaian dari laut dan dari udara masih terus dilanjutkan ketika saya tiba di Havana. 

Demikianlah mengapa hari-hari penting tersebut diperingati dengan rasa khidmat dan dirayakan dengan kerja bakti besar-besaran secara suka-rela, tetapi meriah dan dengan gembira oleh seluruh rakyat Kuba. 

Kerja bakti itu dengan bersenjatakan golok (machete,) pergi menyerbu peladangan tebu untuk memotong tebu.Tambah meriah lagi karena seluruh perwakilan negara-negara sosialis turut meramaikannya. 

Tentu saja KBRI Havana tak mau ketinggalan. Bangun kembali dalam hatiku, kebanggaaan akan pengalaman kerja bakti ketika saya sebagai Menteri PETERA, 1957, mengadakan pilot proyek kerja-bakti gotong-royong pemboatanjalan Saketi-Malimping, di Banten Selatan, satu daerah yang di"anak-tiri"kan beberapa zaman. Saya pribadi telah bertemu kembali dengan jiwa manusia Multatuli dengan "Saijah dan Adinda". Rasa hati kemanusiaanku selalu hendak mengulurkan tanganku kepada makhluk manusia yang di"masa-bodo"kan sistem penjajahan. Di masa itulah pula penulis pejuang Pramoedya Ananta Toer menggubah karyanya yang dijulukinya "Keluarga Gerilya". Dia juga turut serta dalam kerja bakti pilot proyek Saketi-Malimping tersebut. 

KBRI Havana tak mau ketinggalan kerja bakti menyerbu peladangan tebu di Kuba pada hari peringatan Hari Perjuangan Bersenjata rakyat Kuba tersebut. Dan juta "tak kepalang tanggung". Kalau Duta besar Uni Sovyet,Alexander I.Alekseev, hanya beberapa batang saja, sudah. Isyarat simbolik setiakawan revolusioner itu sajalah. Begitu pula Duta Besar R.R.T., Wang Yu Ping. Tapi kalah banyak dengan hasil tebasannya. Duta Besar R.I. yang disertai dengan semua stabnya. Rombongan para diplomat dalam kerja bakti itu disertai oleh Wakil Menteri Luar Negeri Kuba, Arnold Rodrigues dan Kepala Stafnya Eduardo Delgado, juga turut serta Kapten Osmani Cienfuegos (adik Pahlawan Martyr Camilo Cienfuegos), Anggota Politbiro Partai Komunis Kuba yang merangkap Urusan Politik Luar Negeri. 

Mereka itu dengan bangga menyampaikan salutnya kepada kami yang mau dengan sukarela mengintegrasikan diri dengan mereka untuk merayakan kemenangan pertempuran hebat di Pantai Babi tersebut. Lalu, sehabis potong tebu, sebagai penutup kemeriahan hari itu, sebelum pulang ke rumah, diadakan latihan menembak pakai sasaran. Bukan untuk pamer, rasanya Duta Besar Indonesia yang oleh Pak Gatot (Jendral) di Juluki "koboy Krawang", tidaklah memalukan bangsa dalam urusan tembak-menembak itu. 

Lain lagi dengan Konsul dari Vatican, Mons. Dr. Cesar Zacchi yang amat bersimpati pada saya. Beliau tidak pernah turut kerja bakti itu, tetapi ketika ketemu dalam Resepsi, menyalami saya menanyakan berapa ton tebu yang telah dapat saya potong, dengan senyum yang simpatik yang tidak dibuat-buat. 

Memang barangkali sifat hampir semua Pastor Katolik begitulah. Mulainya dekat sama saya setelah saya katakan padanya bahwa saya seorang yang beragama Islam, yang menginginkan orang Islam dan orang Kristen bisa saling menghormati dan bisa bekerja-sama turut membangun dunia baru yang damai buat semua ummat, tanpa penindasan dan tanpa penghisapan. Dan saya orang yang beruntung, karena beroleh kesempatan mengunjungi Citta del Vaticano, Istana Paus di Roma dan diberi pula kehormatan berziarah ke makam para Paus yang ada di situ, tatkala saya turut mengiring Presiden Sukarno dianugerahi Doctor Honoris Causa oleh Bapak Paus di tahun 1956. Itulah asal-mulanya Konsul Vatican tersebut amat bersimpati pada saya. 

 


www:munindo.brd.de