**************************************
 LSSPI - Publikasi No.33(1998) 
 lsspi@hotmail.com, lsspi@theoffice.net 
************************************** 
                    *  A.M. HANAFI MENGGUGAT  * 
                           PENDAHULUAN 

BAB I

Berangkat ke Havana, Kuba
"Menyelam' Mutiara di Laut Karibia"

19 Desember 1963. Hari itu, sesudah resmi dilantik oleh Presiden Sukarno menjadi Duta Besar Berkuasa Penuh R.I. untok Republik Kuba di Havana, saya dipersilakan menandatangani Surat Keputusan Pengangkatan di samping tandatangan Presiden Sukarno. Saya juga harus menandatangani surat sumpah jabatan, bersetia kepada Republik Indonesia yang berazas-tujuan Pancasila dan UUD '45. Ternyata kemudian hal ini adalah ironi kehidupan saya yang kedua. Ironi kehidupan saya yang pertama, ialah ketika saya di tahun 1937 berhenti menjadi pegawai pemerintah Belanda di Bengkulu, karena memilih jalan hidup berjuang bersama dengan Bung Karno yang ketika itu dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda ke Bengkulu. 

Siapa kira, sopo nyono, hari itu saya telah melangkahkan kaki untuk menempuh jalan perjuangan untuk bangsa dan tanah airku melalui masa pembuangan di luar negeri yang hanya Tuhanlah mengetahui kapan berakhirnya. (Baris-baris ini saya tulis pada 25 Juni 1997 di Paris). Hanya Tuhan Allah yang Maha TaLu, bahwa saya sekeluarga didampingi istri Sukendah, yang sejak hidup bersama di tahun 1943, pada hari itu telah menandatangani "kontrak perjuangan" yang baru, yang begitu panjang dan memilukan hati, hingga terbuang di luar negeri. Semua peserta Konferensi P.B. PARTINDO dari seluruh daerah dan semna peserta Musyawarah Besar Angkatan 45 yang sedang berlangsung diJakarta berbesar hati dan bangga melepaskan keberangkatan saya sekeluarga pergi ke Kuba. Mereka mengira hanya untuk beberapa tahun saja berpisah dengan saya sekeluarga, yang kemudian tentulah akan kembali lagi ke tanah air untuk meneruskan perjuangan bersama-sama lagi, perjuangan untak mencapai cita- cita Pancasila yang belum selesai. Banyak di antara mereka itu sekarang ini sudah tak ada lagi, berpulang ke Rahmatullah. 

Beberapa hari sebelum berangkat, Sukendah membuat Surat Kuasa kepada pamannya, Pak Umar, untuk mengawasi tanah warisan pekarangan di KarangAnyar JawaTengah) yang diperolehnya sebagai ahli waris dari kakeknya Raden Ibrahim Marsudi Suryokusumo, yakni saudara dari R.T. Tirtokusumo, Bupati Karang Anyar yang terakhir. Beliau ini adalah Ketua P.B. Budi Utomo yang pertama, di tahun 1908. Kakek atau Eyang I. Marsudi Suryokusumo kemudian di tahun-tahun 1930an dikenal menjabat Kepala Stasian KeretaApi di Cikampek, dan sampai masa pensinnnya tinggal di Cikampek. Puteri Eyang Marsudi Suryokusumo yang bernama Sulbiah adalah ibu dari istriku, ayah istriku bernama Raden Dasar Sosrosoeseno, yang menurut legenda-legenda keluarga berasal dari keturunan Panembahan Seda Ing Krapyak, putra dari Senopati Ingalogo, Raja ke-II dari Kerajaan Mataram I. 

Konfirmasi tentang legenda asal keturunan keluarga tersebut saya terima dari Bapak Sudarisman Purwokusumo,WalikotaYogyakarta Hadiningrat (alm.) ketika kami bersama-sama menghadiri Sidang MPRS di Bandung. Ketika itu MPRS menetapkan Bung Karno sebagai Presiden R.I. seumur hidup. 

Dari pihak saya sendiri, saya meninggalkan pesan kepada ponakanda Sjamsudin, alias SamYaw Sin, untuk mengawasi rumah milik keluarga saya di Jalan Madura No. 5, dan kepada saudara Baharudin, Sekretaris Pribadi (ketika saya menjabat Menteri PETERA) untuk mengawasi dan memelihara tanah pekarangan serta bungalow kami di Cilember yang terletak di pinggir Kali Ciliwung. Berangkatlah saya sekeluarga ke Pulau Kuba, untuk "Menyelami Mutiara di Lautan Karibia". Di dalam EnsiLlopedia Indonesia, Pulau Kuba disebut sebagai "Mutiara Antilla", artinya mutiara di lautan Karibia. Rakyat Kuba sendiri bangga sekali akan pulaunya dan menyebutnya "la perla de la Caribia", mutiara Karibia. 

Saya dan Sukendah, dikaruniai Tuhan lima orang anak: dua laki- laki dan tiga perempuan. Masing-masing menyandang nama yang menandai satu tonggak hidup perjuangan saya suami-istri. 

Yang pertama: Dias Hanggayndha. Lahir di Jakarta pada tahun 1943.Tekad perang merebut kemerdekaan. 

Yang kedua: Endang Tedja Nurdjaya. Lahir di Jakarta pada tahun 1945. Pujaan pada Nur Illahi atas kemenangan perjuangan kemerdekaan bangsa, 

Yang ketiga: Aditio Bambang Mataram. Lahir di Yogyakarta pada tahun 1947. Persamadhianku pada arwah-arwah pahlawan Kerajaan Mataram, memohon restunya untuk revolusi kemerdekaan Nasional bangsa Indonesia. 

Yang keempat: Chandra Leka Damayanti. Lahir diYogyakarta pada tahun 1949. Lahirnya di bawah sinar bulan taram-temaram. Ketika itu saya tertangkap oleh tentara pendudukan Belanda bersama banyak tokoh-tokoh revolusi lainnya, baik dari TNI mau pun dari partai- partai politik. Itulah simbol tantangan hatiku yang tak kenal damai terhadap kaum kolonial. Damayanti meninggal di Paris, 19 No- vember 1988. Marmer putih dalam hatiku hancur berderai, aku simpul-simpulkan dalam tanganku sampai kini. 

Yang kelima: Nina Mutianusica. Karena terpikat oleh penamaan Kuba sebagai "la perla de la Carabia" yang cantik menarik itu, maka ketika istriku Sukendah melahirkan anaknya yang kelima seorang perempuan di Havana, ku berikan nama pada anakku itu Nina Mutianusica, artinya Nina Mutiara dari Nusantara dan Caribia. Nina berarti anak perempuan di dalam bahasa Spanyol, atau Upi' dalam bahasa Bengkulu. 

Ketika Christopher Columbus, si penjelajah lautan, dalam pelayarannya pertama pada tahun 1492 mencari kepulauan rempah- rempah (Indonesia) yang mulai terkenal mahalnya di kalangan pedagang di Eropa, ia rupanya telah salah arah. Ia menemukan pulau Kuba dan Haiti. Dalam pelayarannya yang ketiga, barulah ia bisa sampai ke benua Amerika. 

Columbus, kelahiran Genoa (Italia) itu, mendapat bantuan dari Kerajaan Spanyol berupa beberapa kapal layar untuk melaksanakan cita-cita petualangannya itu, dengan perjanjian bahwa semua hasil penemuan Columbus serta awak kapalnya, akan dibagi dua dengan pihak Kerajaan Spanyol. 

Di masa Columbus, penduduk asli Kuba adalah bangsa Indian, seperti penduduk asli di benua Amerika. Amerika adalah benua yang ditemukan olehAmerigoVespucci di tahun 1501,yaitu sebelum Columbus mendarat di sana pada pelayarannya yang ketiga. Itulah sebabnya, maka benua baru tersebut dinamakan America sampai sekarang. 

Oleh karena tanahnya subur dan iklimnya tropis, cocok buat pertanian, terutama kapas, tebu dan lain-lain; maka bangsa Indian itu dihabisi dan tanah-tanahnya dirampas dengan kekerasan oleh kaum"usurpator" (perampas), terutama bangsa Spanyol. Orang-orang Spanyol kemudian membutuhkan tenaga-tenaga kerja budak yang mereka ambil atau curi secara paksa dari Afrika. Masa itu adalah masa perbudakan yang membikin kaya-raya pedagang-pedagang Eropa. 

Penduduk asli, bangsa Indian, di Haiti, Kuba, di Amerika dihabisi secara kejam, lalu diganti dengan bangsa kulit-hitam dari Afrika sebagai budak untuk dipekerjakan seperti binatang di peladangan kapas dan tebu, serta melakokan segala pekerjaan yang hina buat bangsa kulit putih, yang katanya beragama dan berbudaya. Itulah riwayat singkat mengapa penduduk Kuba multi-rasial, terdiri dari bangsa asal kulit-putih dan yang terbanyak berkulit- hitam, bangsa yang dalam perkembangan sejarah perjuangannya untuk membebaskan diri dari penjajahan Spanyol telah bersatu- padu menjadi satu Bangsa Kuba yang mendirikan negaranya, Republik Kuba (La Republica de Cuba). 

Kemerdekaan politik bangsa Kuba pada permulaannya masih bersifat semi-kolonial, kemerdekaan dari bangsa Spanyol dan dari bangsa Amerika. Barulah kemudian mereka sampai pada Republik Kuba pada tahun 1952.Yang naik ke tahta kekoasaan adalah seorang sersan tentara yang kemudian menjadi kolonel, menjadi Presiden sekaligus Diktator, Fulgencia Batista y Zaldivar. 

Kekejaman demi kekejaman, korupsi demi korupsi, kolusi demi kolusi untuk menghisap kekayaan dan keringat kaum tani dan pekerja Kuba oleh kaum kolonial Spanyol, begitu pula kaum pengusaha Amerika itu, dengan sendirinya melahirkan perlawanan rakyat terus- menerus sepanjang masa.Walaupun perlawanan rakyat, yang hanya bersenjatakan machete (golok atau parang untuk menebang tebu) berkali-kali terus-menerus mengalami kekalahan, namun keknatan- kekuatan perlawanan rakyat itu "patah tumbuh hilang berganti", "mati satu tumbuh seribu". Bermunculanlah bintang-bintang pahlawan di lagit lazuardi perjuangan rakyat Kuba, seperti di antara lainnya, Jendral Gomez yang menghidupkan dan menyalakan kampanye untuk menyerang LasVillas untuk mendorong Revolusi sampai ke kota Havana. Ketika itu Kuba masih dijajah Spanyol. Tanggal 10 Februari 1874,Tentara Pemberontak rakyat Kuba dengan kekuatan 500 orang telah berhasil menghancurkan 2.000 orang pasukan artileri veteran Spanyol. 

Itu merupakan kemenangan gilang-gemilang. Manuver-manover dilakukan di bawah pimpinanJendral Gomez, tetapi gerakan serbuan terhebat yang begitu bersemangat dilakukan di bawah pimpinan Jendral Antonio Maceo, seorang jendral berkulit-hitam dari rakyat Kuba. Serbuan itu telah membuat kemenangan tersebut menjadi betul-betul gilang-gemilang. 

Kemenangan lainnya terjadi di dalam bulan Februari itu juga, yaitu di dalam pertempuran Las Guasimas melawan serdadu Spanyol yangjumlahnyajauh lebih besar.Jendral Gomez mengkombinasikan taktik dan strateginya dengan keahlian tempur Jendral Antonio Maceo. Dengan kekuatan yang terdiri hanya dari 200 pasukan kuda dan 50 pasukan infanteri, Maceo dan Gomez dapat menggempur pasukan serdadu Spanyol sebanyak 2.000 orang, terdiri dari pasukan kuda, infanteri dan artileri yang dikirim dari daerah Camaguey. Kemudian dibanjirkan lagi 6.000 serdadu dengan enam buah senjata artileri, akan tetapi menghadapi gempuran terus-menerus dari Jendral Antonio Maceo, Spanyol kehilangan 1.037 serdadu mati dan luka-luka, sedangkan Tentara Pemberontak kehilangan 174 orang.Jendral Maceo yatlg secara hngsung mempimpin pertempuran di barisan paling depan itu, pada akhir pertempuran mengalami luka-luka. 

Jendral Antonio Maceo yang sangat populer dan yang terkenal dijuluki The Bronze Titan atau "Jendral Baja Hitam", sampai sekarang patunguya tampak di jalan Malecon yang terkenal, dengan wajah menghadap ke teluk Havana mengarah ke Amerika. Sebuah lagi patungnya yang saya lihat, berada di lapangan latihan Tentara Revolusioner Kuba, agak di luar kota Havana. Di tanah lapangan itulah semula tadinya saya merencanakan untuk merayakan Hari Ulang Tahun ABRI kita, tanggal 5 Oktober 1965, sebagaimana telah saya bicarakan dan disetujui oleh Panglima Achmad Yani. Sebab itulah beliau mengusulkan kepada Panglima Tertinggi Bung Karno agar saya diangkat menjadi MayorJendral Kehormatan T.N.I.. Amanat Sang Pahlawan A.Yani itu dilaksanakan oleh Presiden/ Panglima Tertinggi Bung Karno yang upacara seremonialnya dilaksanakan oleh Menpangad Letjen Soeharto di MBAD pada tanggal 22 Februari 1966. 

Banyak buku ditulis oleh penulis asing mau pun ahli sejarah Kuba sendiri tentang Kuba, ada baiknya dibaca untok lebih mengenal Kuba walaupun tidak langsung berkunjung ke negerinya. Dan khu- susnya mengenai sejarah Revolusi Kuba, buku pledooi Fidel Castro "La Historia Me Absolvera" ("Sejarah akan Membebaskan Saya") adalah amat penting yang dia tulis ketika ditahan di penjara di pulau Pinal de Rio, bersama-sama dengan Juan Almeida dan pemuda- pemuda revolusioner lainnya, setelah mereka gagal menyerbu El Quartel Moncada (gudang senjata serdadu diktator Batista). Sejarah perjuangan Revolusi Kuba di zaman kapitalisme mo- dern bertolak dari zaman diktator Batista, setelah ia naik rmenjadi Presiden di tahun 1952. Penindasan terhadap pemuda-pemudi dan mahasiswa yang bergerak menentangnya disebabkan karena korupsi dan penghisapan terhadap kaum buruh dan kaum tani, dan perse- ngkolannya dengan kaum pengusaha asing, terutama Amerika di bidang produksi dan penanaman tebu, tembakau, boah-buahan dan sebagainya, termasuk urusan ekspor-impor menghidupi terus api perlawanan. 

Bulan September 1953 gelombang gerakan revolusioner naik memuncak. Beberapa pabrik gula di Oriente dan di LasVillas didu- duki dan dikuasai oleh kaum buruh yang terus bekerja memproduLsi, tetapi juga membagi-bagikan tanah kepada kaum tani di daerah yang bersangkutan. Inisiatif untok memulai perjuangan bersenjata dimulai dengan tindakan yang betul-betul bersojarah, yaitu penyerbuan gudang senjata yang terkenal, El Quartel Moncada, pada tanggal 26 Juli 1953 oleh satu grup pemuda revolusioner di bawah pimpinan Komandan Fidel Castro. Itu berarti hanya se-tahun sesudah Batista berkuasa. Hari itu setiap tahun diperingati kembali, bukan saja karena penting arti sejarahnya, tapi juga untuk mengenang korban-korban yang tewas dalam pernyerbuan bersenjata itu. Kalau Republik Indonesia memperingati Hari Pahlawan 10 November 1945, Republik Kuba memperingati Penyerbnan Benteng Moncada, 26 Juli 1953. Ada persamaannya, tapi juga ada perbedaannya. Kalau di Kuba tradisi kepahlawanan itu dipelihara dan dibesarkan baik-baik, di Indonesia tokoh-tokoh pemuda pemimpin pertempuran bersejarah 10 November di Surabaya itu diterlantarkan, bahkan di dalam Peristiwa Provokasi Madiun mereka itu dihabisi; seperti'Sidik Arselan dan Kolonel Dahlan, sedang Sumarsono, ketua BKPRI diuber-uber, serta banyak lagi lainnya yang tak dapat disebutkan semua nama-namanya. Ada juga seorang yang kita kenal sebagai "singa podium" BungTomo yang menerima penghargaan. Jangan tidak! Padahal kehebatan pertempuran arek- arek Suroboyo itu jauh lebih hebat dan gegap-gempita daripada penyerbuan pemuda revolusioner Kuba atas El Quartel Moncada. Sebuah tanda kegagahan pemuda dalam Pertempuran 10 Novem- ber sekarang masih ada (saya kira), yaitu Tugu Pemuda di Surabaya dan makamnya Brigadir Jendral Mallaby dari Tentara Inggris di Menteng Pulo,Jakarta. 

Ya, Revolusi 17 Agustus 1945 memang adalah revolusi terbesar di masa penutupan Perang Dunia ke-II. Itu tidak ada yang akan membantah. 100 juta rakyat marhaen dibebaskan dari penghisapan dan penjajahan Belanda selama tiga setengah abad, dibebaskan dengan revolusi bersenjata yang dipelopori oleh sebelas pemuda radikal Komite van Aksi dari MENTENG 31 di bawah pimpinan Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno. Bagaimana pun juga kita tidak boleh memandang Revolusi Kuba lebih hebat dan besar dari Revolusi Angkatan 45 untuk menegakkan Republik Indonesia. Kita pun tidak boleh punya kompleks melihat Revolusi Rusia dan RevolusiTiongkok yang dalam sejarah lebih hebat dan lebih gempita dari Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Bangsa Indonesia yang oleh bangsa Belanda selama tiga setengah abad dijadikan bangsa kuli, tidak pernah kenal dan dengar dentaman palu-baja di pabrik dan industri, hanya kerbau-kerbau yang plonga-plongo, dan orang di Bengkulu tidak tahu bahwa itu orangJawa ada insinyurnya, seperti Ir. Sukarno. Inilah hasil pendidikan kolonial Belanda yang provinsialistik. 

Seperti telah diperingatkan oleh Bung Karno :"Meskipun tujuan Revolution of Mankind akan mendatangkan dunia baru untuk memberi hidup bahagia pada semua umat manusia, satu dunia baru tanpa l'exploitation de l'homme par l'homme, tanpa l'exploitation de la nation par la nation, namun tiap-tiap revolusi mempunyai identitas sendiri-sendiri dan sebagai bangsa sebenarnya masing-masing mempunyai kepribadian masing-masing", demikianlah ucap Bung Karno ketika saya dilantik menjadi Duta Besar. 

Basis Revolusi Kuba dengan Revolusi Indonesia berbeda sekali. Begitu juga berbeda sekali dengan Revolusi Rusia di permulaan abad ke-XIX,juga berbeda pula dengan RevolusiTiongkok di bawah Mao Ze Dong yang meningLatkan Revolusi Kuo MinTang di bawah pimpinan SunYat Sen yang terbengkalai. 

Revolusi Kuba ialah revolusi rakyat budak ditempa oleh sejarah perjuangan bersenjata terus-menerus merebut kemerdekaannya untak memberi hidup bahagia pada rakyat Kuba tanpa rasialisme, tanpa l'exploitation de l'homme par l'homme, tanpa l'exploitation de la nation par la nation, segalanya bersendikan faktor situasi dan geografinya sendiri.Jose Marti merupakan Leitstamya, bintang yang memberikan petunjuk jalan seperti Sukarno di Indonesia. 

Renungkanlah lagi: apa dan bagaimana basis Revolusi kita tanpa melupakan faktor situasi dan letak geografi tanah air kita sendiri dengan rakyat jajahan yang tidak homogen, tergantung tak bertali antara sisa-sisa feodalisme purba dan kolonialisme Belanda. Berun- tung sekali bangsa Indonesia yang mempunyai pelopor revolusi yang radikal, tangkas dan berani merebut momentum situasi, memutuskan rantai belenggu penjajahan itu pada mata rantai yang terlemah. Dengan prakarsa para pemuda radikal yang memaksa Sukarno-Hatta menggunakan momentum itu untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa pada 17 Agustus 1945. "Lang leve de avangardisten der revolutie, die de kastanjes uit het vunr durft te halen", (dirgahayu para perintis revolusi, yang telah berani menangani tugas-tugas berbahaya), saya pinjam ungkapan Belanda ini untok men1besarkan hatiku sendiri, sisa terakhir dari sebelas pemuda revolusioner proklamasi yang masih diberi sukma oleh Tuhan sampai ke saat ini. 

Alhamdulillahi!

Kalau sebagai ritme musik, Revolusi Kuba itu, ibaratnya dari pianosimo meningLat ke crescendo, bermula dengan perabu mo- tor kecil bernama Granma, di bawah pimpinan Fidel Castro didampingi oleh adiknya Raul Castro dan Che Guevara serta Camillo Cienfuegos yang dimuat padat dengan 87 orang, dan yang pada tanggal 2 Desember 1956 mendarat di pantai Las Colorados di Oriente Kuba, dari Meksiko. Periode ini dapat dicatat sebagai puncak semangat dan keperwiraan revolusi Kuba. Begitu perahu mendarat, mereka langsung bertempur melawan serdadu bayaran Batista, sehingga dari 87 orang tersebut hanya 12 orang saja yang bisa berhasil mencapai puncak Pico Turquino, yaitu puncak pegunungan Sierra Maestra. Dan dari tempat itulah diresmikan terbentuknya Tentara Revolusioner Kuba yang bernama El Ejercito Rebelde.Tiga tahun peperangan gerilya dan perang fFontal telah menghancurkan tentara Batista, akhirnya sampailah mereka ke ibu kota Havana persis pada tanggal 1 Januari 1959. Sayangnya, Batista tidak bisa tertangkap, karena sudah lari terbirit-birit pada parak siang di hari itu juga. Dengan demikian, tuntaslah "La Historia MeAbsolvera" ditempa oleh Fidel Castro, Raul Castro, Camilo Cienfuegos dan Che Guevara. 

Jadilah mereka idola pemuda revolusioner sedunia, teristimewa Ch‚. Saya minta pemuda revolusioner Indonesia jangan iri dan bersedih-hati. Jalan revolusi kita lain dari jalannya revolusi Kuba. Kita punya identitas revolusi kita sendiri, Kuba punya identitasnya sendiri. Ingatlah akan pelajaran "Peristiwa Tiga Daerah". Itu sebenarnya adalah suatu universitas,sekolah tinggi revolusiAngkatan 45 bangsa Indonesia. Selamilah mutiaranya di dalam lautan pengalaman PeristiwaTiga Daerah itu.Ambillah kesimpulan secara teliti dan secermatnya. Cita-cita sosialisme Indonesia kita sudah terbukti tidak boleh dicapai dengan melompati kepala-kepalanya orang kaum marhacn bangsa Indonesia. Oleh karena nilai-nilai watak rakyat kita yang menjadi basis revolusi itu masih seperti tergantung tidak bertali antara sisa-sisa feodalisme purba dan kolonialisme Belanda. Pertama, karena tidak adanya partai pelopor persatuan nasional, seperti yang dengan tepat sekali diinginkan oleh Bung Karno, dan yang ia umumkan di sekitar hari-hari Proklamasi. Kedua, tidak adanya Tentara Nasional yang revolusioner. Kebijakan dan penerapan Re-Ra (singkatan Rekonstruksi dan Rasionalisasi) atas laskar-laskar dan tentara kita di tahun 1947-48 dabulu salah aplikasinya.Tidak ada gunanya lagi tunjuk hidung siapa yang salah. 

Yang penting sekarang, demi Pancasila sebagai dasar dan tujuan negara, bangsa Indonesia harus punya partai pelopor nasional dan tentara nasional revolusioner, harus bangun pemuda angkatan baru, seperti Pemuda Menteng 31, para avangarde.Artinya tidak bisa lain ialah partai politik yang berazaskan Pancasila itu sendirilah yang harus menjadi pelopor bagi kepentingan rakyat dan Negara Republik Indonesia. Kalau tidak? Kalau tidak, I'histoire se répète (sejarah berulang), tapi dalam bentuk bencana yang lebih ekstrem daripada "Peristiwa Tiga Daerah" dan "Peristiwa Madiun" atau juga lebih kejam meledaknya dari revolusi Prancis 1789,atau sepertigenocidenya Pol Pot di Kamboja yang menghancurkan semua nilai-nilai perikernanusiaan dan semua agama manusia di dunia. Di atas kuburan Nasakom harus dibangun persatuan atau Front Persatuan Nasional Nasasos yang sungguh-sungguh menjunjung ideologi negara dan bangsa: Pancasila. Bukan salahnya marxisme, tapi aplikasinya, subyektivisme pelakunya yang dogmatik. Marxisme bukan monopoli PKI! 

Dan dari tempat pembuanganku di Paris, jauh dari tanah airku yartg tercinta, saya berseru kepada semua kawan-kawan seper- juanganku Angkatan 45, tanpa pilih, apakah yang pernah di sebelah kiri atau di sebelah kanan jalan perjuangan demi Ibu Pertiwi, saya serokan pandangilah wajah seorang wanita ideal, di dalam khayalku: Henriette Roland Holst, seorang wanita yang berasal-keturunan Yahudi yang menjunj-ng rasa cinta perikeman-siaan setinggi- tingginya. Ia berseru: "Het mensenlot is in de mensenhand gegeven, en wij voelen dat zij waarheid spreekt. Degroei naar het socialisme volstrekt zich niet noodzakelijk als de groei van een dier of een plant. Die groei vereist helder inzicht in de taken en de middelen tot verwezenlijking, vaste wil en wijsheid, zelfbeheersing- en zelfverloochening.... Zich allerlei opofferingen gctroosten terwille van de algemeene zaak; met zorgvuldige hand uitgaan tot zaaien, wetende dat anderen zallen oogsten; daar komt het op aan. Wij zeggen niet als de Russische bolschewisten: Wij zijn mest op de velden der toekomst..... O, neen, menselijke wezens zijn nimmer enkel mest. Wij willen de dragers des toekomst zijn, de steenen aandragen to haar bouw, haar fundamenten leggen. Wij zijn akkers, in ons ontkiemt het zaad". ("Nasib manusia terletak dalam tangan manusia sendiri, dan kita merasa, bahwa suara itu benar. Pertumbuhan ke arah sosialisme tidak berlaku seperti pertumbuhan hewan atau tanaman. Pertumbahan ke arah sosialisme meminta pengetahuan yang jernih tentang tugas- tugas dan cara-cara melaksanakannya, kemaaan yang keras dan kearifan, pengekangan-diri dan pengorbanan kepentingan diri sendiri ... 

Kerelaan berbagai pengorbanan demi tujuan bersama, dengan cermat menebar benih, meski mengetabui bahwa orang lainlah yang akan memetik buahnya; itulah yang terpenting. Kita tidak berkata seperti kaum Bolshevik Rusia: Kita adalah pupuk di ladang-ladang masa depan. 

O, tidak, makhluk manusia bukan hanya pupok belaka. Kita ingin menjadi pengemban masa depan, yang menghela batu-batu demi pembangunan masa depan itu, memasangkannya menjadi fondamen. Kitalah ladangaya, dalam haribaan kitalah benih bersemi.") Lihat 'Bung Karno: Kepada Bangsaku'. 

Saya seorang"perasa" sejak umurku muda, karena menjunjung rasa cinta kepada bangsaku setinggi rasa cintaku pada ibuku yang sudah kembali ke pangkuan Bunda Bumi, meninggalkan aku ketika baru berumur 10 tahun. Kehilanganku akan nafas cinta-kasihnya, hanya bisa kutemukan kembali dalam cintaku pada bangsa dan tanah airku. Kepada enam jendral dan satu juta yang jadi korban-khianat Soeharto, ku tebarkan benih-benih cintaku, karena ku turut merasa kehilangan! 

Pembaca yang terhormat, sekian saja buat sementara sebagai oleh-oleh hasil usahaku "Menyelami Mutiara di Laut Karibia", yang saya gosok dengan tangan pengalaman dan pikiran, sekadar persembahan kepada bangsaku. 


www:munindo.brd.de