| BAB IV Kisah Terpendam "Kisah terpendam" ini adalah seboah pengalaman tiga orang pemuda "avant garde" revolusi dari Menteng 31, yaitu A.M. Hanafi, Chaerul Saleh, Pandu Kartawiguna, yang hampir saja mati karena menjadi korban perjuangan ketika pergi mendesak Pemerintah R.l. supaya segera membentak Tentara Republik Indonesia (TRI) secepat-cepatnya, sebab tentara Belanda sudah mulai mendarat di Tanjung Priok. Segera, secepat-cepatnya! Tidak ada sukarnya itu, dengan satu pengumuman Maklumat Pemerintah Republik Indonesia, sudah jadilah itu TRI. Tidak ada susahnya. Kamilah yang akan merealisasikannya. Kami, Pemuda Menteng 31 akan memanggil, menyerokan, mengadakan appel kepada semua bekas PETA, bekas Heiho, bekas Seinendan, bekas Keibodan dan semua pemuda- pemuda yang gagah-berani, mengatur semua itu menjadikan mereka itu jadi satu Tentara Republik Indonesia. Material sudah ada, sudah cukup banyak, besi itu sudah hangat, sudah cukup panas tinggal ditempa saja lagi. Ketika itu sudah bulan September, sudah sebulan Proklamasi 17 Agustus lahir ke bumi Indonesia, masa' lé. kita belum punya Tentara juga. Dengan apa bayi Republik ini bisa kita bela, kita pertahankan? Chaerul Saleh yang punya temperamennya tersendiri itu, menimpa dengan gayanya: "Ya, ya, dengan apaaa... dengan ini ... saja?! (Saya tidak perlu tulis di sini apa yang dikatakan Chaerul Saleh itu) Nanti, Bung Hanafi saja jadi juru-bicara kita, dan saya akan menimpa lagi dengan tegas-tegas", kata Chaerul. Mengapa saya yang ditunjuk menjadi juru-bicara. Karena yang akan kami temui yalah Mr. Amir Sjarifudin, Menteri Penerangan. Dan Amir Sjarifudin adalah Ketua GERINDO saya dahulu. Maka berangkatlah kami bertiga dari Markas Menteng 31 menggunakan mobil yang baru dapat diserobot dariJepang, menujuJalan Cilacap, Kantor Pemerintah Rl. Sesudah Pemerintah Pusat kembali dari Yogya ke Jakarta, yaitu sesudah pengakuan Kemerdekaan, gedung itu kemudian menjadi kantor Kementerian P & K (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan).Tapi gedung itulah Kantor resmi yang pertama-tama dari Republik Indonesia kita. Pintu masuk gedung itu besar, tetapi tertutup saja. Kami bertanya-tanya di antara kami. Hanya bendera merah-putih terpancang di tiang di luar, tampak lesu terjuntai, tidak berkibar-kibar. Tidak ada angin berhembus di pagi hari itu. Sesudah pintu kami ketok-ketok, barulah dibukakan separoh saja, tidak dibukakan kedua daun pintunya yang besar dan lebar itu. Begitu saya dan Chaerul Saleh serta Pandu Kartawiguna masuk, di saat itu ... rratataat - rratataat -rratataat, tembakan dua atau tiga mitralyur gencar memuntahkan perlurunya dari jeep-jeep NICA yang dilarikan kencang. Kami bertiga serentak, sekejap itu juga menjatuhkan diri ke lantai tengkurap, sambil berteriak kepada penjaga yang membukakan pintu tadi, yang sedang kebingungan: "Tengkurap!" Kedua daun pintu itu pecah-pecah berserpihan. Di antara kami tentu saja ada yang pucat, entah saya, entah siapa, karena kaget sekali. Segera kami bangun berdiri dengan senyum-senyum menyeringai sambil memaki-maki NICA keparat itu. Sesudah memperingatkan kepada penjaga, supaya pintu yang sudah pecah-pecah tetapi belum hancur sama sekali, jangan dibuka-buka dulu, siapa tahu bangsat NICA itu akan lewat lagi. Kami naik ke tingkat satu mencari Amir Sjarifudin yang kebetulan ada di kamarnya. Beliau menyambut kami dengan terseyum-senyum bertanya: "Ada apa pemuda radikal datang- ada perlu apa?" Amir yang dulunya agak gemuk, tampak menjadi agak kurus, berkemeja sport, bercelana pendek sampai ke lutut. Belum berapa lama dia itu dikeluarkan dari penjara di Sragen di mana dia dihukum seumur hidup olehJepang karena dituduh memimpin perjuangan PKI-illegal menentang Jepang. Tadinya oleh Jepang mau dijatuhi hukuman mati, tapi karena diintervensi oleh Bung Karno dan Bung Hatta menjadi hukuman seumur hidup. "Ada apa?" kataku menirukan pertanyaan Bung Amir, Menteri Penerangan kita itu. Dia resmi Menteri Penerangan, tetapi sebenarnya dialah yang mendapat tugas urusan keamanan. "Kami bertiga hampir mati semuanya di bawah tadi, apa Bung nggak dengar suara mitraliur tadi?" "Pemuda radikal Menteng 31 tidak akan mati-mati, akan hidup terus untuk Revolusi", kata Amir dengan senyumnya yang mengajuk-ajuk hati kami. Sesaat kemudian dengan bersungguh-sungguh saya menguraikan maksud kedatangan kami seperti di atas tadi. Chaerul Saleh dan Pandu menguatkan dan menambahi pula menjadi lebih jelas dan tegas. Kesimpulan dari pertemuan itu Menteri Amir Sjarifudin menyambut dengan gembira desakan Pemuda Menteng 31 agar Pemerintah R.l. dalam beberapa hari ini secepatnya membentuk ketentaraan nasional. "Cocok, cocok, saya setuju sekali, saya akan mengajukan usul saudara-saudara itu secepatnya kepada Sidang Kabinet dalam hari-hari ini", Amir berkata. Sesudah itu, langsung kepada saya, Amir berkata, bahwa saudara Sudisman' Ketua Barisan Pemuda GERINDO Cabang Surabaya telah dikeluarkan juga dari penjara Sragen dan kembali ke Surabaya. Adalah pemuda Sidik Arselan, anggota Pemuda GERINDO, bekas PETA, dengan sepasukan Pemuda P.R.I. (yang ketuanya adalah Sumarsono) yang mendatangi penjara Sragen itu. Selain telah membebaskan Amir Sjarifudin dan Sudisman, mereka juga telah membebaskan semua tahanan lainnya yang ada di situ.Amir Sjarifudin sengaja menceritakan hal tersebut, karena beliau masih ingat bahwa saya menjabat sebagai Sekretaris Jendral Barisan Pemuda GERINDO sejak masa di zaman Belanda dan masa pendudukan Jepang. Selang beberapa hari setelah terjadinya Rapat Raksasa di lapangan IKADA, tanggal 19 September, kami diberi tahu, bahwa pada tanggal 5 Oktober 1945 akan diumumkan Keputusan Pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR). Kami bangga juga, walaupun tidak begitu puas. Sebab yang kami tuntut adalah tentara tentara resmi dari Republik Indonesia, bukan sekadar Badan Keamanan Rakyat yang seakan-akan condong meneruskan pekerjaan BPKP (Badan Penolong Korban Perang) yang dibentuk di zaman Jepang, yang diketuai Jusuf Yahya (abang Daan Yahya). Jelaslah, bahwa antara Pemerintah dengan pemuda radikal Menteng 31 "avant garde"nya revolusi itu walaupun sama-sama jalur garis perjuangannya, namun tidak selalu sama gelombang-gelombang semangatnya yang menggebu-gebu di dada pemuda-pemuda itu. Kami telah mempersiapkan pembentukan laskar-laskar, dimulai terutama oleh pemuda-pemuda di sekitar Jakarta. Baru kemudian BKR menjelma menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat).Yang penting hakekatnya: tentara, tugasnya berperang membela Kemerdekaan yang baru diproklamirkan, bukan Badan Keamanan yang dualis dengan tugas sebagai kepolisian. Namun di hati kami, kami belum merasa lega, belum pas betul. Keamanan Rakyat - urusan polisi di garis belakang, yang penting sekarang adalah bertempur di garis depan. Untuk mengisi kekosongan tugas nasional pertama ini, maka itulah Pemuda Menteng 31 membentuk Laskar (People's Army). Pembentukan laskar-laskar dianjurkan ke seluruh daerah-daerah, dan disambut di mana-mana. Pada mulanya, laskar-laskar itu membentuk diri berdasarkan cita-cita membela Proklamasi, sayang kemudian berubah berkembang menjadi membela cita-cita aliran politik masing-masing golongan: agama, nasionalis, komunis, sosialis dan kedaerahan. Hal ini adalah semata-mata akibat perubahan dari atas,berubahnya sistem Pemerintahan dari kabinet presidensil dengan sistem kabinet parlementer.Terang saja sistem presidensil memang sesuai dengan jiwa Pancasila, sesuai dengan cita-cita semua kaum pergerakan sejak lama, tapi sayangnya salah dalam mengaplikasikan strategi dan taktik perjuangan, yang harus ditentukan oleh penilaian situasi dan kondisi. Dibolak-balik bagaimana pun juga, haruslah diakui kesalahan prinsipal adalah: kurang teguh, atau tidak konsekwen pada prinsip perjuangan nasional bersenjata! Dalam bertabrakannya naluri angkatan muda dengan naluri kaum tua, beruntunglah bangsa Indonesia, karena ada faktor pengimbangnya yang utama, yaitu statemenship (kenegarawanan) Tritunggal Sukarno-Hatta-Sjahrir.Jarumnya neraca-pengimbang itu kadang-kala nampak saja rada ke kiri atau ke kanan, tapi dalam hakekatnya adalah mantap tetap pada titik perjuangan Proklamasi berdasarkan UUD-45 dan menuju pada Pancasila. Sasarannya: kedaulatan nasional. Saya tidak mau, dan janganlah siapa pun juga menyalah-tafsirkan arti penting sejarah Tritunggal Sukarno-Hatta-Sjahrir pada masanya secara dialektis. Tidak secara subyektif, jangan! Tukang emas yang pandai tahu caranya menguji antara emas dan loyang.Tidak semua metal kuning adalah emas. Dan antara emas dengan emas pun harus diuji "karat"nya. Sejarah adalah batu ujian politik bagi bangsa dan masyarakat. Bandingkanlah sistem politik di masa sejarah Tritunggal Sukarno-Hatta-Sjahrir dengan sistem politik semasa orde barunya Presiden Soeharto. Pada zaman Tritunggal, UUD'45 dan Pancasila dijunjung tinggi, pada zaman orde barunya Soeharto, UUD '45 dan Pancasila dikentuti. Jangan bicara lagi tentang hak-hak demokrasi dan HAM. Bedanya zaman Tritunggal Sukarno-Hatta-Sjahrir dengan orde barunya Soeharto "en grosso modo", seperti bumi dan langit. Tidak ada persamaannya. Apa pun kekurangan zaman Tritunggal, mereka tidak keluar dari garis demokrasi, garis kedaulatan rakyat! Zaman orde barunya Soeharto apa pun yang berbau kedaulatan rakyat dicap komunis. Bila komunisme dan marxisme ditanggapi sebagai ilmu di luar PKI yang sudah dilarang itu, okelah.Tetapi sekarang nyatanya siapa saja yang menyuarakan Tuntutan Hati Nurani Rakyat, seperti keterbukaan, keadilan sosial etc. Iangsung dituduh menentang Pemerintah. Inilah sistem Pemerintah autokratik, istilah yang lebih terkenal adalah diktatur yang despotis sekaligus nespotis. Kedaulatan rakyat, demokrasi, sudah digantung, sudah dipancung oleh absolutisme angkara-murka. MPR sejak 1966 dalam kenyataan bukan lagi suatu lembaga negara tertinggi, tetapi telah menjadi Markas Penipu Rakyat yang mendaulat Presiden Sukarno dan mengangkat Letnan Jendral Soeharto menjadi Presiden yang menerapkan kediktaturan represif dengan dalih konstitusional. Kita kembali ke pangkal acara. Bicara tentang kekuatan nasional bersenjata hta bangsa Indonesia, laksana bocah yang baru belajar berJalan seJak dilahirkan oleh Proklamasi 17 Agustus 1945, sejak dari Laskar Rakyat (People's Army) dan BKR, beranjak menjadi TKR, sampai ke TRI kemudian menjelma menjadi kekuatan bersenjata nasional bernama TNI, yang kuceritakan dalam "Kisah Terpendam" ini. Maafkanlah, kalau saya berkata bahwa yang paling bergembira dan bersyukur kepada bangsanya, adalah pemuda-pemuda radikal dari Menteng 31, terutama tiga orang yang disebut namanya di atas tadi: A.M. Hanafi, Chaerul Saleh dan Pandu Kartawiguna. Orang-orang memuji Tentara kita, tentang ketangkasan gerilyanya, kegagahannya dan bintang-bintang gemerlapan di dadanya, tidak lebih dari sewajarnya. Tapi, tapi jangan lupa, haruslah diletakkan pada tempat dan keadaannya. Itu adalah sewajarnya di dalam era Tritunggal Sukarno-Hatta-Sjahrir.Akan tetapi yang paling bersedih hati melihat ABRI kita sekarang adalah selurnh rakyat segala lapisan, oleh karena ABRI kita sekarang terpenjara di dalam hirarki militer Panglima Tertinggi Soeharto yang mengkentuti UUD '45 dan Pancasila, meng- insubordinasi alias mengkhianati Panglima Tertinggi Sukarno dan memanipulirJendral A.H.Nasution, setelah sebelumnya merekayasa pembunuhan Panglima A.Yani dan 5 Jendral lainnya. Para pembaca yang terhormat, "Kisah Terpendam" ini menjadi alasan dalam hati saya sendiri, sebagai Duta Besar untuk mengambil inisiatif merayakan HUTABRI untuk pertama kali di Kuba Havana yang disebut sebagai "el primo pays libre de America Latina" itu. Menurut hemat saya dalam konteks kenegaraan, patut diperingati sebagai Hari Besar Nasional R.I. bukan hanya terbatas pada Hari Proklamasi 17 Agustus 1945 dan HUT ABRI 5 Oktober 1945, tetapi juga selayaknya HUT lahirnya lembaga legistatif atau cikal-bakal demokrasi kita, yaitu KNIP - Komite Nasional Indonesia. Demikian pun HUT lahirnya lembaga yudikatif R.l. dengan segala perangkat dan atributnya. Lembaga-lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif- dikenal dengan Trias Politica Montesqieu - adalah tolok-ukur paten dari sebuah negara Republik yang menjalankan sistem demokrasi dan keadilan sosial. Kalau Adam Malik mendapat tugas dari Komite van Aksi untuk membentuk Komite Nasional, maka A.M. Hanafi, Chaerul Saleh dan Pandu Kartawiguna mengambil bagian tugas sendiri, mempersenjatai pemuda menjadi people's army dan terutama mendesak Pemerintah R.I. untuk membangun Tentara dengan satu Maklumat pembentukan Tentara Republik Indonesia secepatnya tanpa ragu-ragu lagi. Menteng 31 dan bekas PETA dan Heiho sudah sedia mempelopori pelaksanaannya. Kalau saya tadi berniat mengambil inisiatif merayakan HUTABRI di Havana, ialah karena secara spiritual saya ingin bayar-kaul atas tercapainya cita-cita Pemuda Menteng 31: lahirnyaTentara Nasional Indonesia, walaupun telah melalui sejarah pengorbanan selurah rakyat pahit dan getir. Pencetusan prakarsa itu secara spritual adalah hak dan tugas kesadaran nasional dan patriotisme kami: saya bersama Chaerul Saleh dan Pandu, dan Amir Sjarifuddin. Mengapa tidak?! Tonggak-tonggak dalam sejarah menegakkan Republik tercinta ini prakarsa dan kesertaan dalam melahirkanTentara R.I. itu, tidak boleh dilupakan, sekalipun para pemrakarsanya telah jadi korban dari revolusi di mana mereka turut memeloporinya. Bersyukurlah kita kepadaAllah, bahwa berkat restuNya revolusi Angkatan 45 berhasil mencapai dan menegakkan kemerdekaan nasional dari penjajahan asing. (Bila dibandingkan, tidak sesulit dan sesakit bangsaVietnam). Semua itu adalah jasa para pelopor pergerakan nasional kita, teristimewa berkat persatuan dan cita-citaTritunggal Sukarno-Hatta-SJahrir. Para pemuda sebagai harapan bangsa jangan sekali-kali melupakan itu. Perjuangan mencapai muara-bahagia masih jauh namun bagaimana pun sungai tidak mengalir ke hulu untuk sampai lautan Sang Sungai tidak boleh lupa pada sumbernya di Gunung Cita-cita Bangsa. |